Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AI Makin Canggih, Tantangan Menangkal Disinformasi Meningkat

Kota Bandung
3 min read
AI Makin Canggih, Tantangan Menangkal Disinformasi Meningkat
AI Makin Canggih, Tantangan Menangkal Disinformasi Meningkat (Dok. APEKSI)
  • Perkembangan AI mempercepat produksi dan penyebaran informasi, sekaligus meningkatkan risiko disinformasi, deepfake, berita palsu, serta manipulasi persepsi publik.
  • Algoritma dapat menyebarkan narasi ke jutaan orang dalam hitungan detik, sehingga berpikir kritis, verifikasi fakta, akurasi, dan pertimbangan etis makin dibutuhkan.
  • Publik kini banyak mencari informasi melalui AI; karena itu, institusi perlu menyediakan data tepercaya, sementara manusia tetap menentukan kualitas penggunaan teknologi melalui pemahaman konteks dan kebijaksanaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam cara informasi diproduksi dan disebarkan. Teknologi ini membuka peluang baru dalam komunikasi, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran disinformasi, deepfake, dan manipulasi persepsi publik.

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kecanggihan teknologi belum tentu menjamin kebenaran sebuah pesan. Informasi yang keliru dapat tersebar luas dalam waktu singkat, sehingga kemampuan memverifikasi fakta dan menjaga kredibilitas menjadi semakin penting.

Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS), Boy Kelana, menilai perkembangan AI perlu diimbangi dengan tanggung jawab dalam mengelola informasi. Menurutnya, teknologi dapat memperluas jangkauan komunikasi, tetapi tidak selalu mampu menilai kebenaran dan etika di balik sebuah narasi.

“Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan,” ujar Boy dalam Konvensi Humas Indonesia di Solo, 17 Oktober 2026.

  1. 1. Algoritma mempercepat penyebaran informasi keliru

    ilustrasi algoritma (pixabay.com/geralt)
    ilustrasi algoritma (pixabay.com/geralt)

    Boy menyoroti kemampuan algoritma dalam menyebarkan sebuah narasi kepada jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Kecepatan tersebut menjadi tantangan ketika informasi yang beredar belum terverifikasi atau sengaja dibuat untuk memengaruhi persepsi publik.

    “Algoritma dapat membuat sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, algoritma tidak selalu dapat membedakan mana yang benar, mana yang adil, dan mana yang bertanggung jawab,” katanya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Minggu (18/10/2026).

    Karena itu, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan pertimbangan etis. Penggunaan AI dalam komunikasi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan jangkauan, tetapi juga perlu memperhatikan akurasi serta dampak informasi terhadap masyarakat.

  2. 2. Kredibilitas data menjadi tantangan di era AI

    Ilustrasi analisis big data. (pexels.com/Pixabay)
    Ilustrasi analisis big data. (pexels.com/Pixabay)

    Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan perubahan teknologi turut mengubah cara masyarakat memperoleh informasi mengenai organisasi, perusahaan, maupun lembaga. Publik kini tidak selalu mengakses informasi langsung dari institusi terkait, tetapi juga melalui layanan pencarian berbasis AI.

    “Sekarang ini kalau kita lihat kekuatan humas sebetulnya bagaimana kita memproduksi data-data itu menjadi data-data yang trusted. Namun hari ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi yang langsung berhubungan dengan humas, tapi lewat Artificial Intelligence,” ujar Nezar.

    Menurutnya, situasi tersebut membuat penyediaan data yang tepercaya menjadi semakin penting. Informasi yang dipublikasikan perlu memiliki dasar yang kuat agar dapat menjadi rujukan di tengah perubahan cara masyarakat mencari dan memahami informasi.

  3. 3. Kemampuan manusia tetap menentukan penggunaan AI

    Ilustrasi AI. (pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi AI. (pexels.com/cottonbro studio)

    Nezar menegaskan, tantangan komunikasi pada era AI bukan lagi sekadar memastikan akses terhadap informasi, melainkan juga menjaga kedalaman dan kualitasnya. Pemanfaatan teknologi perlu disertai kemampuan untuk memahami konteks serta menilai informasi secara bijaksana.

    “Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi akses, tetapi soal kedalaman. Memakai AI saja tidak cukup, yang menentukan adalah kapabilitas dan kebijaksanaan dalam menggunakannya,” kata Nezar.

    Sejalan dengan itu, Boy menilai kemampuan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional, empati, dan kebijaksanaan. Pelaku komunikasi juga perlu memahami persoalan lokal tanpa kehilangan perspektif global.

    “Kita membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Kita membutuhkan data dan teknologi, tetapi juga empati dan wisdom. Kita harus memahami persoalan lokal, tetapi tidak boleh kehilangan perspektif global,” ujar Boy.

    Perkembangan AI pada akhirnya menuntut keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan tanggung jawab manusia. Di tengah meningkatnya risiko disinformasi, akurasi, etika, serta kemampuan menilai konteks menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More