Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alasan Dedi Mulyadi Buat Sekolah Maung: Kualitas SMAN di Jabar Menurun

Alasan Dedi Mulyadi Buat Sekolah Maung: Kualitas SMAN di Jabar Menurun
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Dedi Mulyadi mengubah 41 SMA dan SMK negeri favorit di Jawa Barat menjadi Sekolah Maung karena menilai kualitas sekolah negeri unggulan mengalami penurunan akibat sistem zonasi dan faktor pendukung lainnya.
  • Program Sekolah Maung menekankan rekrutmen berbasis prestasi akademik dan non-akademik untuk mengembalikan identitas sekolah unggulan, menggantikan dominasi sistem zonasi yang dianggap membatasi siswa berprestasi.
  • Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menyiapkan dukungan bagi sekolah swasta agar siswa dari keluarga menengah ke bawah tetap mendapat akses pendidikan berkualitas melalui subsidi pembiayaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan alasan mengubah 41 SMA dan SMK negeri favorit di 27 kabupaten kota menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung). Dedi menilai, saat ini kualitas sekolah negeri favorit tersebut mulai menurun.

Menurut dia, setiap kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat memiliki sekolah unggulan, seperti di Kota Bandung punya SMAN 3 dan 5. Sekolah itu selalu menjadi tujuan utama para orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

"Yang lahiran tahun 90-an pasti tahu. Setiap kabupaten/kota itu pasti ada sekolah favorit, biasanya SMA 1. Kalau di Bandung, SMA 3 dan SMA 5. Seiring dengan waktu, dengan diberlakukan zonasi, tingkat kualifikasi sekolah terus mengalami penurunan tajam," kata Dedi, Rabu (13/5/1026).

1. Kualitas SMAN di Jabar mengalami banyak penurunan

Ilustrasi sekolah (freepik.com/freepik)
Ilustrasi sekolah (freepik.com/freepik)

Dedi pun mengaku mendapatkan masukan langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kondisi sekolah unggulan di Jawa Barat yang saat ini disebut telah menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

"Sebagai bahan kajian, kemarin Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan pada saya, di Jawa Barat sekolah yang punya kualifikasi sebagai sekolah unggul itu tinggal SMA 3. Yang lainnya sudah didominasi swasta," katanya.

Penurunan ini terjadi karena banyak faktor, mulai dari daya dukung sekolah, pembiayaan, hingga kualitas akademik siswa yang masuk.

"Kenapa terjadi penurunan itu? Karena daya dukungnya semakin menurun, pembiayaan mengalami penurunan, kualifikasi murid yang masuk mengalami penurunan akademis," katanya.

2. Para murid di sekolah unggulan saat ini kurang disiplin

Ilustrasi sekolah (pexels.com/ 周 康 )
Ilustrasi sekolah (pexels.com/ 周 康 )

Dedi mengatakan, sekolah unggulan turut membuat berbagai persoalan disiplin yang akhirnya mencoreng nama baik sekolah. Sehingga, hak itu dikatakannya menjadi hal yang harus diatasi.

"Bahkan, misalnya di sekolah favorit dulu SMA 1 Purwakarta, ada peristiwa yang menarik ya, di mana murid mengolok-olok guru. Itu kan salah satu juga problem yang dihadapi," ucapnya.

Jika kondisi itu terus dibiarkan, Dedi memastikan, sekolah negeri unggulan akan kehilangan daya saing dan hanya sekolah swasta mahal yang menjadi pilihan kelompok masyarakat tertentu.

"Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD," katanya.

"Kenapa? Karena mereka akan mulai bersekolah di sekolah-sekolah yang berkualitas. Kemudian tingkat kemampuan siswa masuk ITB dari SMA 3, silakan dicek, mengalami penurunan. Tajam penurunannya, ini kan perlu bahan kajian komprehensif," lanjutnya.

3. Prestasi akademik harus diperluas, non-akademik diperbesar

Ilustrasi sekolah (Unsplash.com/Markus Winkler)
Ilustrasi sekolah (Unsplash.com/Markus Winkler)

Melalui program Sekolah Maung, Dedi ingin mengembalikan pola sekolah unggulan berbasis prestasi akademik dan non-akademik, dan jalur prestasi akan diperbesar dibanding sistem zonasi.

"Sehingga, apa sih yang dilakukan pemerintah provinsi? Pemerintah provinsi melakukan, khusus untuk sekolah-sekolah yang dulu menjadi sekolah unggulan, rekrutmen siswanya diperbesar untuk akademik dan prestasi non-akademik," ujarnya.

"Prestasi akademiknya harus diperluas, kemudian non-akademiknya diperbesar. Non-akademik itu misalnya kemampuan seni, kemampuan olahraga, kemampuan-kemampuan lain yang itu mampu membangun keunggulan manusia. Itu masuknya nanti bisa masuk di sekolah-sekolah favorit itu," sambung Dedi.

Kendati demikian, Dedi juga menyiapkan skema dukungan untuk sekolah swasta agar siswa dari keluarga menengah ke bawah tetap mendapat akses pendidikan berkualitas.

"Tetapi di samping sekolah favorit itu ada sekolah swasta. Di sekolah swasta itu nanti dibuat untuk menampung siswa yang tidak masuk ke sekolah favorit tersebut, dengan pembiayaan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah dibiayai oleh Provinsi Jawa Barat, dan kita juga akan mempertimbangkan subsidi-subsidi lain," katanya.

4. Bukan proyek percontohan

Ilustrasi sekolah (pexels.com/ RDNE Stock project)
Ilustrasi sekolah (pexels.com/ RDNE Stock project)

Dedi menegaskan, program Sekolah Maung bukan sekadar proyek percontohan, melainkan upaya mengembalikan identitas sekolah unggulan yang dulu pernah ada di setiap daerah.

"Kalau menurut saya kan bukan percontohan. Sekolah unggul itu dari dulu ada tiap kabupaten. Sekarang dikembalikan lagi. Dikembalikan lagi, zonasi tidak menjadi ruang yang paling besar, tetapi ruang paling besarnya adalah prestasi," ujarnya.

Dia juga menyoroti banyak siswa berprestasi yang gagal masuk sekolah favorit karena terbentur aturan zonasi. Karena itu, adanya Sekolah Maung yang tidak memprioritaskan sistem zonasi, diharapkan dapat memfasilitasi banyak anak Jawa Barat untuk bersekolah di sekolah unggulan.

"Sekarang punya anak pintar, pengin kan masuk SMA 3? Nanti tidak masuk gara-gara bukan zonasi. Kan sayang gitu loh. Misalnya anak-anak dari berbagai daerah di seluruh Jawa Barat ingin ke SMA 3, orang tuanya punya kemampuan, kan nanti tidak masuk gara-gara dia bukan warga setempat, atau nanti manipulatif menjadi warga setempat, kan nggak bagus juga itu," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More