Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Farhan Bongkar Kondisi Dapur 88 SEOUL yang Sebabkan Keracunan

Kota Bandung
3 min read
Farhan Bongkar Kondisi Dapur 88 SEOUL yang Sebabkan Keracunan
Ratusan Warga Diduga Keracunan Usai Makan di Restoran 88 Seoul Kawasan 23 Paskal, Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Dinkes Bandung menemukan masalah higienitas di 88 SEOUL, termasuk area pencucian berisiko kontaminasi, penyimpanan bahan beku tanpa pengatur suhu, serta minyak goreng tidak tertutup.

  • Petugas dapur ditemukan tidak memakai masker; restoran juga belum menyediakan sampel makanan dan kemasan belum mencantumkan waktu kedaluwarsa. Investigasi serta pemantauan laporan korban masih berlangsung.

  • Manajemen 88 SEOUL meminta maaf, mengaku mendampingi korban, dan selama penutupan sementara melakukan sanitasi, evaluasi prosedur keamanan pangan, serta pembaruan seluruh stok bahan baku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkap sejumlah temuan setelah meninjau langsung restoran 88 SEOUL di Mal 23 Paskal, Kota Bandung, yang diduga membuat ratusan konsumen mengalami keracunan.

Farhan mengatakan, hasil investigasi dari Dinkes Kota Bandung menemukan beberapa kekurangan soal higienitas yang ada di restoran tersebut. Salah satu di antaranya terdapat sejumlah aspek kebersihan dan pengolahan makanan yang perlu diperbaiki.

"Area pencucian alat makan perlu diperhatikan karena terdapat risiko kontaminasi terhadap bahan makanan dari sabun cuci dan peralatan cucian," kata Farhan, Kamis (8/10/2026).

  1. 1. Banyak SOP yang belum ditetapkan

    WhatsApp Image 2026-10-07 at 1.26.56 PM.jpeg
    Restoran 88 SEOUL di Bandung Tutup Sementara Usai Kasus Konsumen Keracunan. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Selain itu, restoran tersebut juga ternyata belum memiliki area penyimpanan yang jelas untuk keluar dan masuknya bahan makanan beku. Farhan mengungkapkan, alat pengatur suhu di dalam penyimpanan makanan beku pun tidak ditemukan.

    "Area penyimpanan bahan makanan beku belum jelas pengaturan first in, first out-nya. Kemudian, tempat penyimpanan makanan dingin harus dilengkapi dengan alat pengukur suhu," kata dia.

    Lebih lanjut, Dinkes Kota Bandung, kata Farhan turut menemukan tempat penyimpanan minyak goreng yang tidak tertutup. Seharusnya, hal itu diperhatikan karena berpotensi tercampur bahan kimia lainnya.

    "Untuk bahan kering, khususnya penyimpanan minyak, kondisinya tidak tertutup. Penyimpanan bahan kimia agar disediakan kontainer tertutup," katanya.

  2. 2. Penjamah makanan tidak menggunakan masker

    WhatsApp Image 2026-10-06 at 6.55.32 PM (1).jpeg
    Dinkes Bandung Investigasi Kasus Diduga Keracunan di Sebuah Restoran. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Farhan menambahkan, pegawai dalam mengolah makanan di dapur juga ditemukan tidak menggunakan masker. Dia menegaskan, untuk menjaga keamanan hidangan seharusnya perlengkapan tersebut digunakan.

    "Kemudian, dalam proses pengolahan makanan, para penjamah makanan tidak menggunakan masker. Itu menjadi risiko. Belum disediakan bank sample makanan. Kemasan juga belum dilengkapi dengan keterangan expiry time," kata dia.

    Karena proses investigasi masih belum selesai seluruhnya, Farhan mengatakan, Dinkes Kota Bandung sampai saat ini masih terus melakukan pemantauan dan pendalaman terhadap beberapa laporan korban yang keracunan.

    "Investigasi untuk kasus baru kalau ada kasus baru. Kemudian pemantauan kondisi kesehatan kasus yang dilaporkan. Kami akan bekerja sama dengan rumah sakit untuk mengetahui identitas pasien yang mengeluhkan, termasuk dokter yang mendiagnosisnya," katanya.

  3. 3. Pihak restoran baru meminta maaf secara resmi

    ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)
    ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)

    Menurut Farhan, konsumen yang melaporkan juga harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, apakah benar penyebabnya dari konsumsi makanan di 88 SEOUL tersebut atau dari hal lainnya.

    "Harus ada tanggung jawab. Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata dokter B, maka saya harus diidentifikasi. Restoran A diidentifikasi, dokter B yang memberikan diagnosis juga harus diidentifikasi dan memberikan pertanggungjawaban medisnya," katanya.

    Sementara itu Operation General Manager 88 SEOUL, Daniel Yahya mengatakan, turut meminta maaf secara langsung mengenai peristiwa dugan keracunan ini. Dia mengklaim sudah melakukan pendampingan kepada korban untuk memenuhi sejumlah kebutuhan.

    "Tidak hanya melalui komunikasi jarak jauh, sebagai bentuk komitmen kami, Manajemen juga telah mengunjungi sejumlah pelanggan untuk mendengarkan secara langsung kondisi dan kebutuhan mereka," katanya dalam rilis yang diterima IDN Times, Kamis (8/10/2026).

    "Sekaligus memberikan pendampingan serta dukungan yang diperlukan. Upaya ini terus dilakukan sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab manajemen dalam menangani situasi yang terjadi," katanya.

    Selama penutupan sementara, 88 SEOUL juga tengah melakukan evaluasi dan peningkatan standar operasional, termasuk, melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh.

    Kemudian, memastikan kembali seluruh prosedur food safety, mulai dari penerimaan dan penyimpanan bahan baku, proses persiapan, pengolahan, hingga penyajian makanan, dijalankan sesuai standar yang telah ditetapkan.

    "Memperbarui seluruh persediaan bahan baku sebagai langkah kehati-hatian, serta memastikan seluruh bahan baku yang digunakan saat operasional kembali dibuka telah memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan yang ditetapkan," kata Daniel.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More