Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini

Kota Bandung
5 min read
Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini
Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini. (Dok.Istimewa)
  • Toko Kue Mahkota, dirintis Kwee Kee Gie pada 1926 di Ambarawa dan pindah ke Magelang pada 1936, kini memasuki generasi kelima keluarga.
  • Oma Frieda, penerus generasi ketiga berusia 81 tahun, menjaga kualitas dengan resep turun-temurun, tanpa pengawet, serta timbangan manual warisan keluarga untuk mempertahankan konsistensi rasa.
  • Setelah cabang Gading Serpong ditutup pada Januari 2026, Mahkota kembali fokus di Magelang dan mengutamakan keberlangsungan usaha serta kepercayaan pelanggan lintas generasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Di sebuah sudut Kota Magelang, aroma roti yang keluar dari dapur Toko Kue Mahkota masih terasa sama seperti puluhan tahun lalu. Di tengah menjamurnya toko roti modern dan tren kuliner yang terus berubah, usaha keluarga yang dirintis sejak 1926 itu tetap bertahan dengan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Magelang, Mahkota mungkin tidak semegah pusat oleh-oleh modern atau tidak memiliki papan nama besar yang mencolok. Namun di balik kesederhanaannya, toko yang dahulu bernama Bie Sing Hoo itu menyimpan jejak sejarah hampir satu abad dan menjadi salah satu ikon kuliner legendaris yang masih hidup hingga hari ini.

Perjalanan panjang tersebut kini dijaga oleh Farida Sumantio atau Oma Frieda, penerus generasi ketiga keluarga. Di usianya yang menginjak 81 tahun, ia masih aktif mengawasi usaha yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.

Menurut Oma Frieda, bertahannya Mahkota hingga saat ini bukan semata soal bisnis, melainkan tentang menjaga warisan keluarga yang telah dibangun sejak generasi pertama.

"Yang penting usaha tetap berjalan dan kualitas tetap dijaga," ujarnya.

  1. 1. Berawal dari Ambarawa, tumbuh bersama sejarah Magelang

    WhatsApp Image 2026-09-21 at 13.38.22.jpeg
    Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini. (Dok.Istimewa)

    Perjalanan Mahkota dimulai pada 1926 ketika Kwee Kee Gie merintis usaha roti di Ambarawa. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1936, usaha tersebut dipindahkan ke Magelang dan membuka toko di kawasan yang kini menjadi Jalan Ahmad Yani dengan nama Bie Sing Hoo.

    Usaha itu kemudian diteruskan oleh generasi kedua, Kwee Thwan Hie, dan perlahan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Magelang. Selama puluhan tahun, toko tersebut tidak hanya menjual roti, tetapi juga menjadi tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi warga kota.

    Nama Bie Sing Hoo kemudian berubah menjadi Toko Roti Mahkota. Perubahan itu berawal dari keberadaan Salon Queen milik keluarga yang berada tepat di samping toko. Nama "Queen" kemudian diterjemahkan menjadi "Mahkota" dan terus digunakan hingga sekarang.

    Hampir satu abad setelah dirintis, usaha tersebut telah memasuki generasi kelima. Setelah diteruskan oleh Oma Frieda dan putrinya Dewi K. Prodjohartono, kini estafet usaha mulai dipersiapkan kepada Gabriela, generasi termuda keluarga.

    Di tengah banyaknya usaha kuliner yang berhenti di generasi kedua atau ketiga, Mahkota menjadi salah satu contoh bisnis keluarga yang mampu bertahan melintasi zaman.

  2. 2. Menolak pengawet dan tetap memakai timbangan warisan keluarga

    WhatsApp Image 2026-09-21 at 13.38.20.jpeg
    Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini. (Dok.Istimewa)

    Banyak hal berubah dalam dunia kuliner selama hampir 100 tahun terakhir. Namun ada beberapa prinsip yang tetap dipertahankan Mahkota hingga sekarang. Salah satunya adalah komitmen untuk tidak menggunakan bahan pengawet. Akibatnya, roti yang diproduksi hanya memiliki masa jual sekitar dua hari. Produk yang mendekati batas masa jual akan ditarik dan tidak lagi dijual kepada pelanggan.

    Bagi Oma Frieda, kualitas tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar keuntungan yang lebih besar. Dengan gaya khasnya yang penuh humor, ia menjelaskan alasan mengapa sejak dulu keluarganya enggan menggunakan pengawet.

    "Suami saya kan pecinta roti, masa nanti dia saya awetkan?" ujarnya sambil tertawa.

    Prinsip menjaga kualitas juga terlihat dari kebiasaan keluarga yang masih menggunakan timbangan manual warisan generasi sebelumnya. Meski teknologi terus berkembang dan timbangan digital semakin mudah ditemukan, alat lama tersebut tetap digunakan untuk menjaga konsistensi resep yang telah diwariskan turun-temurun.

    Menurut Oma Frieda, konsistensi rasa adalah hal yang membuat pelanggan terus kembali.

    "Kalau kualitas berubah, pelanggan pasti tahu. Mereka datang karena percaya rasanya tetap sama seperti dulu," katanya.

    Beberapa produk yang menjadi ciri khas Mahkota antara lain Roti Mandarin atau Spiku, Roti Pisang, aneka kue kering dalam kemasan toples, hingga es krim potong yang cukup populer di Magelang dengan perpaduan rasa cokelat, vanila, moka, dan aroma rum.

  3. 3. Bertahan lima generasi dengan filosofi "survive dulu"

    WhatsApp Image 2026-09-21 at 13.38.181.jpeg
    Jejak Kuliner Seabad di Magelang, Toko Kue Mahkota Masih Bertahan Kini. (Dok.Istimewa)

    Perjalanan usaha yang hampir menyentuh usia 100 tahun tentu tidak selalu berjalan mulus. Mahkota juga pernah mencoba memperluas pasar dengan membuka cabang di Gading Serpong, Tangerang, pada 2023.

    Namun ekspansi tersebut tidak berlangsung lama. Cabang itu akhirnya ditutup pada Januari 2026 dan keluarga memutuskan kembali memusatkan usaha di Magelang.

    Bagi Oma Frieda, tantangan terbesar dalam menjalankan usaha bukan hanya soal penjualan atau keuntungan. Yang jauh lebih sulit adalah mempertahankan kualitas dan menjaga hubungan dengan pelanggan yang telah setia selama puluhan tahun.

    "Yang sulit itu menjaga hubungan dengan pelanggan. Banyak pelanggan kami sekarang adalah anak dan cucu pelanggan dulu," tuturnya.

    Kepercayaan itulah yang membuat Mahkota tetap bertahan hingga hari ini. Bahkan tanpa promosi besar-besaran, toko tersebut tetap dicari pelanggan lama maupun wisatawan yang mendapat rekomendasi dari keluarga dan kerabat. Tak sedikit yang menyebut Mahkota sebagai salah satu hidden gem kuliner di Magelang.

    Di usia 81 tahun, Oma Frieda juga masih aktif mengikuti seminar dan pelatihan, termasuk di bidang tata rambut yang telah lama menjadi bagian dari usaha keluarganya. Baginya, usia tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti belajar maupun menikmati hidup.

    "Usia bukan alasan untuk berhenti. Yang penting pikiran tetap baik dan tetap menikmati apa yang dikerjakan," katanya.

    Filosofi yang sama juga diterapkannya dalam menjalankan Mahkota. Ketika banyak pelaku usaha berlomba mengejar pertumbuhan dan keuntungan, ia memilih fokus menjaga kualitas dan mempertahankan kepercayaan pelanggan.

    "Bekerja itu bagian dari ibadah. Kalau dilakukan dengan sepenuh hati, hasil baik akan mengikuti," ujar dia.

    Karena itu, tujuan utama Mahkota saat ini bukan sekadar mencari profit sebesar-besarnya. Yang terpenting adalah memastikan usaha tetap hidup dan warisan keluarga dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

    "Yang penting survive dulu. Profit mengikuti," kata Oma Frieda.

    Filosofi sederhana itulah yang membuat Mahkota mampu melewati berbagai zaman. Dari usaha roti kecil yang dirintis Kwee Kee Gie pada 1926 hingga menjadi toko legendaris yang kini memasuki generasi kelima, Mahkota tidak hanya menjual roti dan kue. Toko ini juga menjaga sepotong sejarah Kota Magelang yang masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More