Bandung, IDN Times – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam cara informasi diproduksi dan disebarkan. Teknologi ini membuka peluang baru dalam komunikasi, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran disinformasi, deepfake, dan manipulasi persepsi publik.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kecanggihan teknologi belum tentu menjamin kebenaran sebuah pesan. Informasi yang keliru dapat tersebar luas dalam waktu singkat, sehingga kemampuan memverifikasi fakta dan menjaga kredibilitas menjadi semakin penting.
Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS), Boy Kelana, menilai perkembangan AI perlu diimbangi dengan tanggung jawab dalam mengelola informasi. Menurutnya, teknologi dapat memperluas jangkauan komunikasi, tetapi tidak selalu mampu menilai kebenaran dan etika di balik sebuah narasi.
“Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan,” ujar Boy dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo, 17 Oktober 2026.
