Di balik koleksi Kopi PakPos, ada Fauzie Helmy yang memiliki ketertarikan terhadap benda-benda bersejarah sejak usia muda. Ia memiliki latar belakang sebagai fotografer profesional, visual merchandiser, dan dosen.
Kebiasaannya mengumpulkan benda-benda yang memiliki nilai historis kemudian berkembang menjadi koleksi pribadi dengan jenis yang semakin beragam. Seiring waktu, koleksi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari minatnya, tetapi juga memiliki potensi untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya ingin anak-anak muda mau belajar sejarah,” ujar Fauzie Helmy.
Keinginan tersebut menjadi salah satu alasan untuk menghadirkan benda-benda bersejarah di ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejarah tidak harus selalu diperkenalkan melalui ruang kelas atau museum dengan suasana formal. Kafe pun dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengenal peninggalan masa lalu.
Di Kopi PakPos, pengunjung bisa menikmati minuman sembari melihat koleksi yang dipajang. Sebuah buku lama, kamera, atau perlengkapan kantor dapat memancing rasa ingin tahu tentang siapa yang pernah menggunakannya dan bagaimana benda tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah.
Tempat ini juga menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah. Setiap Selasa malam, sejumlah pengunjung Eropa, termasuk warga Belanda, berkumpul untuk berbagi ketertarikan terhadap jejak sejarah Belanda di Indonesia.
Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan hangat. Bagi sebagian pengunjung dari Eropa, kunjungan ke tempat bersejarah menjadi kesempatan untuk mengenali kembali jejak masa lalu, termasuk peninggalan yang berkaitan dengan leluhur mereka di Indonesia.
Di sisi lain, Kopi PakPos juga terbuka bagi masyarakat lokal, wisatawan, pencinta sejarah, hingga kolektor yang ingin melihat berbagai benda dari masa lampau. Pertemuan orang-orang dengan latar belakang berbeda tersebut menjadikan sejarah sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Pengalaman berkunjung dilengkapi pilihan menu yang memadukan cita rasa Indonesia dan Eropa. Sajian yang akrab di lidah masyarakat Indonesia berpadu dengan sentuhan kuliner Eropa, selaras dengan latar historis bangunan tempat kafe ini berada.
Pada akhirnya, kunjungan ke Kopi PakPos menawarkan lebih dari sekadar kesempatan untuk menikmati secangkir kopi. Di tengah kawasan Titik Nol Kilometer yang ramai, tempat ini memberi ruang bagi pengunjung untuk berhenti sejenak, mengamati benda-benda lama, dan mengenal cerita yang menyertainya.
Sebab, memahami sejarah sebuah kota tidak selalu harus dimulai dari buku tebal. Terkadang, perjalanan itu bisa berawal dari sebuah bangunan tua, selembar arsip, atau benda sederhana yang menyimpan jejak kehidupan pada masa lalu.