Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gempa Flores M7,7, Pakar ITB Ingatkan Ancaman di Balik Gempa Susulan
Gempa M 7,7 NTT (BNPB)
  • Gempa M7,7 di laut timur laut Nagekeo, Flores, berkedalaman 10–15 kilometer; peringatan tsunami telah diakhiri setelah pemantauan tidak menemukan kenaikan muka laut berbahaya.
  • Pakar ITB menilai lokasi dan mekanisme gempa mirip Flores 1992, namun mengingatkan risiko gempa susulan di atas M6 serta pentingnya mengikuti informasi resmi BMKG.
  • Guncangan dangkal dekat permukiman berpotensi merusak; bangunan retak perlu diperiksa sebelum ditempati, dengan sekolah, fasilitas kesehatan, dan gedung pemerintahan menjadi perhatian utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gempa besar 7,7 mengguncang Flores, NTT, dekat Nagekeo. Peringatan tsunami sudah selesai karena air laut tidak naik berbahaya. Pak Irwan dari ITB bilang orang-orang tetap harus hati-hati karena bisa ada gempa susulan. Rumah, sekolah, dan rumah sakit yang retak jangan dipakai dulu sebelum dibilang aman. Warga diminta dengar kabar resmi dari BMKG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Berakhirnya peringatan dini tsunami setelah pemantauan tidak menemukan kenaikan muka laut yang membahayakan memberi ruang lega bagi warga Flores. Di saat yang sama, penjelasan ahli mengenai gempa susulan, kondisi bangunan, dan perlindungan fasilitas strategis memperlihatkan pentingnya kewaspadaan yang berbasis informasi resmi serta penilaian keselamatan yang lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) menyisakan kewaspadaan meski peringatan dini tsunami telah diakhiri. Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo itu memiliki kedalaman relatif dangkal, sekitar 10-15 kilometer.

Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB sekaligus ahli gempa, Prof. Dr. Irwan Meilano, mengingatkan masyarakat tidak hanya memperhatikan potensi tsunami, tetapi juga aktivitas gempa susulan dan kondisi bangunan. Menurut dia, karakteristik gempa kali ini memiliki kemiripan dengan gempa Flores 1992 yang saat itu memicu tsunami besar.

1. Gempa ini mirip dengan gempa Maut 1992

Akses jalan yang tertutup longsor karena gempa Flores. (Dok Istimewa)

Prof. Irwan mengatakan lokasi dan mekanisme Gempa Flores 2026 memiliki kemiripan dengan gempa yang terjadi pada 12 Desember 1992. Jarak kedua sumber gempa tersebut disebut kurang dari 40 kilometer.

Gempa Flores 1992 berkekuatan sekitar M7,9 dan diikuti tsunami yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. BMKG mencatat peristiwa tersebut sebagai salah satu gempa merusak dalam sejarah kawasan Sumbawa-Flores-Alor.

“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujar Irwan melalui siaran pers dikutip IDN Times, Minggu (16/8/2026).

Menurutnya, tsunami besar pada 1992 turut dipengaruhi longsoran bawah laut setelah gempa. Karena itu, meski Gempa Flores kali ini memiliki magnitudo hampir serupa, kondisi bawah laut menjadi salah satu faktor penting yang membedakan dampaknya.

BMKG sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa M7,7 tersebut. Namun, berdasarkan pemantauan muka laut, peringatan tersebut kemudian diakhiri setelah tidak ditemukan kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.

“Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi,” katanya.

2. Jangan lengah gempa susulan di atas M6 masih berisiko

Jalanan terputus menuju Manggarai Timur, Flores, NTT akibat gempa (Dok. Tina T. Kemala Intan)

Selain tsunami, aktivitas gempa susulan menjadi perhatian setelah gempa utama. Prof. Irwan mengatakan gempa besar umumnya memang diikuti sejumlah gempa susulan yang magnitudonya secara bertahap menurun.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti masyarakat bisa langsung mengurangi kewaspadaan. Gempa susulan dengan kekuatan lebih dari magnitudo 6 masih berpotensi menimbulkan kerusakan, terutama pada bangunan yang sebelumnya sudah mengalami pelemahan akibat gempa utama.

“Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti beberapa gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil,” ujarnya.

Irwan juga mengingatkan pengalaman rangkaian gempa Lombok pada 2018. Aktivitas gempa pada kawasan tersebut menunjukkan bahwa segmen yang berdekatan dapat ikut mengalami aktivitas kegempaan.

“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin, tidak kita harapkan, bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan,” katanya.

Wilayah Flores sendiri berada pada kawasan Flores Back Arc atau busur belakang Flores yang dikenal aktif secara tektonik. Catatan BMKG menunjukkan kawasan Sumbawa, Flores hingga Alor memiliki sejarah gempa merusak, termasuk gempa Flores 1992.

Karena itu, masyarakat diminta tetap mengandalkan informasi resmi BMKG dan tidak menyimpulkan bahwa banyaknya gempa susulan otomatis berarti gempa yang lebih besar akan terjadi.

3. Sekolah hingga rumah sakit jadi perhatian utama

Peta wilayah terdampak gempa Flores. (BMKG)

Menurut Irwan, besarnya dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Kedalaman sumber gempa, jarak pusat gempa dengan permukiman, kondisi tanah, hingga kualitas bangunan turut menentukan tingkat kerusakan.

Gempa M7,7 yang relatif dangkal membuat guncangan perlu menjadi perhatian serius, terlebih jika sumber gempa berada dekat dengan kawasan yang dihuni masyarakat. Kondisi tanah tertentu juga dapat memperkuat guncangan melalui proses amplifikasi.

“Gempa ini magnitudonya pun signifikan, M7,7, kemudian kedalamannya dari beberapa sumber sekitar 10 sampai 15 kilometer. Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan pemukiman,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi bangunan menjadi faktor berikutnya yang menentukan apakah guncangan besar akan berubah menjadi kerusakan berat. Karena itu, bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan akibat gempa sebaiknya tidak langsung ditempati sebelum dinyatakan aman.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada fasilitas yang menjadi tumpuan masyarakat saat bencana, seperti sekolah, fasilitas kesehatan dan gedung pemerintahan.

“Kalau kita melihat sekilas lokasi, magnitudonya, kemudian kedalamannya, lokasi dengan kota, kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis,” tutur Irwan.

“Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, selain juga fasilitas pemerintahan,” lanjutnya.

Peringatan tersebut menjadi penting karena fasilitas strategis justru dibutuhkan ketika bencana terjadi. Kerusakan pada sekolah, rumah sakit atau fasilitas pemerintahan dapat menghambat proses evakuasi, pelayanan masyarakat hingga pemulihan pascabencana.

Editorial Team

Related Article