Kronologi Dugaan Ratusan Orang Keracunan Hidangan 88 SEOUL di Paskal

Sejumlah konsumen 88 SEOUL di Mal 23 Paskal Bandung melaporkan diare, mual, muntah, sakit perut, demam, hingga menggigil setelah makan pada 2–3 Oktober 2026.
Dinkes Bandung mencatat 24 laporan hingga 6 Oktober dan masih menyelidiki penyebabnya; inspeksi awal menemukan aspek higiene, sanitasi, serta pengelolaan bahan makanan yang perlu diperbaiki.
Manajemen 88 SEOUL menerima keluhan dan meminta maaf, sementara gerai Paskal menghentikan operasional 7–8 Oktober untuk pembersihan, sanitasi menyeluruh, serta evaluasi standar operasional.
Bandung, IDN Times - Dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah konsumen restoran 88 SEOUL di Mal 23 Paskal, Kota Bandung, masih belum diketahui penyebabnya. Pemerintah Kota Bandung pun masih melakukan penyelidikan atas dugaan ratusan orang keracunan yang keracunan setelah menyantap hidangan di restoran tersebut.
Konsumen mulanya banyak mengeluh melalui media sosial. Mereka menyatakan mengalami mulai dari diare, mual, muntah, sakit perut, hingga demam tinggi.
Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung pun masih belum bisa memberikan kesimpulan pasti apakah keluhan konsumen itu benar disebkan oleh hidangan yang disantap dari restoran 88 SEOUL.
1. Konsumen mengeluhkan gangguan kesehatan setelah makan

Restoran 88 SEOUL di Bandung Tutup Sementara Usai Kasus Konsumen Keracunan. IDN Times/Debbie Sutrisno Peristiwa ini bermula saat sejumlah konsumen mengaku mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan di 88 SEOUL pada 2–3 Oktober 2026. Salah satu pelanggan mengungkapkan pengalaman tersebut melalui akun Threads di 5 Oktober 2026.
Pelanggan itu mengaku mengalami diare setelah makan di restoran tersebut pada 3 Oktober. Keluhan berlanjut hingga muncul demam dan menggigil. Salah seorang korban keracunan, Ria Isti (35 tahun) menceritakan, datang ke restoran tersebut pada Sabtu (3/10/2026) bersama adiknya. Saat itu, dia memesan total sembilan item yang terdiri dari makanan dan minuman dengan total harga Rp220 ribu.
Makanan yang dipesan yakni Baechu Kimchi, Eomuk Bokkeum, Gyeranmari, Korean Macaroni Salad, Danmuji Muchim, Sigeumchinamul, Myeokguk, dan Tangsuyuk. Sementara, minuman yang dipesan yaitu Green Tea. Tak ada hal yang janggal dari makanan ataupun minuman yang disajikan.
"Nggak nyangka, nggak nyangka keracunan juga. Untuk makanan pun juga waktu kita makan biasa aja, gak ada yang janggal," kata dia.
Namun, keesokan harinya, Ria mulai mengalami diare disertai mual. Dia kemudian menuju ke Puskemas untuk mengecek kondisi kesehatannya. Hasilnya, dia dan adiknya didiagnosis mengalami gejala keracunan.
"Keracunan makanan. Aku dikasih antibiotik sama obat mual juga karena gak masuk sama sekali makanan. Lemas itu di hari Minggu dan hari Senin," katanya.
Ria mengaku sudah sempat menghubungi pihak restoran untuk meminta penjelasan. Akan tetapi, pihak restoran hanya menyampaikan keprihatinan dan sama sekali tak menyampaikan permintaan maaf.
"Aku mau ngejelek-jelekin apapun jangan marah, karena emang ini yang aku rasain. Orang nggak kesal gimana, orang punya rencana juga aku mau liburan hari Minggu jadi kacau semuanya," kata dia.
2. Ada yang mengalami sesak napas

Dinkes Bandung Investigasi Kasus Diduga Keracunan di Sebuah Restoran. IDN Times/Debbie Sutrisno Hal senada dikatakan korban lainnya, Radisya (27 tahun). Dia juga mengaku datang ke restoran itu pada Sabtu (3/10). Saat itu, dia dan tiga temannya bahkan harus mengantre karena restoran sedang penuh. Terdapat beberapa makanan yang dipesan, salah satunya Haemul Jjigae.
Radisya mengaku, baru mengalami gejala keracunan juga pada keesokan harinya. Gejala yang dialami yaitu dadanya sempat terasa sakit dan diare. Dia kemudian mengira mengalami keracunan usai ramai dibahas di media sosial.
"Aku pas yang Minggu pagi teh dada sakit banget di bagian kanan. Sama sakit perut, diarenya tuh malah baru di hari Senin, sampai sekarang tuh masih gitu," kata dia.
"Normal sih (makanannya) karena dipikirnya ya emang makanan Korea kayak gitu. Awalnya mikir gitu. Makanya sebenarnya kita tuh gak mikir itu tuh dari si makanan itu, karena dipikir oh ya udah mungkin cuma karena ini doang gitu, karena cuaca," kata dia.
3. Dinkes Kota Bandung mulai melakukan investigasi

ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita) Pada Selasa (6/10/2026), Dinkes Kota Bandung menyatakan tengah menyelidiki dugaan keracunan yang melibatkan konsumen 88 SEOUL. Kepala Dinkes Kota Bandung, Sony Adam, mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Saat itu, pihaknya belum dapat menyampaikan perkembangan lebih lanjut mengenai hasil investigasi.
"Masih tahap investigasi," ujar Sony kepada wartawan, Selasa (6/10/2026).
Di tengah penyelidikan tersebut, manajemen 88 SEOUL menyatakan telah menerima keluhan sejumlah pelanggan. Marketing General Manager 88 SEOUL, Sarah Merci, mengatakan keamanan, kualitas, dan kenyamanan pelanggan menjadi prioritas pengelola.
Pihak restoran juga meminta pelanggan yang mengalami gejala setelah makan untuk menghubungi layanan customer care agar keluhannya dapat ditindaklanjuti.
Hingga Selasa (6/10/2026) sore, Dinkes Kota Bandung mencatat 24 laporan warga yang mengalami gejala gangguan kesehatan setelah makan di restoran tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan jumlah laporan masih berpotensi bertambah. Dinkes juga terus membuka kanal pelaporan dan memantau kondisi kesehatan warga yang mengeluhkan gejala.
Tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat Dinkes Kota Bandung telah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan ke restoran tersebut.
Dari pemeriksaan awal, petugas menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki. Temuan itu mencakup penataan tempat penyimpanan bahan makanan, pemisahan bahan makanan dari bahan kimia pembersih, serta penerapan prosedur operasional standar.
Dinkes juga menyoroti penerapan sistem FIFO (first in, first out) dan FEFO (first expired, first out) dalam pengelolaan bahan makanan, serta penggunaan masker dan penutup kepala atau hair net.
4. Manajemen baru meminta maaf setelah banyak keluhan

ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita) Kasus dugaan keracunan ini turut mendapat perhatian kepolisian. Kapolsek Andir, AKP Anggy Prasetyo, menyatakan pihaknya masih mendalami laporan yang berkaitan dengan dugaan keracunan tersebut.
Pendalaman dilakukan ketika Dinkes masih menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami konsumen.
Sementara itu, pengelola restoran menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan yang mengalami kondisi tidak menyenangkan setelah berkunjung ke 88 SEOUL di 23 Paskal.
Kemudian, pada Rabu (7/10/2026), manajemen 88 SEOUL mengumumkan penghentian sementara operasional gerai di Mal 23 Paskal pada 7–8 Oktober 2026.
Marketing General Manager 88 SEOUL, Sarah Merci, mengatakan penutupan dilakukan untuk membersihkan dan menyanitasi area restoran secara menyeluruh, sekaligus mengevaluasi proses serta standar operasional gerai.
"Kepada pelanggan yang mengalami kondisi dan pengalaman yang tidak menyenangkan setelah berkunjung ke 88 SEOUL Paskal, Bandung, kami menyampaikan permohonan maaf," kata Sarah, Rabu (7/10/2026).




















