Mitigasi Longsor KBU, Damkar Bandung Siagakan Tim dan Alat Berat

Kesiapsiagaan dan respons cepat di wilayah rawan
Kepala Disdamkarmat Kota Bandung, Soni Bakhtiar, menegaskan pentingnya kesiapan personel dalam menghadapi potensi bencana di KBU.
Pasukan Disdamkarmat dituntut sigap secara fisik dan mental untuk menghadapi berbagai skenario darurat.
Bandung, IDN Times - Kawasan Bandung Utara (KBU) kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung. Wilayah dengan kontur perbukitan ini dinilai memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, terutama saat intensitas hujan meningkat. Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bandung menegaskan komitmennya untuk menjaga keselamatan warga melalui kesiapsiagaan penuh.
Langkah ini sejalan dengan arahan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana di kawasan rawan.
1. Kesiapsiagaan dan respons cepat di wilayah rawan

Kepala Disdamkarmat Kota Bandung, Soni Bakhtiar, menyebut kesiapan personel menjadi faktor krusial dalam menghadapi potensi bencana di KBU, mulai dari banjir hingga longsor.
Menurutnya, pasukan Disdamkarmat tidak hanya dituntut sigap secara fisik, tetapi juga siap secara mental untuk menghadapi berbagai skenario darurat.
“Yang kita tanamkan ke pasukan adalah kesiapsiagaan. Mereka harus selalu siaga ketika terjadi bencana. Seluruh personel dan peralatan harus bisa langsung digerakkan,” ujar Soni, Sabtu (31/1/2026).
Dengan kesiapsiagaan ini, Disdamkarmat berharap waktu respons dapat ditekan sehingga risiko korban jiwa bisa diminimalkan.
2. Peralatan disesuaikan dengan karakter ancaman di KBU

Selain sumber daya manusia, kesiapan peralatan menjadi fokus utama. Disdamkarmat menyiapkan sarana pendukung yang disesuaikan dengan karakter bencana di tiap wilayah, termasuk di kawasan Bandung Utara.
Salah satu alat vital yang disiagakan adalah pompa air bertekanan tinggi. Peralatan ini dinilai fleksibel karena dapat digunakan untuk menangani banjir sekaligus membantu proses evakuasi saat longsor.
“Pompa bertekanan tinggi ini bukan hanya untuk banjir. Saat longsor dan ada korban tertimbun material, pompa juga bisa digunakan dalam proses penyelamatan,” jelas Soni.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa mitigasi bencana tidak hanya soal pencegahan, tetapi juga kesiapan menghadapi kondisi terburuk di lapangan.
3. Penyelamatan manusia dan hewan jadi prioritas

Dalam setiap operasi kebencanaan, Disdamkarmat Bandung menegaskan pendekatan penyelamatan yang menyeluruh dan humanis. Tidak hanya manusia, hewan yang terdampak bencana juga menjadi perhatian tim rescue.
“Tim rescue kita siap untuk evakuasi korban manusia maupun hewan. Prinsipnya, setiap makhluk hidup yang terdampak bencana harus kita upayakan penyelamatannya,” kata Soni.
Untuk mendukung hal tersebut, Disdamkarmat berkoordinasi dengan BPBD Kota Bandung yang telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana. Peta ini menjadi acuan dalam penempatan personel dan penyusunan strategi siaga.
“Pemetaan rawan bencana dari BPBD sangat membantu kami menyesuaikan kesiapan pasukan sesuai potensi ancaman di tiap wilayah,” tuturnya.
Dengan kesiapsiagaan personel, dukungan peralatan, serta pendekatan penyelamatan yang humanis, Disdamkarmat Kota Bandung berharap masyarakat, khususnya di kawasan Bandung Utara, dapat merasa lebih aman menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.



















