Piala Presiden Elite 2026: Upaya Tertib di Lapangan hingga Laporan Keuangan

Bandung, IDN Times – Di tengah lautan biru Bobotoh yang memadati Stadion Si Jalak Harupat, seorang Aremania (panggilan bagi pendukung Arema FC) tampak tenang menggandeng tangan anaknya. Pemandangan yang beberapa tahun lalu nyaris mustahil terjadi dan kerap memicu ketegangan itu, malam itu justru menjadi potret nyata dari babak baru sepak bola Indonesia.
Pria itu adalah Julius. Ia rela menempuh perjalanan darat selama sepuluhjam dari Mergosono, Kota Malang, menggunakan mobil pribadi demi mengawal Arema FC yang bersua Persib Bandung dalam laga pembuka Piala Presiden 2026.
Bagi sebagian suporter, menempuh jarak ratusan kilometer mungkin terdengar biasa. Namun bagi Julius, perjalanan kali ini memikul misi dan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mendukung tim berjuluk Singo Edan tersebut.
Rasa cemas memang sempat menghantuinya sebelum memantapkan niat datang ke Bumi Pasundan, tetapi kecintaan pada klub akhirnya menuntun langkah kakinya hingga ke stadion.
"Alhamdulillah, sampai sekarang rasanya nyaman sekali. Warga Bandung sangat terbuka menerima kedatangan kami," ujar Julius kepada IDN Times, Sabtu (25/7/2026) malam.
Kehadirannya menjadi oase di tengah sejarah rivalitas panjang yang biasanya dibalut tensi tinggi. Malam itu, segala ketakutan Julius luruh seketika berkat senyuman hangat dari para Bobotoh. Sepanjang pertandingan berlangsung, yel-yel untuk membakar semangat para pemain tetap menggema lantang dari tribun tanpa ada gesekan.
Bahkan ketika peluit panjang dibunyikan dan Arema FC harus mengakui keunggulan tipis Persib 1-0 melalui gol Uilliam Barros di menit ke-24, kekalahan tersebut tidak membuat kebahagiaan Julius ciut. Baginya, esensi terdalam dari sepak bola telah terpenuhi: bisa memberikan dukungan langsung di tribun dan pulang ke rumah dengan selamat.
"Kalah pun enggak masalah. Itu sudah biasa dalam sepak bola," tuturnya, sembari tersenyum.

Ujian Kedewasaan dan Standar Baru Tata Kelola Julius hanyalah satu contoh dari sekian banyak Aremania yang berani hadir langsung di Si Jalak Harupat. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa makna fair play tidak lagi kaku sebatas sikap sportif 22 pemain di atas rumput hijau.
Nilai tersebut kini hidup di tribun stadion, terjaga sepanjang perjalanan suporter, hingga tecermin dalam cara penyelenggara mengelola turnamen.
Ketua Panitia Pelaksana Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, menyebut pertemuan dua kelompok suporter besar di laga pembuka ini merupakan ujian penting bagi potret sepak bola Indonesia ke depan.
"Kami berharap semuanya berlangsung tertib, aman, dan nyaman. Kita semua harus menyadari bahwa berbeda dukungan klub itu tidak masalah. Yang penting tetap satu, Merah Putih," ujar Tsamara.
Harapan tersebut rupanya bukan sekadar jargon di atas kertas. Antusiasme publik luar biasa besar. Panitia mencatat 24 ribu tiket pembukaan di Bandung ludes terjual, sementara laga fase grup di Surabaya sudah mengantongi angka penjualan sekitar 35 ribu tiket. Dengan animo yang tinggi ini, pengamanan berlapis pun diterapkan dengan melibatkan steward, unsur keamanan sipil, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga komunitas masyarakat.

Di balik kemegahan pembukaan, Piala Presiden 2026 juga mencoba menguatkan kembali fondasi kepercayaan publik lewat tata kelola yang bersih dan transparan. Ketua Steering Committee Piala Presiden, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa seluruh penyelenggaraan turnamen ini sama sekali tidak menyentuh uang negara atau APBN.
Pendanaan sepenuhnya bergerak secara mandiri dari sektor swasta (sponsor) yang nilainya telah menembus Rp60 miliar. Demi menjaga akuntabilitas, seluruh perputaran uang di dalamnya diaudit langsung oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu firma auditor internasional terkemuka.
"Kepercayaan dan transparansi adalah nomor satu," kata Maruarar lugas.
Langkah maju ini diapresiasi oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Menurutnya, Piala Presiden bukan hanya turnamen pramusim, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem sepak bola Indonesia yang semakin profesional.
"Semakin banyak kompetisi bagi pemain dan klub, semakin bagus. Piala Presiden menjadi bagian memperkaya jam terbang semua pihak," ujarnya.

Sementara itu, pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, mengaku puas dengan performa anak asuhnya di laga perdana ini. Menurut Igor, pertandingan melawan Arema FC menjadi momentum penting untuk melihat kedalaman skuad serta pola permainan para pilar baru yang baru berkumpul selama dua minggu.
"Saya melihat apa yang jarang saya lihat sebelumnya, yaitu para pemain menikmati bermain satu sama lain. Anda dapat melihat bahwa mereka mencoba untuk saling mengenal dan memahami di lapangan," katanya.
Pada akhirnya, perjalanan sepuluh jam dari Malang ke Bandung tidak hanya mengantar Julius menyaksikan pertandingan sepak bola. Perjalanan itu mengantarnya melihat sesuatu yang selama ini dirindukan banyak orang: rivalitas yang tetap hangat, stadion yang terasa aman, dan sepak bola Indonesia yang perlahan belajar mempercayai dirinya sendiri.





















