Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iboy, Bocah Empat Tahun Merajut Mimpi di Bawah Jembatan Pasupati
Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Iboy, bocah empat tahun di Bandung, rutin berlatih skateboard di Tamansari sejak tertarik menonton pemain senior. Didampingi nenek dan pelatih, ia bercita-cita menjadi atlet.

  • Sekitar 10 anak rutin bermain di Skatepark Tamansari, tetapi fasilitas bagi pemula dinilai belum memadai. Dispora Bandung mengakui revitalisasi sarana olahraga masih dilakukan bertahap.

  • Jalur prestasi skateboard terkendala kejelasan organisasi. KONI Bandung menyatakan komunitas perlu membentuk kepengurusan berjenjang agar atlet muda dapat memperoleh pembinaan dan dukungan formal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
usianya tiga tahun

Kecintaan Iboy terhadap skateboard tumbuh setelah ia sering melihat pemain senior berlatih di Skatepark Tamansari.

kini

Iboy yang berusia empat tahun rutin belajar skateboard di bawah Jembatan Pasupati dengan pendampingan neneknya dan Firman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Muhammad Alby atau Iboy, bocah empat tahun, berlatih skateboard di Skatepark Tamansari bawah Jembatan Pasupati sambil bercita-cita menjadi atlet, di tengah keterbatasan fasilitas dan jalur pembinaan.
  • Who?
    Iboy, neneknya Neti Ruyati, pelatih Firman, sekitar 10 anak yang rutin bermain, Dispora Kota Bandung, dan KONI Kota Bandung terlibat dalam aktivitas serta pembahasan pembinaan skateboard.
  • Where?
    Latihan berlangsung di Skatepark Tamansari, area bawah Jalan Layang Mochtar Kusumaatmadja atau Jembatan Pasupati, Kota Bandung.
  • When?
    Iboy mulai tertarik skateboard sejak usia tiga tahun dan kini berlatih pada usia empat tahun. Skatepark Tamansari ramai digunakan, terutama saat hari libur.
  • Why?
    Iboy tertarik setelah melihat pemain senior berlatih dan ingin terus bermain skateboard. Komunitas membutuhkan fasilitas pemula serta kejelasan organisasi untuk mendukung pembinaan atlet.
  • How?
    Iboy berlatih gerakan dasar bersama Firman dan didampingi Neti. Dispora menyatakan revitalisasi sarana dilakukan bertahap, sementara KONI menunggu pembentukan serta pengajuan organisasi skateboard secara resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Iboy adalah anak empat tahun di Bandung yang suka bermain skateboard di bawah Jembatan Pasupati. Ia mulai suka setelah melihat kakak-kakak bermain. Iboy sering jatuh, tapi ia bangun dan mencoba lagi. Nenek dan pelatihnya menemani dia. Iboy ingin jadi atlet, tetapi tempat latihan dan organisasi skateboard masih perlu diperbaiki.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah keterbatasan ruang latihan, ketekunan Iboy menunjukkan bagaimana minat anak-anak terhadap skateboard dapat tumbuh melalui keberanian, pendampingan keluarga, dan dukungan komunitas. Kehadiran pelatih serta aktivitas lintas usia di Skatepark Tamansari juga menciptakan ruang belajar yang memberi kesempatan bagi bibit-bibit muda untuk berkembang bertahap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Dentuman papan skateboard beradu dengan permukaan beton terdengar bersahutan dengan deru kendaraan yang melintas di atas Jalan Layang Mochtar Kusumaatmadja atau Jembatan Pasupati, Kota Bandung. Suara itu menjadi bagian dari keseharian di Skatepark Tamansari, tempat anak-anak hingga orang dewasa menghabiskan waktu untuk berlatih seluncur papan.

Di tengah ruang latihan yang terbatas, seorang bocah berusia empat tahun tampak sibuk mendorong papan skateboard-nya. Sesekali, ia mencoba melakukan trik dasar. Ketika berhasil, wajahnya berbinar. Namun, ketika terjatuh, ia kembali bangkit dan mencoba lagi.

Bocah itu adalah Muhammad Alby, yang akrab disapa Iboy. Di usianya yang masih belia, ia sudah akrab dengan papan skateboard dan menjadikan area di bawah Jembatan Pasupati sebagai tempat untuk belajar sekaligus merajut mimpi.

Iboy bukan satu-satunya anak kecil yang menghabiskan waktu di skatepark tersebut. Menurut Firman, pelatih sekaligus penggiat skateboard setempat, ada sekitar 10 anak yang rutin bermain di sana. Usia mereka beragam, mulai dari empat tahun hingga orang dewasa berusia 45 tahun.

"Sekarang kurang lebih ada sepuluh anak kecil yang bermain. Usianya beragam, mulai dari Iboy yang paling kecil, empat tahun, sampai orang dewasa berusia 45 tahun juga ada," ujar Firman.

Bagi mereka, skatepark itu bukan sekadar tempat bermain. Di atas permukaan beton yang terbatas, ada keberanian yang terus diasah, keterampilan yang dipelajari sedikit demi sedikit, serta harapan untuk suatu hari bisa berprestasi melalui skateboard.

1. Berawal dari menonton

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Kecintaan Iboy terhadap skateboard tumbuh sejak usianya tiga tahun. Awalnya, ia tertarik setelah sering melihat para pemain yang lebih senior berlatih di Skatepark Tamansari.

Sebagai anak yang tinggal di sekitar lokasi, Iboy kerap datang bersama neneknya, Neti Ruyati, yang kini berusia 52 tahun. Dari kebiasaan melihat para pemain itulah, ketertarikannya semakin besar hingga akhirnya ia mulai mencoba sendiri.

Firman kemudian ikut merangkul Iboy dan membantunya mengenal berbagai gerakan dasar. Perlahan, bocah itu mulai berani meluncur dan mencoba sejumlah trik, meskipun belum semuanya dikuasai dengan sempurna.

Menurut Neti, keberanian menjadi salah satu kelebihan Iboy. Ia tidak mudah menyerah meski beberapa kali terjatuh saat berlatih.

"Dia punya kelebihan, yaitu berani dan tidak takut jatuh. Padahal dia sering jatuh, bahkan pernah jatuh parah, tetapi tidak pernah mengeluh atau bilang sakit," kata Neti.

Sehari-hari, Neti mendampingi Iboy berlatih karena kedua orang tuanya bekerja. Ia menjadi orang yang paling sering melihat bagaimana cucunya itu belajar, jatuh, bangkit, lalu kembali mencoba.

Meski begitu, mendampingi anak berusia empat tahun berlatih skateboard bukan perkara mudah. Tantangannya bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menjaga suasana hati agar Iboy tetap mau berlatih.

Firman mengatakan, Iboy terkadang kehilangan semangat ketika suasana hatinya berubah. Dalam kondisi seperti itu, ia memilih memberi waktu agar Iboy kembali tenang sebelum melanjutkan latihan.

"Kalau sudah ngambek atau tantrum, biasanya saya biarkan tenang dulu atau dikasih jajanan supaya mood-nya bagus lagi," ucap Firman.

Di balik tingkahnya yang masih khas anak-anak, Iboy ternyata sudah memiliki keinginan sendiri tentang masa depannya. Ia ingin terus bermain skateboard, bahkan bercita-cita menjadi atlet. Dengan suara pelan dan wajah malu-malu, Iboy mengungkapkan keinginannya itu.

"Cita-citanya ingin terus bermain skateboard," kata Iboy sambil menundukkan kepala.

Neti belum sepenuhnya mengamini cita-cita cucunya tersebut. Namun, dukungan untuk Iboy terus diberikan. Baginya, keinginan sang cucu untuk bermain skateboard tetap perlu mendapat ruang, selama ia bisa belajar dan berkembang dengan baik.

2. Mimpi atlet terbentur keterbatasan fasilitas

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Semangat Iboy dan anak-anak lain di Skatepark Tamansari memperlihatkan bahwa minat terhadap skateboard tumbuh sejak usia dini. Namun, semangat itu belum sepenuhnya ditopang fasilitas yang memadai.

Firman menilai, kebutuhan fasilitas bagi pemula masih menjadi persoalan. Skatepark yang tersedia belum mampu memfasilitasi seluruh kebutuhan komunitas, terutama anak-anak yang sedang mempelajari teknik dasar.

Sementara itu, fasilitas berstandar internasional yang disebutnya berada di kawasan Soreang, Kabupaten Bandung, relatif jauh bagi sebagian pemain di Kota Bandung. Fasilitas tersebut juga lebih diarahkan untuk kebutuhan atlet profesional.

Padahal, sebelum sampai ke tahap profesional, para pemain membutuhkan ruang untuk belajar dan berlatih secara bertahap. Fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan pemula menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Minat masyarakat terhadap skateboard terlihat dari aktivitas di Skatepark Tamansari. Saat hari libur, area itu bahkan bisa dipenuhi pengunjung yang datang untuk bermain maupun berlatih.

Kondisi ini memperlihatkan adanya kebutuhan ruang olahraga yang tidak hanya berorientasi pada atlet berprestasi, tetapi juga mendukung proses pembibitan sejak usia dini.

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, Hendy Maulana Yusup, mengakui fasilitas skateboard yang tersedia belum maksimal dalam mengakomodasi kebutuhan komunitas dan atlet.

"Untuk fasilitas, memang dirasakan masih belum maksimal dalam memfasilitasi seluruh komunitas dan atlet dari cabang olahraga skateboard. Namun, pemerintah kota pada dasarnya selalu ingin memberikan yang terbaik," kata Hendy.

Ia menjelaskan, revitalisasi sarana olahraga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas dari 17 sarana olahraga yang berada di bawah pengelolaan Dispora Kota Bandung.

Pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan kawasan publik, termasuk Skatepark Tamansari, sebagai ruang aktivitas olahraga masyarakat.

Namun, perbaikan fasilitas dan penataan ruang latihan tetap menjadi pekerjaan yang perlu dituntaskan. Sebab, bagi anak-anak seperti Iboy, tempat berlatih yang memadai menjadi salah satu penunjang agar mereka bisa mengembangkan kemampuan secara lebih optimal.

3. Persoalan organisasi menjadi sandungan pembinaan atlet

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Selain fasilitas, perjalanan skateboard menuju jalur olahraga prestasi juga menghadapi persoalan kelembagaan. Potensi atlet muda yang tumbuh di komunitas belum otomatis membuat mereka bisa masuk ke dalam sistem pembinaan olahraga prestasi.

Ketua KONI Kota Bandung, Nuryadi, menjelaskan bahwa skateboard perlu memiliki kejelasan jalur organisasi apabila ingin masuk ke dalam pembinaan olahraga prestasi melalui KONI.

Menurutnya, proses tersebut harus dimulai dari pembentukan induk organisasi di tingkat pusat, dilanjutkan dengan pembentukan kepengurusan provinsi hingga cabang di daerah.

"Kalau skateboard ingin masuk ke olahraga prestasi, induk organisasinya harus dibentuk terlebih dahulu di tingkat pusat dan berkoordinasi dengan KONI Pusat. Setelah itu dibentuk pengprov, kemudian pengcab. Jadi, tidak bisa tiba-tiba langsung masuk ke KONI," kata Nuryadi.

Ia mengaku belum menerima surat resmi atau pengajuan dari komunitas skateboard terkait legalitas organisasi di Kota Bandung. Kejelasan kelembagaan menjadi penting karena dukungan formal, termasuk bantuan anggaran dan pembinaan melalui organisasi olahraga, harus mengikuti ketentuan administratif yang berlaku.

Nuryadi mengapresiasi perkembangan komunitas skateboard di bawah Jembatan Pasupati. Ia berharap para penggiat segera berhimpun dan melengkapi persyaratan organisasi agar potensi atlet muda bisa mendapatkan pembinaan yang lebih terarah.

"Pemerintah pada prinsipnya mendukung. Jangan sampai potensi anak-anak muda ini terhambat hanya karena persoalan kelembagaan yang sebenarnya masih bisa diupayakan penyelesaiannya," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

v10 Oct 2026, 09:53 WIB