Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah komunikasi digital meninggalkan rekam jejak yang dapat dilihat kembali di kemudian hari.
Pesan dapat diteruskan, dibaca ulang, hingga disimpan dalam bentuk tangkapan layar. Karena itu, setiap percakapan yang dikirimkan turut membentuk persepsi orang lain terhadap profesionalisme seseorang.
Menurut Hendri, kebiasaan berkomunikasi secara jelas, santun, dan proporsional berpotensi membangun citra positif di lingkungan kerja. Sebaliknya, kebiasaan mengirim pesan kasar, menggunakan huruf kapital secara berlebihan, menagih pekerjaan dengan nada agresif, atau memberikan instruksi tanpa konteks dapat menciptakan kesan negatif.
Karena itu, ia mengingatkan para profesional untuk membiasakan diri melakukan evaluasi sederhana sebelum menekan tombol kirim.
Mulai dari memastikan pesan mudah dipahami, memilih kata yang sesuai dengan hubungan kerja, hingga mempertimbangkan apakah pesan tersebut pantas dikirim pada waktu tertentu.
Hendri juga menilai literasi komunikasi digital perlu mendapat perhatian lebih besar, baik di lingkungan pendidikan maupun perusahaan. Menurut dia, pelatihan kesiapan kerja seharusnya tidak hanya membahas pembuatan CV, wawancara kerja, atau keterampilan teknologi, tetapi juga etika berkomunikasi di ruang digital.
Pada akhirnya, Hendri mengingatkan bahwa kesuksesan karier memang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kompetensi, kinerja, jejaring, hingga kesempatan. Namun, kualitas komunikasi tetap menjadi bagian penting dari cara seseorang bekerja dan dipersepsikan oleh orang lain.
"Keahlian membuat seseorang dibutuhkan. Karakter membuat seseorang dipercaya. Dan dalam dunia kerja yang semakin banyak berlangsung melalui layar, kesantunan sering kali terlihat dari sesuatu yang sangat kecil: cara kita mengetik sebuah pesan sebelum menekan tombol kirim," tulisnya.
Artikel ini merupakan tulisan dari Hendri Pramadya, Dosen Taruna Bakti University.