Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Sekadar Restoran, Tempat Makan Ini Gabungkan Seni dan Kuliner

Kota Bandung
Bukan Sekadar Restoran, Tempat Makan Ini Gabungkan Seni dan Kuliner
Sulu in Wo(u)nderland Tempat Makan Baru Ala Jepang di Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Ruang kuliner baru di Rancakendal, Bandung, memadukan seni visual, karakter fiksi, dan eksplorasi ruang, sehingga pengunjung menikmati pengalaman lebih dari sekadar makan.
  • Ramen bar dan matcha bar ditempatkan sepanjang lorong bergaya yokocho Jepang, menjadikan kuliner bagian dari narasi sambil pengunjung menjelajahi berbagai sudut.
  • Seniman Arkiv Vilmansa mengembangkan karakter Sulu menjadi IP berbasis pengalaman fisik, membuka peluang karya kreatif Indonesia meluas ke ruang, interaksi, dan kuliner.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Persaingan bisnis kuliner tak lagi hanya soal rasa makanan. Di Bandung, sejumlah pelaku industri kreatif mulai menawarkan sesuatu yang lebih kompleks: pengalaman. Pengunjung tidak cukup dibuat kenyang, tetapi juga diajak terlibat dalam cerita, menjelajahi ruang, hingga berinteraksi dengan karya yang ada di dalamnya.

Tren tersebut terlihat dari hadirnya sebuah ruang kuliner baru di kawasan Rancakendal yang menggabungkan seni visual, karakter fiksi, dan konsep eksplorasi dalam satu tempat. Berbeda dengan restoran konvensional yang berpusat pada meja makan, ruang ini dirancang layaknya sebuah dunia kecil yang dapat dijelajahi dari satu sudut ke sudut lainnya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana batas antara ruang seni, hiburan, dan kuliner semakin tipis. Restoran tidak lagi sekadar tempat makan, tetapi mulai berkembang menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung.

  1. 1. Pengunjung datang untuk mengalami, bukan sekadar makan

    WhatsApp Image 2026-09-12 at 11.23.07 PM.jpeg
    Sulu in Wo(u)nderland Tempat Makan Baru Ala Jepang di Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Begitu memasuki area, pengunjung tidak langsung diarahkan menuju meja makan. Sebaliknya, mereka diajak menyusuri lorong-lorong kecil yang dipenuhi berbagai elemen visual, karakter, dan detail ruang yang saling terhubung.

    Konsep seperti ini membuat aktivitas makan menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar. Pengunjung dapat berhenti di berbagai titik, mengamati detail tertentu, berfoto, atau sekadar menikmati suasana sebelum melanjutkan eksplorasi ke area berikutnya.

    Di tengah maraknya destinasi kuliner dengan desain estetik, pendekatan tersebut menawarkan sesuatu yang berbeda. Pengalaman berkunjung tidak hanya diukur dari menu yang dicicipi, tetapi juga dari cerita dan kesan yang dibawa pulang setelah meninggalkan tempat tersebut.

  2. 2. Kuliner menjadi medium untuk bercerita

    WhatsApp Image 2026-09-12 at 11.23.09 PM (2).jpeg
    Sulu in Wo(u)nderland Tempat Makan Baru Ala Jepang di Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Salah satu hal menarik dari konsep ini adalah bagaimana makanan ditempatkan sebagai bagian dari narasi, bukan tujuan akhir. Area ramen bar dan matcha bar hadir di sepanjang jalur eksplorasi sehingga pengunjung menemukan kuliner sambil menjelajahi ruang.

    Pendekatan ini berbeda dengan restoran pada umumnya yang menjadikan makanan sebagai pusat pengalaman. Di sini, kuliner justru berfungsi sebagai pintu masuk untuk mengenal karakter, cerita, dan semesta kreatif yang dibangun di dalam ruang tersebut.

    Format lorong yokocho yang terinspirasi dari gang-gang kuliner Jepang dipilih untuk menciptakan suasana yang lebih personal. Setiap sudut menawarkan pengalaman berbeda dan membuat pengunjung terus bergerak, menemukan, lalu melanjutkan perjalanan.

  3. 3. Membuka peluang baru bagi karya kreatif Indonesia

    WhatsApp Image 2026-09-12 at 11.23.08 PM.jpeg
    Sulu in Wo(u)nderland Tempat Makan Baru Ala Jepang di Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Konsep tersebut dikembangkan oleh seniman kontemporer Indonesia Arkiv Vilmansa melalui karakter terbarunya bernama Sulu. Karakter yang sebelumnya hadir dalam bentuk karya visual kini diperluas ke pengalaman fisik yang dapat dirasakan langsung oleh publik.

    Menurut Arkiv, pendekatan ini menjadi cara untuk melihat bagaimana sebuah karakter dapat berkembang melampaui medium seni konvensional.

    "Sulu adalah karakter baru yang ingin saya kembangkan menjadi sebuah IP project dengan kemungkinan pengalaman yang lebih luas. Lewat Sulu, saya ingin melihat sejauh apa karakter ini bisa berkembang dan dibawa ke berbagai bentuk pengalaman, termasuk kuliner," kata Arkiv.

    Langkah tersebut juga menunjukkan peluang baru bagi industri kreatif Indonesia. Intellectual property (IP) tidak lagi berhenti pada karya seni, komik, atau merchandise, tetapi bisa berkembang menjadi pengalaman yang melibatkan ruang, interaksi, dan aktivitas sehari-hari masyarakat.

    "Sulu yang dibuat beberapa tahun lalu, diharapkan bisa merepresentasikan perjalanan karya saya, dari Indonesia ke dunia yang lebih global, serta berkembang menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang, baik secara visual maupun melalui pengalaman yang dibawanya," ujarnya.

    Di tengah berkembangnya ekonomi kreatif, konsep seperti ini memperlihatkan bahwa sebuah tempat makan kini bisa berfungsi lebih dari sekadar ruang bersantap. Ia dapat menjadi medium bercerita, ruang berekspresi, sekaligus cara baru memperkenalkan karya kreatif kepada publik yang lebih luas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More