Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyak Pasien Terlambat Berobat, Apa Penyebabnya?
ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit (magnific.com/magnific)
  • Studi Suara Pasien Indonesia mencatat sembilan dari sepuluh responden pernah menunda perawatan kesehatan, dipengaruhi biaya, minim informasi, dan prioritas kebutuhan keluarga.
  • Keterlambatan pemeriksaan dapat menghambat penanganan penyakit, termasuk TBC, sementara lebih dari 80 persen pasien kanker disebut terdiagnosis pada stadium tiga atau empat.
  • Prudential Indonesia menggelar pemeriksaan kesehatan gratis dan program aktivitas fisik, serta menyoroti peran perlindungan kesehatan untuk membantu biaya perawatan medis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Menunda pemeriksaan kesehatan masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Berbagai faktor, mulai dari keterbatasan biaya, kurangnya informasi, hingga prioritas keluarga, dapat membuat seseorang mengabaikan keluhan kesehatan dan menunda mendapatkan penanganan medis.

Studi Suara Pasien Indonesia yang dilakukan Prudential plc bersama Economist Impact menunjukkan, sembilan dari sepuluh responden pernah menunda perawatan kesehatan. Hampir setengah dari mereka bahkan mengaku berulang kali menunda pemeriksaan atau pengobatan.

Temuan tersebut menggambarkan tantangan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Di satu sisi, kesadaran terhadap pentingnya pemeriksaan dini perlu ditingkatkan. Di sisi lain, faktor ekonomi dan kebutuhan keluarga turut memengaruhi keputusan seseorang untuk mencari pertolongan medis.

Padahal, keterlambatan diagnosis dapat berdampak pada penanganan penyakit. Pada kasus tuberkulosis (TBC), misalnya, keterlambatan diagnosis dapat menghambat pengobatan sekaligus memperpanjang risiko penularan. Sementara itu, lebih dari 80 persen pasien kanker disebut baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat, berdasarkan data yang dicantumkan dalam materi sumber.

1. Biaya pengobatan dan kebutuhan keluarga menjadi hambatan

ilustrasi pasien rumah sakit (vecteezy.com/Thanongsak Sukjai)

Biaya menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat menunda pemeriksaan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sebanyak 26,6 persen penduduk Indonesia menghadapi tantangan keterjangkauan layanan kesehatan pada 2025. Pengeluaran langsung masyarakat untuk kesehatan juga mencapai sekitar Rp175 triliun, sementara 12,8 juta orang berisiko jatuh miskin akibat biaya kesehatan.

Selain persoalan biaya, kebutuhan keluarga juga menjadi alasan seseorang menunda perawatan. Studi Suara Pasien Indonesia menemukan, kurangnya informasi yang jelas dan kecenderungan mendahulukan kebutuhan keluarga turut memengaruhi keputusan responden untuk tidak segera mencari layanan kesehatan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Prudential Indonesia. Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, mengatakan, bahwa di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit di Indonesia, memilih produk asuransi kesehatan dari perusahaan yang mampu memberikan perlindungan kesehatan sekaligus mendampingi nasabah dalam tiap tahapan, menjadi bagian penting dari perencanaan keuangan keluarga.

"Agar tidak perlu mengorbankan tabungan maupun tujuan keuangan jangka panjang ketika menghadapi kondisi medis yang tidak terduga," kata Yosie, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Selasa (30/9/2026).

2. Pemeriksaan dini membantu mengantisipasi risiko kesehatan

Ilustrasi dokter dan pasien (Pexels.com/cottonbro studio)

Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi salah satu langkah untuk mengenali kondisi tubuh dan mendeteksi potensi masalah kesehatan lebih awal. Upaya ini juga relevan dalam menghadapi penyakit yang membutuhkan penanganan berkelanjutan, termasuk kanker dan TBC.

Momentum Hari Paru Sedunia yang diperingati setiap 25 September turut menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan pernapasan. Materi sumber juga menyoroti peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya di Banten, Lampung, dan Jawa Barat pada September 2026. Namun, rujukan yang dicantumkan untuk klaim tersebut perlu diverifikasi kembali karena judul sumbernya tidak secara langsung membahas peningkatan ISPA.

Data industri asuransi yang dikutip dalam materi menyebutkan, biaya pengobatan penyakit pernapasan meningkat 106,3 persen, dari Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada 2025. Angka tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan risiko biaya perawatan, sekaligus perlunya memastikan data dan cakupan klaim sesuai dengan sumber aslinya.

3. Edukasi dan perlindungan kesehatan menjadi bagian dari upaya pencegahan

logo Prudential Indonesia (prudential.co.id)

Untuk mendorong kesadaran pemeriksaan dini, Prudential Indonesia menggelar sejumlah kegiatan kesehatan. Pada Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.570 pemegang polis, tenaga pemasar, dan karyawan mengikuti pemeriksaan kesehatan mini gratis melalui jaringan PRUPriority Hospitals.

Perusahaan juga menjalankan program PRUActive yang sejak 2023 telah melibatkan lebih dari 60 ribu peserta dalam kegiatan olahraga bersama. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendorong masyarakat menjalani pola hidup sehat dan lebih memperhatikan kondisi kesehatan.

Pengalaman salah satu nasabah turut menggambarkan manfaat layanan pemeriksaan dan perlindungan kesehatan. Doni Kurniawan, nasabah Prudential sejak 2016, menceritakan bahwa dirinya menjalani pemeriksaan kesehatan dan mengajukan klaim untuk tindakan operasi pada akhir 2025. Setelah didiagnosis pada Sabtu, ia menjalani rawat inap pada Minggu dan operasi pada Senin.

Biaya operasi serta perawatan pascaoperasi sekitar Rp35 juta ditanggung melalui perlindungan asuransinya, dengan proses klaim yang ia nilai berjalan lancar.

Yosie mengatakan, perusahaan berupaya menghadirkan solusi perlindungan yang mendukung kebutuhan kesehatan nasabah pada berbagai tahap.

Curated For You

Editorial Team

Related Article