Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno
Di sisi lain, Farhan juga membantah anggapan bahwa komunikasi dirinya dengan Erwin tidak berjalan baik. Ia memang mengakui tidak memiliki agenda rutin untuk bertemu setiap hari dengan wakil wali kota. Namun komunikasi tetap dilakukan ketika terdapat persoalan yang harus dibahas bersama.
"Saya tidak rutin. Saya memantau saja. Kalau memang ada sesuatu yang sangat rumit, baru kami berkomunikasi melalui telepon. Jadi, komunikasi atau pertemuan terjalin ketika memang ada hal yang harus dibahas," kata dia.
Ketika ditanya apakah hubungan mereka saat ini baik-baik saja, jawaban Farhan terdengar tegas.
"Aman. Tidak ada masalah. Kami masih satu tim dan akan tetap bersama sampai akhir masa jabatan. Saya juga tidak boleh mengajukan mosi kepada Menteri Dalam Negeri untuk meminta wakil saya diberhentikan. Tapi buat apa, kalau ada masalah apa pun, mari kita selesaikan bersama," ujar Farhan.
Jawaban serupa kembali ia sampaikan ketika ditanya apakah duet Farhan-Erwin akan bertahan hingga akhir masa jabatan.
"Masih. Kami tidak boleh membubarkan diri begitu saja. Kalau ada persoalan, mari kita selesaikan bersama," lanjutnya.
Menjelang dua tahun masa kepemimpinan mereka, Farhan tampaknya tidak menampik bahwa dirinya dan Erwin memang memulai perjalanan dari jalur politik yang berbeda. Ia bahkan secara terbuka menyebutnya sebagai "kawin paksa".
Namun dari seluruh penjelasan yang disampaikan, satu hal yang terus ia tekankan adalah bahwa proses politik yang mempertemukan mereka tidak boleh berubah menjadi persoalan yang mengganggu jalannya pemerintahan.
Sebab bagi Farhan, tantangan yang dihadapi Kota Bandung hari ini jauh lebih besar dibandingkan perdebatan mengenai hubungan antara wali kota dan wakil wali kota. Persoalan tata kelola pemerintahan, kondisi fiskal daerah, pemulihan ekonomi, hingga sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah kota, menurutnya, membutuhkan satu hal yang sama: pemerintahan yang tetap bekerja dalam satu arah.