Setelah Jalankan Bisnis 2 Dekade, Golden France Kini Kembangkan Petit Croissant

- Golden France mengembangkan croissant sejak berdiri pada 2004, saat panganan asal Prancis tersebut masih belum akrab bagi masyarakat Bogor.
- Pemilik Golden France, Oryza Sativa, melihat minimnya popularitas croissant sebagai peluang untuk memperkenalkan produk baru kepada konsumen lokal.
- Tim Golden France mempelajari dan menguji berbagai resep demi mempertahankan karakter croissant sekaligus menyesuaikannya dengan selera serta kebiasaan masyarakat Indonesia.
Bandung, IDN Times - Ada makanan yang datang dari tempat jauh, tetapi kemudian menemukan rumahnya di tempat lain. Perjalanan itu pula yang terjadi pada croissant yang dikembangkan Golden France sejak usaha tersebut berdiri pada 2004.
Ketika Golden France mulai berdiri, croissant belum menjadi panganan yang begitu akrab bagi masyarakat Bogor. Bagi Oryza Sativa, pemilik Golden France, kondisi tersebut justru menjadi peluang untuk memperkenalkan sesuatu yang masih terasa asing.
Alih-alih hanya menjual croissant, Oryza dan timnya mencoba mencari tahu bagaimana membuat panganan asal Prancis tersebut dapat diterima oleh lidah dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Berbagai resep dipelajari dan diuji hingga akhirnya Golden France menemukan formula yang dinilai sesuai.
"Kalau melihat perjalanan Golden France sekarang, sebenarnya semuanya berawal dari rasa penasaran. Waktu itu kami melihat croissant masih belum terlalu dikenal di Bogor. Kami kemudian mencoba memahami bagaimana membuat produk yang tetap punya karakter croissant, tetapi bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Prosesnya panjang, dan kami terus belajar dari waktu ke waktu,” ujar Oryza, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Minggu (20/9/2026).
1. Berawal dari peluang saat croissant belum begitu dikenal

ilustrasi croissant (freepik.com/valeria_aksakova) Dari proses panjang tersebut, Golden France kemudian menghadirkan croissant dengan bahan baku premium yang tetap diupayakan agar terjangkau. Namun, perjalanan usaha ini tidak berhenti pada upaya membuat croissant yang sesuai dengan selera konsumen.
Lebih dari dua dekade setelah berdiri, Golden France mulai melihat kembali bagaimana panganan dari Prancis tersebut bisa memiliki cerita berbeda ketika tumbuh di tengah masyarakat Bogor. Salah satu bentuknya hadir melalui petit croissant yang berukuran lebih kecil dari croissant pada umumnya.
“Dulu croissant masih sesuatu yang cukup asing, terutama di Bogor. Dari situ kami melihat ada peluang, lalu kami mencoba mencari resep yang paling tepat. Setelah perjalanan panjang, kami ingin croissant juga punya cerita sendiri di Bogor,” ujar Oryza.
2. Petit croissant menjadi bagian dari identitas Golden France

ilustrasi aneka menu croissant (unsplash.com/Anastasiya Badun) Petit croissant menjadi salah satu cara Golden France membangun identitas. Croissant tidak lagi sekadar diperkenalkan sebagai panganan khas Prancis, tetapi perlahan ditempatkan dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Dari sana muncul gagasan agar croissant dapat menjadi oleh-oleh yang lekat dengan Bogor. Seperti makanan atau produk khas lain yang membawa ingatan tentang sebuah kota, Golden France ingin produk tersebut tidak hanya menjadi makanan yang dibeli, tetapi juga bagian dari cerita orang yang berkunjung.
Selama lebih dari 20 tahun, perjalanan Golden France pun tidak hanya berkutat pada croissant. Toko kue ini berkembang dengan menghadirkan berbagai produk lain, mulai dari lapis talas, cake, roti, hingga donat.
3. Memperluas usaha tanpa meninggalkan cerita awal

Setelah Jalankan Bisnis 2 Dekade, Golden France Kini Kembangkan Petit Croissant (Dok. Golden France) Dari sebuah oven dan toko kecil, Golden France kini telah membuka sejumlah cabang di Sawangan, Meruyung, Kota Wisata, Cileungsi, Jonggol, dan Gunung Putri. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan usaha yang berupaya tumbuh mengikuti konsumennya.
“Kami tidak ingin hanya mengatakan bahwa croissant adalah makanan dari Prancis. Setelah lebih dari 20 tahun, kami ingin punya cerita sendiri. Petit croissant adalah salah satu bagian dari cerita itu. Harapannya, ketika orang datang ke Bogor dan membawa pulang Golden France, yang mereka bawa bukan hanya makanan, tetapi juga sedikit cerita tentang Kota Hujan,” ujar Oryza.
Kini, setelah lebih dari dua dekade, Golden France berada di antara upaya mempertahankan croissant sebagai titik awal perjalanan sekaligus mencari bentuk baru untuk berkembang. Dari peluang yang muncul pada 2004, Golden France ingin membangun cerita lebih panjang tentang bagaimana panganan yang dahulu terasa asing perlahan menemukan tempatnya dalam keseharian masyarakat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























