Ilustrasi telur (pexels.com/Klaus Nielsen)
OJK juga melihat pengembangan ekosistem ayam petelur dapat mendukung efisiensi pengadaan bahan pangan untuk program makan bergizi gratis (MBG). Darwisman memproyeksikan, program tersebut dapat berkontribusi terhadap efisiensi anggaran pemerintah untuk MBG di Jawa Barat sekitar Rp4,23 triliun per tahun.
Skemanya dilakukan dengan menghubungkan peternak telur secara langsung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan rantai pasok tersebut, harga telur diproyeksikan bisa lebih rendah sekitar 10-15 persen per kilogram dibandingkan pembelian melalui pasar.
"Kerja sama antara SPPG dan peternak ini memberikan manfaat harga telur yang lebih rendah sebesar 10 sampai 15 persen per kilogram dibandingkan kalau nanti SPPG-nya harus beli langsung ke pasar," kata Darwisman.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan peresmian ekspor 7.000 ekor day old chick (DOC) dan 6,3 ton produk olahan ke Timor-Leste dengan nilai sekitar 22 ribu dolar AS. Selain Timor-Leste, DOC tersebut direncanakan diekspor ke Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Saat ini masih ada sejumlah pekerjaan yang perlu diperkuat, mulai dari tingginya harga pakan, volatilitas harga telur, akses pembiayaan, hingga tata kelola peternakan. OJK juga mendorong perluasan kepemilikan Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Saat ini, menurut Darwisman, baru 39 pelaku usaha ternak ayam petelur yang memiliki NKV.
"Pengembangan industri tepung telur, mengubah telur ayam menjadi produk bernilai tambah, serta perluasan akses ekspor dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha ternak ayam petelur di Jawa Barat," ujarnya.
Program tersebut ditujukan untuk membangun ekosistem usaha ayam petelur di 18 kabupaten dan 9 kota di Jawa Barat melalui kolaborasi pemerintah daerah, industri jasa keuangan, peternak, eksportir, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.