Air pegunungan kerap dianggap sebagai sumber daya yang tak pernah habis. Jernih, segar, dan bernilai ekonomi tinggi, air dari kawasan Gunung Ciremai selama ini dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, termasuk komersial. Namun, di balik botol-botol air yang beredar luas, tersimpan persoalan yang tak selalu terlihat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui KDM kini mengambil langkah tegas. Setelah ditemukan sejumlah pelanggaran, komersialisasi air dari kawasan Gunung Ciremai dibatasi. Alasannya bukan sekadar administrasi, melainkan upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber air bagi masyarakat sekitar.
Kebijakan ini pun memicu perdebatan. Di satu sisi, perlindungan lingkungan dianggap mutlak. Di sisi lain, pembatasan ini berdampak pada pelaku usaha dan rantai ekonomi yang telah berjalan lama.
Kalau kamu berada di posisi pengambil kebijakan atau warga terdampak, keputusan ini kamu anggap sebagai langkah penyelamatan alam, atau justru pembatasan yang terlalu jauh? Ikuti kuis ini dan lihat di mana posisi pandanganmu.
