Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengamat Unpad Ungkap Peran Listrik Andal dalam Menarik Investasi
Re-energizing listrik PLN di Jampangkulo, Kabupaten Sukabumi. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Keandalan listrik dinilai krusial bagi daya saing dan iklim investasi karena industri, UMKM, rumah sakit, pusat data, pertanian, hingga perikanan membutuhkan pasokan yang stabil dan pasti.
  • Bonti Wiradinata menekankan perencanaan listrik nasional perlu selaras dengan perkembangan ekonomi daerah, melalui sinergi PLN, pemerintah, dan dunia usaha berbasis data kebutuhan serta potensi investasi.
  • Pembangunan kelistrikan didorong berorientasi pada nilai tambah: listrik perlu mendukung produksi, digitalisasi, pengolahan, dan penyimpanan agar meningkatkan produktivitas, investasi, pendapatan, serta peluang kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Keandalan pasokan listrik dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing daerah sekaligus menciptakan iklim investasi yang kondusif. Pasalnya, kebutuhan listrik dunia usaha kini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga kepastian dan kemampuan listrik dalam mendukung aktivitas ekonomi.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, mengatakan listrik telah menjadi bagian penting dari berbagai sektor ekonomi, mulai dari industri, UMKM, rumah sakit, pusat data, hingga pertanian dan perikanan.

“Listrik bagi dunia usaha bukan hanya soal ada atau tidak ada saja, melainkan soal andal atau tidaknya listrik tersebut,” kata Bonti melalui siaran pers diterima IDN Times, Jumat (2/10/2026).

1. Kebutuhan listrik setiap sektor berbeda

Re-energizing listrik PLN di Jampangkulo, Kabupaten Sukabumi. IDN Times/Debbie Sutrisno

Menurut Bonti, kebutuhan kelistrikan setiap sektor ekonomi memiliki karakter yang berbeda. Kawasan industri, misalnya, membutuhkan pasokan listrik yang stabil untuk menjaga proses produksi tetap berjalan. Sementara sektor pertanian memanfaatkan listrik untuk mendukung irigasi hingga pengolahan hasil pertanian. Adapun sektor perikanan membutuhkan pasokan listrik untuk berbagai fasilitas, termasuk cold storage yang menjaga kualitas hasil tangkapan atau produksi.

Kondisi tersebut membuat keandalan listrik tidak dapat dipandang sekadar sebagai persoalan infrastruktur dasar. “Karena itu, keandalan listrik harus dilihat sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi dan daya saing daerah dan negara,” ujar Bonti.

Ia menilai perkembangan kebutuhan listrik tersebut perlu diantisipasi melalui perencanaan jangka panjang. Salah satunya melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang memperhitungkan kebutuhan sejumlah sektor strategis. Sektor tersebut antara lain kawasan industri, hilirisasi, pusat data, kendaraan listrik, serta berbagai proyek strategis lainnya.

2. Kebutuhan energi harus mengikuti pertumbuhan ekonomi

Re-energizing listrik PLN di Jampangkulo, Kabupaten Sukabumi. IDN Times/Debbie Sutrisno

Bonti mengatakan perencanaan kelistrikan di tingkat nasional perlu diterjemahkan sesuai dengan perkembangan pusat-pusat ekonomi di masing-masing daerah. Di Jawa Barat, salah satu kebutuhan listrik dalam skala besar terlihat dari dukungan PLN UID Jawa Barat terhadap pelanggan industri. PLN menyuplai listrik sebesar 250 MVA kepada PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) Karawang untuk mendukung ekspansi perusahaan.

Menurut Bonti, kebutuhan energi dan perkembangan ekonomi harus direncanakan secara bersamaan. Hal itu membutuhkan sinergi antara PLN, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha.

“Kalau semua data itu disatukan, kita bisa membangun listrik tepat kapasitas, tepat lokasi, dan tepat waktu,” katanya.

Dengan perencanaan tersebut, pembangunan infrastruktur kelistrikan diharapkan tidak berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan arah pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Data mengenai kebutuhan industri, potensi investasi, perkembangan teknologi, hingga pertumbuhan kawasan ekonomi perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pembangunan infrastruktur listrik.

3. Listrik bukan hanya masuk, tetapi harus menghasilkan

Re-energizing listrik PLN di Jampangkulo, Kabupaten Sukabumi. IDN Times/Debbie Sutrisno

Bonti menilai manfaat pembangunan infrastruktur kelistrikan perlu dilihat dari seberapa besar kontribusinya terhadap kegiatan produktif masyarakat dan dunia usaha. Ia mendorong perubahan cara pandang dari sekadar memastikan listrik tersedia menjadi bagaimana listrik tersebut mampu menciptakan nilai tambah.

“Pendekatannya perlu diubah dari ‘listrik masuk’ menjadi ‘listrik menghasilkan’,” ujar Bonti.

Menurutnya, ketika listrik digunakan untuk mendukung produksi, digitalisasi, pengolahan hasil usaha, hingga penyimpanan produk, manfaatnya dapat berkembang menjadi peningkatan produktivitas dan nilai tambah ekonomi. Rantai tersebut kemudian dapat mendorong pertumbuhan usaha, investasi, pendapatan masyarakat, serta membuka kesempatan kerja baru.

Dengan demikian, keandalan pasokan listrik tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga maupun dunia usaha. Infrastruktur tersebut juga menjadi bagian dari kesiapan daerah dalam mengembangkan aktivitas ekonomi dan menangkap peluang investasi seiring pertumbuhan industri dan teknologi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article