ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)
Menurut Farhan, konsumen yang melaporkan juga harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, apakah benar penyebabnya dari konsumsi makanan di 88 SEOUL tersebut atau dari hal lainnya.
"Harus ada tanggung jawab. Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata dokter B, maka saya harus diidentifikasi. Restoran A diidentifikasi, dokter B yang memberikan diagnosis juga harus diidentifikasi dan memberikan pertanggungjawaban medisnya," katanya.
Sementara itu Operation General Manager 88 SEOUL, Daniel Yahya mengatakan, turut meminta maaf secara langsung mengenai peristiwa dugan keracunan ini. Dia mengklaim sudah melakukan pendampingan kepada korban untuk memenuhi sejumlah kebutuhan.
"Tidak hanya melalui komunikasi jarak jauh, sebagai bentuk komitmen kami, Manajemen juga telah mengunjungi sejumlah pelanggan untuk mendengarkan secara langsung kondisi dan kebutuhan mereka," katanya dalam rilis yang diterima IDN Times, Kamis (8/10/2026).
"Sekaligus memberikan pendampingan serta dukungan yang diperlukan. Upaya ini terus dilakukan sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab manajemen dalam menangani situasi yang terjadi," katanya.
Selama penutupan sementara, 88 SEOUL juga tengah melakukan evaluasi dan peningkatan standar operasional, termasuk, melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh.
Kemudian, memastikan kembali seluruh prosedur food safety, mulai dari penerimaan dan penyimpanan bahan baku, proses persiapan, pengolahan, hingga penyajian makanan, dijalankan sesuai standar yang telah ditetapkan.
"Memperbarui seluruh persediaan bahan baku sebagai langkah kehati-hatian, serta memastikan seluruh bahan baku yang digunakan saat operasional kembali dibuka telah memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan yang ditetapkan," kata Daniel.