Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inflasi Majalengka 2,76 Persen, Beras Naik, Dompet Warga Makin Tipis
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
  • Inflasi Majalengka pada September 2026 mencapai 2,76 persen secara tahunan, dengan IHK naik dari 109,14 menjadi 112,45; inflasi bulanan tercatat 0,15 persen.
  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar sebesar 0,90 persen, disusul transportasi 0,48 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,43 persen.
  • Emas perhiasan, bensin, beras, telepon seluler, minyak goreng, dan daging ayam ras mendorong inflasi tahunan; pada September, beras dominan memicu kenaikan harga bulanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Majalengka, IDN Times - Inflasi Kabupaten Majalengka pada September 2026 mencapai 2,76 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y). Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 109,14 pada September 2025 menjadi 112,45 pada September 2026.

Kepala BPS Kabupaten Majalengka Yanti Heryanti mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas selama September 2026 secara umum menunjukkan kenaikan. Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi tercatat 0,15 persen.

"Inflasi sejak awal tahun atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,89 persen. Angka tersebut menggambarkan perubahan tingkat harga yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026," kata Yanti, Jumat (2/10/2026).

1. Makanan beri andil 0,90 persen

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan. Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 0,90 persen terhadap inflasi y-on-y September 2026.

Kelompok transportasi menyusul dengan andil 0,48 persen. Berikutnya, perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,43 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,25 persen; serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,18 persen.

Penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,15 persen. Nilai yang sama berasal dari kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga.

Kelompok pakaian dan alas kaki menyumbang 0,12 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,07 persen, sedangkan kesehatan memberikan andil 0,03 persen. Kelompok pendidikan tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan.

2. Beras, bensin dan emas masuk daftar penyumbang

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Yanti mengatakan, sejumlah komoditas tercatat dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi y-on-y. Daftar tersebut mencakup emas perhiasan, bensin, beras, telepon seluler, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, serta daging ayam ras.

Tekanan harga juga berasal dari kelompok hasil tembakau, seperti sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), dan sigaret kretek tangan (SKT).

Cabai rawit, kangkung, bayam, lemari pakaian, baju muslim wanita, makanan ringan, nasi dengan lauk, cabai merah, pisang, serta bawang putih turut tercatat sebagai komoditas penyumbang inflasi.

"Ada beberapa komoditas yang menahan laju inflasi melalui sumbangan deflasi. Komoditas tersebut antara lain jengkol, telur ayam ras, jeruk, tomat, bawang merah, semangka, sabun mandi, salak, kopi bubuk, pepaya, daun bawang, celana panjang jeans pria, biskuit, mi kering instan, pembersih lantai, dan sabun mandi cair," kata Yanti.

3. Beras jadi pemicu inflasi bulanan

Ilustrasi inflasi (freepik.com)

Yanti mengatakan, pada periode September 2026, beras menjadi salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi bulanan.

Selain beras, kenaikan harga juga tercatat pada cabai merah, pisang, cabai rawit, telepon seluler, telur ayam ras, kasur, sepatu anak, es krim, dan lemari pakaian.

Sebaliknya, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m.

Komoditas lain yang masuk daftar tersebut meliputi semangka, mentimun, jeruk, pepaya, bawang merah, tomat, celana panjang jeans pria, sandal karet wanita, kol putih atau kubis, bawang putih, apel, dan pir.

"Ini menunjukkan inflasi September 2026 terbentuk dari pergerakan harga pada berbagai kelompok pengeluaran. Secara tahunan, kenaikan IHK sebesar 2,76 persen menjadi gambaran perubahan harga konsumen dibandingkan periode yang sama pada 2025," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article