Comscore Tracker

Disindir DPR karena Tak Hadir Rapat Banjir, Ini Jawaban Ridwan Kamil

Ridwan Kamil memutuskan pulang lebih cepat dari Australia

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjadi salah satu pemimpin daerah yang disindir dewan perwakilan rakyat (DPR) saat membahas persoalan banjir yang melanda DKI Jakarta dan Jabar. Sindiran itu muncul setelah DPR mengundang Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak hadir dalam rapat dengar pendapat.

Namun, setelah melihat kondisi banjir di Jabar cukup parah, Ridwan Kamil (RK) memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia dari lawatannya di Australia. Padahal jadwal kunjungan kerja di Negeri Kangguru tersebut semestinya belum berakhir.

Saat pulang ke Indonesia, Emil pun langsung bergegas datang ke Kecamatan Pamanukan, Subang, melihat kondisi banjir yang menghancurkan rumah dan jalanan warga sekitar.

"Bukan karena kami tidak menghormati (datang pada RDP di DPR). Kalau saya ada di RI pasti hadir," ujar Emil usai meninjau banjir, Kamis (27/2).

Emil menuturkan, dia baru saja mendarat dari Australia hari ini. Seketika langsung terbang kembali menggunakan helikopter menuju Subang. Dia memastikan akan terus memantau secara langsung kondisi daerah yang terdampak banjir.

1. Masalah banjir dari sungai bukan hanya urusan pemerintah daerah

Disindir DPR karena Tak Hadir Rapat Banjir, Ini Jawaban Ridwan KamilIDN Times/Debbie Sutrisno

Mantan Wali Kota Bandung ini mengatakan, banjir yang ada di beberapa daerah termasuk di Subang dikarenakan pendangkalan sungai yang membuat air lebih cepat meluap ke pemukiman warga. Untuk mengeruk sungai agar lebih dalam tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah daerah (pemda) baik kabupaten/kota atau provinsi. Kewenangan terkait dengan kondisi sungai terdapat di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Ada di BBWS (balai besar wilayah sungai). Jadi kita terus upayakan walau ada di wilayah kita tapi harus tetap dikoordinasikan. Karena ini dalam tata kelola pemerintah pusat," ujarnya.

2. Langkah antisipasi terus dilakukan

Disindir DPR karena Tak Hadir Rapat Banjir, Ini Jawaban Ridwan KamilIDN Times/Debbie Sutrisno

Emil pun memastikan selama ini pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi agar dampak banjir bisa terminimalisir. Secara fisik pengerjaan normalisasi sungai coba dioptimalkan, meskipun program ini berbalapan dengan cuaca yang masih ekstrem.

"Memang cuaca berdasarkan BMKG juga masih tinggi (curah hujan). Tapi kita coba terus koordinasikan," kata dia.

3. Terdapat sejumlah rumah yang hancur diterjang banjir

Disindir DPR karena Tak Hadir Rapat Banjir, Ini Jawaban Ridwan KamilIDN Times/Debbie Sutrisno

Di Kampung Kedung Gede, Kecamatan Pamanukan, terdapat sejumlah rumah yang hancur terkena terjangan banjir dari sungai Cipunagara. Salah satu rumah yang hancur milik Ayum (62).

Dia menceritakan, banjir yang kali ini menerjang sangat besar. Padahal ketika ada banjir besar pada 2014 rumahnya masih aman dari banjir. Namun kali ini, derasnya arus sungai yang tinggi dan besar membuat rumah yang baru diperbaikinya ini hancur.

"Saya pikir tidak akan sebesar ini. Tapi pas Senin dini hari kemarin itu gede banget airnya. Tinggi. Saya sama suami langsung melarikan diri ke jalan," kata dia

Atas kejadian ini, Ayum sekarang harus menginap di rumah tetangga. Sedangkan untuk keseharian dia harus meminta-minta dan berharap bantuan tetangga karena gerobak untuk berjualan kacang hijau pun tersapu banjir.

"Saya minta bantuan kepada pemerintah atau warga yang mau memberi uang buat bangun rumah saya lagi. Saya tinggal hanya berdua tidak ada anak atau keluarga dekat," ujarnya.

4. Banjir kali ini cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir

Disindir DPR karena Tak Hadir Rapat Banjir, Ini Jawaban Ridwan KamilIDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu, kondisi yang mengkhawatirkan pun terlihat pada Paud Nurul Aulad Yasya yang ada di sekitar kampung ini. Paud yang sebenarnya tidak jauh dari jalan raya tersebut juga terkena banjir hampir satu meter. Alhasil kondisi ruangan rusak dan alat belajar mengajar hancur.

"Buku anak-anak rusak kena air. Meja, kursi, lemari, dan alat belajar lain juga jadi tidak bisa digunakan," kata Ketua Yayasan Hamdan Fuadi Rofie ketika ditemui.

Dia menuturkan, banjir besar yang terakhir terjadi pada 2014. Setelah itu paud ini tidak pernah terkena banjir meski semata kaki.

Namun, kali ini banjir tidak bisa terprediksi karena terjadi pada dini hari di mana warga pun masih tertidur. Sehingga pihak yayasan dan warga sekitar tidak bisa membantu membereskan barang sebelum terkena air banjir.

Baca Juga: Hujan Deras dan Banjir, Ribuan Warga Subang Terpaksa Mengungsi 

Baca Juga: Lagi, Mayat Remaja Terseret Banjir di Tangsel Tersangkut Jaring

Topic:

  • Yogi Pasha

Berita Terkini Lainnya