Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus ISPA Jabar Tembus 1,4 Juta, Mayoritas Dialami Balita
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Kemenkes mencatat 1,85 juta kasus ISPA di Jawa Barat pada Januari hingga pertengahan Agustus 2026, tertinggi nasional; Dinkes Jabar melaporkan sekitar 1,4 juta kasus hingga Juli.
  • Sekitar 743 ribu dari 1,4 juta kasus ISPA Januari-Juli terjadi pada balita. Dinkes menyebut anak, remaja, dewasa, dan lansia terdampak, dengan balita sebagai kelompok rentan.
  • Dinkes Jabar menyatakan tren ISPA menurun dibanding hampir tiga juta kasus pada 2025. Pencegahan mencakup imunisasi, gizi, ASI eksklusif, kebersihan, ventilasi, masker, dan menghindari asap rokok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Jumlah kasus ISPA di Jawa Barat mendekati tiga juta kasus.

Januari sampai Juli

Dinkes Jawa Barat mencatat sekitar 1,4 juta kasus ISPA dan menilai angkanya menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Januari-Juli 2026

Sekitar 743 ribu dari total 1,4 juta kasus ISPA terjadi pada anak usia balita 0-59 bulan.

Januari sampai pertengahan Agustus 2026

Kementerian Kesehatan mencatat 1,85 juta kasus ISPA di Jawa Barat, tertinggi secara nasional.

saat ini

Dinkes Jawa Barat belum melihat lonjakan signifikan kasus ISPA di tengah puncak musim kemarau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kasus ISPA di Jawa Barat tercatat sekitar 1,4 juta sepanjang Januari-Juli 2026, dengan sekitar 743 ribu kasus dialami balita usia 0-59 bulan.
  • Who?
    Balita menjadi kelompok dengan kasus terbanyak; remaja, dewasa, dan lansia juga terdampak. Dinas Kesehatan Jawa Barat dipimpin Raden Vini Adiani Dewi menyampaikan data tersebut.
  • Where?
    Kasus tercatat di wilayah Jawa Barat.
  • When?
    Data Dinkes Jawa Barat mencakup Januari hingga Juli 2026. Kementerian Kesehatan mencatat data hingga pertengahan Agustus 2026.
  • Why?
    Balita lebih rentan karena daya tahan tubuh belum optimal. Faktor lain mencakup imunisasi rendah, kurang gizi, ASI eksklusif tidak optimal, ventilasi buruk, serta paparan asap rokok.
  • How?
    Dinkes Jawa Barat menyebut pencegahan dilakukan melalui PHBS, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker saat sakit, menjaga ventilasi rumah, dan menghindari merokok di dalam ruangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Barat, banyak orang kena sakit batuk dan pilek yang disebut ISPA. Dari Januari sampai Juli, ada sekitar 1,4 juta orang sakit. Sekitar 743 ribu adalah anak kecil. Dinas Kesehatan bilang jumlahnya lebih sedikit dari tahun lalu. Sekarang belum ada kenaikan besar saat musim kemarau. Kita bisa cuci tangan, pakai masker saat sakit, dan jangan merokok di rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tingginya pencatatan ISPA, Jawa Barat memiliki sinyal yang cukup menggembirakan: jumlah kasus hingga Juli berada di bawah angka tahun sebelumnya dan musim kemarau belum memicu lonjakan berarti. Penjelasan Dinkes juga menunjukkan bahwa risiko penularan memiliki sejumlah titik pencegahan yang jelas, dari gizi, imunisasi, ASI eksklusif, hingga kebersihan, ventilasi, masker, dan rumah bebas asap rokok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kementerian Kesehatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Barat mencapai 1,85 juta kasus atau tertinggi secara nasional. Data tersebut terhitung sepanjang Januari sampai pertengahan Agustus 2026.

Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat menegaskan, tren kasus ISPA di daerah tersebut justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, pada 2025 jumlahnya mendekati tiga juta kasus.

"Nah sekarang itu sekitar 1,4 juta. Ya, di mana yang 1,4 juta ini dari Januari sampai Juli. Nah, berarti kan kalau asumsinya sudah setengah tahun. Tahun kemarin itu hampir di angka 3 jutaan," ujar Vini, Senin (24/8/2026).

1. Mayoritas yang terkena ISPA usia balita

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya tren penurunan kasus ISPA di Jawa Barat sepanjang tahun ini. Vini menjelaskan, ISPA merupakan penyakit yang dapat menyerang seluruh kelompok usia, karena sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus.

Hanya saja, kelompok rentan seperti balita dan lansia menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat penyakit tersebut.

Berdasarkan data Dinkes Jabar, dari total 1,4 juta kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026, sekitar 743 ribu kasus terjadi pada anak usia balita atau 0-59 bulan.

"Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya, dari Januari sampai Juli," katanya.

2. Lansia dan orang dewasa juga banyak terkena ISPA

Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

Saat ditanya apakah angka tersebut setara dengan sekitar 50 persen dari total kasus, Vini membenarkan dan mayoritas yang terkena penyakit tersebut anak-anak, dan remaja hingga lansia.

"Iya, betul. Sisanya remaja, dewasa sama lansia," katanya.

Menurut Vini, tingginya kasus pada balita berkaitan erat dengan daya tahan tubuh yang belum optimal sehingga lebih mudah terpapar penyakit saluran pernapasan.

"Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus. Karena anak itu kan rentan terhadap penularan ISPA," ucapnya.

3. Faktor penyebab ISPA beragam

ilustrasi ISPA pada anak (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Vini menegaskan, penyebab ISPA tidak hanya berasal dari faktor individu, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan dan perilaku hidup masyarakat.

Faktor-faktor yang berkontribusi antara lain rendahnya cakupan imunisasi, kurangnya asupan gizi, tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif, buruknya ventilasi rumah, hingga kebiasaan merokok di dalam rumah.

"Penyebab ISPA itu banyak. Dari mulai imunisasi, daya tahan tubuh yang ditentukan oleh ASI eksklusif, gizi anak, perilaku hidup bersih dan sehat, bagaimana cuci tangan, memakai masker," ucapnya.

Vini menambahkan, penularan ISPA sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rutin mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker saat sakit, menjaga sirkulasi udara di rumah, serta menghindari paparan asap rokok.

"Tidak boleh merokok di dalam rumah atau di ruangan. Tentu hal-hal itu bisa menurunkan infeksi saluran pernapasan akut," ujarnya.

Di tengah puncak musim kemarau yang saat ini berlangsung, Dinkes Jabar juga belum melihat adanya lonjakan signifikan kasus ISPA. Kondisi tersebut berbeda dengan kekhawatiran yang biasanya muncul saat kualitas udara menurun akibat cuaca kering.

"Enggak sih. Ini justru tidak ada peningkatan. Maksudnya sama saja," kata Vini.

Curated For You

Editorial Team

Related Article