Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla di Jabar Hanguskan 833 Hektare Lahan, Sumedang Terluas
Ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
  • BPBD Jawa Barat mencatat 451 kejadian karhutla hingga 13 Oktober 2026, membakar 833,78 hektare lahan di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan.

  • Sumedang mencatat kejadian terbanyak, 75 kasus dengan 141,56 hektare terbakar; disusul Ciamis, Subang, Sukabumi, Banjar, dan Kabupaten Bandung.

  • Kebakaran lahan memicu kebakaran TPA Garut yang berstatus tanggap darurat 14 hari; api bawah permukaan dan gas metana menyulitkan pemadaman serta berisiko menimbulkan ISPA.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
13 Oktober 2026

BPBD Jawa Barat mencatat 833,78 hektare lahan terbakar dari 451 kejadian karhutla yang tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan. Sumedang menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak.

Rabu (14/10/2026)

BPBD Jawa Barat menyatakan pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari atas kebakaran TPA di Garut yang bermula dari kebakaran lahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebakaran hutan dan lahan di Jawa Barat telah membakar 833,78 hektare dari 451 kejadian. Kebakaran juga terjadi di TPA Garut, yang berawal dari kebakaran lahan.
  • Who?
    BPBD Jawa Barat mencatat kejadian tersebut. Kabupaten Sumedang mencatat kasus terbanyak, sementara pemerintah daerah Garut menetapkan tanggap darurat untuk kebakaran TPA.
  • Where?
    Kejadian tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan di Jawa Barat, termasuk Sumedang, Ciamis, Subang, Sukabumi, Banjar, Bandung, Garut, dan TPA Galuga di Bogor.
  • When?
    Data karhutla tercatat hingga 13 Oktober 2026. Status tanggap darurat kebakaran di Garut ditetapkan selama 14 hari dan dikonfirmasi BPBD pada 14 Oktober 2026.
  • Why?
    Penyebab pasti kebakaran di Garut masih belum diketahui karena pemeriksaan belum dilakukan. BPBD menyebut kelalaian manusia, seperti puntung rokok atau aktivitas membakar, kerap menjadi penyebab berdasarkan kejadian sebelumnya.
  • How?
    Api di TPA dapat bertahan di bawah timbunan sampah dan muncul kembali akibat gas metana, meski api permukaan telah dipadamkan. Penanganan dilakukan dengan mengantisipasi kebakaran bawah permukaan dan risiko ISPA.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak hutan dan tanah di Jawa Barat terbakar. Sampai 13 Oktober, luasnya 833 hektare lebih. Sumedang paling banyak kebakaran. Di Garut, tempat sampah besar juga terbakar dari api di lahan. Pemerintah membuat keadaan darurat selama 14 hari. Api bisa masih hidup di bawah sampah dan membuat orang susah bernapas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pencatatan rinci BPBD Jawa Barat atas sebaran dan luas karhutla memberikan dasar yang jelas untuk memahami wilayah paling terdampak. Di Garut, penetapan status tanggap darurat selama 14 hari juga mencerminkan respons pemerintah daerah terhadap karakter kebakaran TPA yang kompleks, termasuk risiko api bawah permukaan dan dampak kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat ada sebanyak 833,78 hektare lahan di Jawa Barat terbakar akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 13 Oktober 2026. Lima kabupaten dan kota tercatat menjadi daerah terbanyak terjadinya kasus Karhutla.

Dari lima daerah tersebut, Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 75 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 141,56 hektare. Di posisi berikutnya, Kabupaten Ciamis mencatat 55 kejadian dengan luas 86,47 hektare, disusul Kabupaten Subang sebanyak 49 kejadian dengan luas lahan terbakar 113,63 hektare.

Selanjutnya, Kabupaten Sukabumi mencatat 38 kejadian karhutla dengan luas 71,07 hektare. Sementara itu, Kota Banjar mengalami 33 kejadian dengan luas 45,19 hektare, dan Kabupaten Bandung mencatat 32 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 36,45 hektare.

1. Kebakaran lahan di Garut merembet ke TPA

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Karhutla di Jabar juga membuat tempat pemrosesan akhir (TPA) di Garut mengalami kebakaran. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk kejadian kebakaran di Garut.

"Di Garut juga terjadi kebakaran lahan. Kebakaran sebenarnya terjadi di TPA, tetapi bermula dari kebakaran lahan," ujar Teten saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).

2. Penanganan tidak bisa sembarangan karena ada potensi gas metana

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Teten menjelaskan, kebakaran di tempat pemrosesan akhir memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam.

Menurut dia, api dapat bertahan di bawah tumpukan sampah dan kembali muncul meskipun kobaran di permukaan sudah berhasil dipadamkan. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan keberadaan gas metana dari timbunan sampah.

"Api di bawah permukaan terkadang masih menyala meskipun api di atas sudah padam. Kemudian, api bisa muncul kembali karena adanya gas metana," katanya.

3. Kebakaran TPA berisiko ganggu kesehatan

Ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Teten menyebut salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, penanganan kebakaran tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api yang terlihat di permukaan.

"Dampaknya juga berkaitan dengan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal-hal seperti ini yang harus diantisipasi," katanya.

Meski demikian, BPBD Jabar belum menyampaikan data mengenai jumlah warga yang terdampak gangguan kesehatan akibat kebakaran di Garut maupun luas area TPA yang terbakar.

Mengenai penyebab pasti, Teten mengatakan kelalaian manusia kerap menjadi salah satu penyebab kebakaran lahan maupun TPA berdasarkan pengalaman penanganan kejadian sebelumnya.

"Kami belum melakukan pemeriksaan. Biasanya penyebab kebakaran di Jawa Barat antara lain puntung rokok atau aktivitas membakar sesuatu," kata Teten.

Berdasarkan catatan BPBD Jabar, kebakaran TPA pada saat musim kemarau disertai El Nino tahun ini tidak hanya di wilayah Garut, TPA Galuga, Bogor juga mengalami kasus serupa. Sementara, dari 833,78 hektare lahan yang terbakar itu berasal dari 451 kejadian Karhutla, tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article