Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dinkes: Gangguan Pernapasan di Jabar Naik Sejak Erupsi Anak Krakatau
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Dinkes Jawa Barat mencatat kenaikan gangguan saluran pernapasan, termasuk ILI dan SARI, sejak abu erupsi Anak Krakatau pada awal bulan, berdasarkan laporan fasilitas kesehatan.

  • Meski kasus meningkat namun masih di bawah batas pemantauan. Sejumlah rumah sakit menemukan influenza tipe A dengan gejala seperti demam tinggi, lemas, batuk, pilek, dan pegal.

  • Dinkes mengimbau pola hidup bersih, menjaga daya tahan tubuh, mencuci tangan, serta memakai masker saat sakit. Depok dan Kabupaten Bogor sempat meningkat, sementara data influenza A masih didata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
awal bulan ini

Kasus gangguan saluran pernapasan, termasuk influenza, meningkat di Jawa Barat sejak paparan abu erupsi Gunung Anak Krakatau.

21 September 2026

Dinkes Jawa Barat menyatakan peningkatan kasus ILI dan SARI terpantau melalui laporan fasilitas kesehatan, tetapi masih di bawah batas maksimal pemantauan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kasus gangguan saluran pernapasan, termasuk influenza, meningkat di Jawa Barat sejak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau muncul pada awal bulan ini.
  • Who?
    Dinas Kesehatan Jawa Barat, fasilitas kesehatan, rumah sakit di Jawa Barat, serta warga yang mengalami gangguan pernapasan dan influenza tipe A terlibat dalam pemantauan ini.
  • Where?
    Pemantauan berlangsung di Jawa Barat. Depok dan Kabupaten Bogor sempat menunjukkan peningkatan kasus, sementara data influenza tipe A per wilayah masih dikumpulkan.
  • When?
    Peningkatan terpantau sejak awal bulan ini setelah abu erupsi Gunung Anak Krakatau. Kepala Dinkes Jabar Raden Vini Adiani Dewi menyampaikan keterangan pada Senin, 21 September 2026.
  • Why?
    Kenaikan tercatat dalam pelaporan ILI dan SARI setelah kejadian abu vulkanik. Hingga saat ini, hubungan penyebab secara lebih rinci masih belum ada keterangan resmi.
  • How?
    Fasilitas kesehatan melaporkan kasus ILI dan SARI kepada Dinkes Jabar. Dinkes mengimbau hidup bersih, mencuci tangan, memakai masker saat sakit, menjaga daya tahan tubuh, dan berobat bila ada tanda pneumonia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sejak abu dari Gunung Anak Krakatau keluar, lebih banyak orang di Jawa Barat sakit napas dan flu. Dinkes Jawa Barat melihat Depok dan Bogor sempat naik. Ada juga flu tipe A yang bisa membuat demam tinggi, batuk, pilek, dan pegal. Sekarang jumlahnya masih di bawah batas bahaya. Orang diminta makan sehat, istirahat, cuci tangan, dan pakai masker saat sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemantauan rutin fasilitas kesehatan memberi Jawa Barat kemampuan untuk mengenali kenaikan gangguan pernapasan sejak awal dan menilai bahwa jumlah kasus masih di bawah batas maksimal. Di tengah pendataan yang terus berjalan, informasi mengenai gejala, kebersihan, istirahat, gizi, serta penggunaan masker membantu masyarakat memahami langkah perlindungan yang relevan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat mencatat adanya kenaikan kasus gangguan saluran pernapasan, termasuk influenza. Meningkatnya kasus tersebut, terjadi sejak abu erupsi gunung Anak Krakatau selama awal bulan ini.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, peningkatan kasus ini diketahui berdasarkan sistem pelaporan penyakit saluran pernapasan yang dilakukan fasilitas kesehatan di Jabar. Pemantauan mencakup influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI).

"Pelaporannya memang ada peningkatan nih, sejak kasus yang debu abu vulkanik itu ya. Peningkatan saluran pernapasan ini baik di SARI ataupun di ILI," ujar Vini, Senin (21/9/2026).

1. Masyarakat diminta waspadai Influenza A

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Meski meningkat, Vini memastikan jumlah kasus tersebut masih berada di bawah batas maksimal yang ditetapkan dalam pemantauan kesehatan. Namun, dia tidak menyebutkan secara gamblang berapa total kasus yang ditemukan di Jabar.

Beberapa rumah sakit di Jabar, kata dia, turut menemukan kasus influenza tipe A yang memiliki gejala yang dapat lebih berat dibandingkan flu biasa, seperti demam tinggi, lemas, batuk, pilek, dan pegal-pegal.

"Untuk influenza tipe A memang pasien itu biasanya mengeluh demam tinggi, ya bisa di atas 40 derajat. Lalu ada lemas, batuk, pilek, pegal-pegal gitu ya," katanya.

Dinkes Jabar pun mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menerapkan kembali kebiasaan menjaga protokol kesehatan, karena influenza tipe A memiliki penularan yang cepat.

2. Masyarakat harus menjaga protokol kesehatan dan pola hidup sehat

gambar virus influenza A dilihat dari mikroskop (unsplash.com/CDC)

Vini menyarankan masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, serta mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah. Masyarakat yang sedang sakit juga dianjurkan menggunakan masker agar tidak menularkan kepada anggota keluarga.

"Kalau misalnya yang paling parah itu atau harus berobat ke rumah sakit apabila ada tanda-tanda infeksi paru-paru misalnya ya atau pneumonia gitu ya. Nah, ini baru disarankan untuk datang berobat ke rumah sakit," ucapnya.

3. Pemeriksaan influenza cukup mahal

ilustrasi virus influenza (pexels.com/CDC)

Terkait wilayah dengan kasus yang tinggi, Vini menyebut Depok dan Kabupaten Bogor sempat menunjukkan peningkatan. Namun, untuk data khusus influenza tipe A berdasarkan wilayah, Dinkes Jabar masih melakukan pendataan karena pemeriksaan membutuhkan tes khusus.

"Nah, kalau influenza tipe A belum (terdata secara khusus) karena kan pemeriksaannya cukup mahal ya dan orang malas ya melakukan swab kayak dulu waktu COVID ya," ucapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article