Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kopi PakPos, Tempat Ngopi Sambil Belajar Sejarah di Yogyakarta
Dok.Istimewa
  • Kopi PakPos berada di Gedung Pos Lama Yogyakarta, dekat Titik Nol Kilometer, memadukan kafe dengan pengalaman mengenal sejarah komunikasi era Hindia Belanda.
  • Koleksinya meliputi perangko, arsip, peta, mesin tik, kamera, buku Kartini berbahasa Belanda terbitan 1912, Max Havelaar, karung surat, serta loker lama.
  • Penggagas Fauzie Helmy menghadirkan koleksi historis agar anak muda belajar sejarah melalui ruang santai; tempat ini juga menjadi titik temu pencinta sejarah lokal dan Eropa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Gedung Pos Lama Yogyakarta ada kafe bernama Kopi PakPos. Orang bisa minum kopi sambil melihat buku tua, perangko, peta, kamera, dan karung surat. Fauzie Helmy mengumpulkan benda-benda ini supaya anak muda mau belajar sejarah. Sekarang banyak warga dan wisatawan datang ke sana untuk melihat cerita zaman dulu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kopi PakPos menunjukkan bagaimana sejarah dapat dihadirkan secara dekat dan santai melalui ruang sehari-hari. Di dalam bangunan bersejarah, koleksi buku, arsip, perangko, dan perlengkapan lama memberi pengunjung kesempatan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, sambil mempertemukan masyarakat lokal, wisatawan, serta pencinta sejarah dalam suasana hangat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta hampir tak pernah sepi. Wisatawan datang untuk berfoto, berjalan menuju Malioboro, atau menikmati suasana pusat kota. Di tengah keramaian itu, berdiri Kantor Pos Besar Yogyakarta, bangunan bersejarah yang menyimpan cerita tentang perkembangan komunikasi pada masa Hindia Belanda.

Sejarah kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kantor pos. Pada masanya, layanan pos menjadi bagian penting dari komunikasi antardaerah, ketika surat masih menjadi salah satu sarana utama untuk menyampaikan kabar. Sementara itu, kawasan di sekitarnya berkembang menjadi simpul aktivitas kota yang kini dikenal sebagai Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Di dalam Gedung Pos Lama, pengunjung bisa menemukan cara berbeda untuk mengenal jejak masa lalu. Ada Kopi Pak Pos, sebuah kafe yang memadukan pengalaman menikmati kuliner dengan koleksi benda-benda bersejarah.

Pengunjung tak hanya datang untuk minum kopi. Di tempat ini, mereka juga bisa melihat buku-buku lama, perangko, arsip, peta, kamera, hingga perlengkapan yang menyimpan cerita tentang kehidupan pada masa Hindia Belanda.

1. Menelusuri Sejarah Kantor Pos di Kawasan Titik Nol Kilometer

Dok.Istimewa

Kantor Pos Besar Yogyakarta merupakan salah satu bangunan yang menjadi bagian dari sejarah kota. Gedung yang dibangun pada 1912 ini dahulu dikenal sebagai Post, Telegraaf en Telefoonkantoor, yang melayani kebutuhan persuratan, telegraf, dan telepon.

Pada masa ketika komunikasi jarak jauh belum semudah sekarang, kantor pos memiliki peran penting dalam menghubungkan masyarakat dan berbagai wilayah. Surat menjadi sarana untuk menyampaikan kabar pribadi, urusan pekerjaan, hingga kepentingan pemerintahan.

Kantor Pos Besar juga berada di kawasan strategis yang dikelilingi sejumlah bangunan bersejarah. Di sekitarnya terdapat Gedung Agung, Benteng Vredeburg, serta bangunan perbankan yang menjadi bagian dari lanskap pusat Kota Yogyakarta.

Kawasan persimpangan yang kini dikenal sebagai Titik Nol Kilometer berkembang menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi masyarakat dan wisatawan. Aktivitas di kawasan tersebut memperlihatkan bagaimana ruang kota terus berubah, sementara sejumlah bangunan lama tetap bertahan.

Meski kantor pos dan Titik Nol Kilometer berada dalam kawasan yang sama, sejarah keduanya perlu dipahami secara cermat. Kantor pos merekam perkembangan layanan komunikasi, sedangkan Titik Nol Kilometer berkaitan dengan penanda geografis dan perkembangan tata kota. Klaim bahwa titik nol secara khusus bermula dari fungsi kantor pos memerlukan dukungan sumber sejarah yang lebih spesifik.

Jejak masa lalu tidak hanya terlihat dari bangunannya. Di Gedung Pos Lama, pengunjung juga dapat menemukan koleksi benda antik yang menjadi bagian dari pengalaman di Kopi Pak Pos.

2. Buku Kartini hingga Karung Surat ke Belanda

Dok.Istimewa

Memasuki Kopi PakPos, pengunjung akan menemukan beragam benda yang dikumpulkan dan dirawat sebagai koleksi bersejarah. Koleksinya mencakup perangko, buku-buku, arsip lama, peta, mesin tik, kamera, serta benda-benda antik lainnya.

Di antara buku yang menarik perhatian terdapat karya R.A. Kartini terbitan 1912 dalam bahasa Belanda dan Max Havelaar. Kedua buku tersebut menjadi bagian dari koleksi yang mengingatkan pengunjung pada kehidupan intelektual dan sejarah pada masa lampau.

Kaitan dengan sejarah layanan pos juga terlihat melalui keberadaan karung yang disebut pernah digunakan untuk membawa surat ke Belanda. Selain itu, terdapat loker-loker lama yang dahulu mendukung aktivitas perkantoran.

Benda-benda tersebut memperlihatkan sisi lain dari sejarah yang mungkin jarang diperhatikan. Karung surat, misalnya, mengingatkan pada masa ketika pengiriman kabar ke luar negeri membutuhkan proses dan perjalanan panjang. Sementara itu, loker dan peralatan kantor menggambarkan aktivitas administrasi yang pernah berlangsung di lingkungan tersebut.

Detail bangunan turut menjadi bagian dari koleksi yang diperhatikan, termasuk kunci pintu yang disebut didatangkan langsung dari Belanda. Benda-benda semacam ini bukan sekadar pelengkap ruangan, tetapi dapat menjadi petunjuk untuk memahami material, teknologi, dan kebiasaan pada masa lalu.

Selain koleksi yang berkaitan dengan surat-menyurat, terdapat pula benda dan informasi mengenai sejarah perbankan pertama yang berkaitan dengan Hindia Belanda. Kehadirannya memperluas cerita yang ditawarkan tempat ini, dari sejarah komunikasi hingga perkembangan kegiatan ekonomi pada masa kolonial.

Melalui koleksi tersebut, pengunjung bisa melihat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam dokumen atau bangunan besar. Benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari pun dapat membantu menjelaskan bagaimana masyarakat hidup dan bekerja pada zamannya.

3. Fauzie Helmy Ingin Anak Muda Mau Belajar Sejarah

Dok.Istimewa

Di balik koleksi Kopi PakPos, ada Fauzie Helmy yang memiliki ketertarikan terhadap benda-benda bersejarah sejak usia muda. Ia memiliki latar belakang sebagai fotografer profesional, visual merchandiser, dan dosen.

Kebiasaannya mengumpulkan benda-benda yang memiliki nilai historis kemudian berkembang menjadi koleksi pribadi dengan jenis yang semakin beragam. Seiring waktu, koleksi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari minatnya, tetapi juga memiliki potensi untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Saya ingin anak-anak muda mau belajar sejarah,” ujar Fauzie Helmy.

Keinginan tersebut menjadi salah satu alasan untuk menghadirkan benda-benda bersejarah di ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejarah tidak harus selalu diperkenalkan melalui ruang kelas atau museum dengan suasana formal. Kafe pun dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengenal peninggalan masa lalu.

Di Kopi PakPos, pengunjung bisa menikmati minuman sembari melihat koleksi yang dipajang. Sebuah buku lama, kamera, atau perlengkapan kantor dapat memancing rasa ingin tahu tentang siapa yang pernah menggunakannya dan bagaimana benda tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah.

Tempat ini juga menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah. Setiap Selasa malam, sejumlah pengunjung Eropa, termasuk warga Belanda, berkumpul untuk berbagi ketertarikan terhadap jejak sejarah Belanda di Indonesia.

Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan hangat. Bagi sebagian pengunjung dari Eropa, kunjungan ke tempat bersejarah menjadi kesempatan untuk mengenali kembali jejak masa lalu, termasuk peninggalan yang berkaitan dengan leluhur mereka di Indonesia.

Di sisi lain, Kopi PakPos juga terbuka bagi masyarakat lokal, wisatawan, pencinta sejarah, hingga kolektor yang ingin melihat berbagai benda dari masa lampau. Pertemuan orang-orang dengan latar belakang berbeda tersebut menjadikan sejarah sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Pengalaman berkunjung dilengkapi pilihan menu yang memadukan cita rasa Indonesia dan Eropa. Sajian yang akrab di lidah masyarakat Indonesia berpadu dengan sentuhan kuliner Eropa, selaras dengan latar historis bangunan tempat kafe ini berada.

Pada akhirnya, kunjungan ke Kopi PakPos menawarkan lebih dari sekadar kesempatan untuk menikmati secangkir kopi. Di tengah kawasan Titik Nol Kilometer yang ramai, tempat ini memberi ruang bagi pengunjung untuk berhenti sejenak, mengamati benda-benda lama, dan mengenal cerita yang menyertainya.

Sebab, memahami sejarah sebuah kota tidak selalu harus dimulai dari buku tebal. Terkadang, perjalanan itu bisa berawal dari sebuah bangunan tua, selembar arsip, atau benda sederhana yang menyimpan jejak kehidupan pada masa lalu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article