Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pelaku Pengeroyokan Murid SMKN 1 Cirebon Diusulkan Masuk Barak Militer
(Ilustrasi pengeroyokan) IDN Times/Sukma Shakti
  • Disdik Jabar menunggu hasil pemeriksaan polisi terhadap dua pelajar SMK Nusantara Weru yang menjadi pelaku pengeroyokan murid SMKN 1 Cirebon hingga korban dirawat di rumah sakit.

  • Setelah proses hukum selesai, Disdik Jabar mengusulkan pembinaan di barak militer bagi pelaku, dengan syarat ada persetujuan orang tua dan kepolisian; kebijakan ini tidak bersifat paksaan.

  • Motif pengeroyokan belum diketahui dan perdamaian antarwali murid belum terjadi. Insiden perkelahian pelajar di Plered viral, sementara pemerintah menegaskan proses pidana tetap berjalan untuk tindak kriminal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa 22 September 2026

Aksi perkelahian pelajar di Plered, Kabupaten Cirebon, viral di media sosial. Video memperlihatkan sejumlah pelajar membawa benda yang diduga celurit.

Sebelumnya

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan pelajar yang terbukti bersalah dalam perkelahian wajib mengikuti pendidikan khusus di barak militer, sementara tindak kriminal tetap diproses hukum.

Senin (5/10/2026)

Disdik Jawa Barat menunggu hasil pemeriksaan polisi terhadap dua pelajar SMK Nusantara Weru yang menjadi pelaku pengeroyokan murid SMKN 1 Cirebon. Disdik mengusulkan pembinaan di barak militer setelah proses hukum selesai dan mendapat persetujuan orang tua serta kepolisian.

saat ini

Kepolisian tengah menangani perkara pengeroyokan tersebut. Perdamaian antara wali murid belum terjadi dan motif pengeroyokan belum dipastikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dua pelajar SMK Nusantara Weru diproses polisi atas dugaan pengeroyokan terhadap murid SMKN 1 Cirebon. Disdik Jawa Barat mengusulkan pembinaan para pelaku di barak militer setelah proses hukum selesai.
  • Who?
    Korban adalah murid SMKN 1 Cirebon. Dua pelajar SMK Nusantara Weru telah ditetapkan sebagai pelaku. Disdik Jawa Barat, kepolisian, orang tua pelaku, dan Gubernur Dedi Mulyadi terlibat dalam penanganan.
  • Where?
    Pengeroyokan terjadi di kawasan Plered, Kabupaten Cirebon, ketika korban dalam perjalanan pulang sekolah menggunakan angkutan kota.
  • When?
    Perkelahian pelajar terjadi pada Selasa, 22 September 2026. Purwanto menyampaikan perkembangan penanganan pada Senin, 5 Oktober 2026.
  • Why?
    Motif pengeroyokan per saat ini masih belum diketahui. Purwanto menduga kejadian berkaitan dengan persoalan antarsekolah, namun belum ada kepastian mengenai penyebabnya.
  • How?
    Korban ditarik dari angkutan kota, lalu dipukuli hingga dibawa ke rumah sakit dan kini sudah pulang. Polisi menangani dua pelaku; pembinaan barak militer menunggu proses hukum serta persetujuan polisi dan orang tua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seorang murid SMKN 1 Cirebon dipukul oleh dua murid SMK Nusantara Weru saat pulang naik angkot. Ia sampai masuk rumah sakit, tetapi sekarang sudah pulang. Polisi masih memeriksa dua pelaku. Dinas Pendidikan Jawa Barat ingin mereka dibina di barak militer setelah urusan polisi selesai dan orang tua setuju.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penanganan kasus ini menunjukkan adanya upaya yang terukur untuk memadukan proses hukum dengan pembinaan bagi pelajar yang terlibat. Disdik Jabar menunggu pemeriksaan kepolisian, berkomunikasi dengan orang tua, dan menempatkan persetujuan wali sebagai syarat pembinaan. Sementara itu, korban telah pulang dari rumah sakit setelah mendapat penanganan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat tengah menunggu hasil pemeriksaan pihak kepolisian terhadap dua orang pelajar SMK Nusantara Weru yang ditetapkan sebagai pelaku pengeroyokan kepada seorang murid dari SMKN 1 Cirebon.

Disdik Jabar pun berencana menyeret para pelaku tersebut ke barak militer untuk diberikan pembinaan di luar sekolah. Kepala Disdik Jabar, Purwanto mengatakan, berdasarkan kronologi yang didapatkan dari Kantor Cabang Dinas, peristiwa ini terjadi saat korban pulang sekolah.

"Memang betul ada kejadian seperti itu. Kasusnya setelah diinvestigasi sama cabang dinas, yang sampai ke saya laporannya, anak SMKN 1 itu sedang perjalanan pulang menggunakan angkot," ujar Purwanto saat dikonfirmasi, Senin (5/10/2026).

1. Jika diizinkan orangtua, pelaku dibawa ke barak militer

Ilustrasi pengeroyokan (Dok. Idn times)

Korban, kata Purwanto, saat itu langsung ditarik oleh pelaku dan terjadilah pengeroyokan hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Dari peristiwa ini kemudian pihak kepolisian memproses secara hukum terhadap dua pelaku tersebut.

"Kemudian ditarik oleh anak-anak SMK Nusantara Weru. Terjadilah keributan, dipukulin sehingga anaknya masuk rumah sakit. Korban dari rumah sakit itu sudah pulang," ucapnya.

Purwanto mengungkapkan, Disdik Jabar menghargai pihak kepolisian yang saat ini tengah menangani persoalan ini. Namun, setelah selesai dari proses kepolisian, Disdik Jabar menyusulkan agar pelaku dibina di barak militer.

"Kalau yang swasta itu kan ada tata tertib sekolahnya, sehingga mengikuti tata tertib sekolah. Tapi pada prinsipnya, kami sudah komunikasi sama orangtuanya. Mereka akan dipersiapkan, jika diizinkan oleh orangtuanya, mengikuti pembinaan di kita," ujarnya.

2. Disdik Jabar menghormati proses hukum

Ilustrasi pengeroyokan (IDN Times/Aditya Pratama)

Kendati begitu, Purwanto mengungkapkan, pembinaan di barak militer ini bisa dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari pihak wali murid dan juga kepolisian. Artinya, bukan dilakukan secara paksa oleh Pemerintah Provinsi Jabar.

"Rencananya kalau diizinkan oleh kepolisian, proses hukumnya beres. Kalau ini kami menunggu proses hukum seperti apa," ucapnya.

Disinggung mengenai kemungkinan adanya perdamaian antara wali murid, Purwanto memastikan, hal tersebut belum terjadi. Mengenai motif dari pengeroyokan, Purwanto pun belum mengetahui secara pasti.

Hanya saja, dia menduga hal tersebut terjadi karena adanya bentrok antar sekolah tersebut, hingga akhirnya murid lain terkena dampaknya.

"Mungkin karena persoalan, biasanya kalau kayak gitu kan persoalan antarsekolah. Jadi anak enggak tahu apa-apa kadang kala jadi korban," kata dia.

3. Dedi Mulyadi sebelumnya minta diproses ke barak militer

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Sebagai informasi, aksi pelajar terlibat perkelahian di kawasan Plered, Kabupaten Cirebon pada Selasa 22 September 2026, viral di media sosial. Dalam video itu, tampak sejumlah pelajar menggunakan alat yang diduga senjata tajam (sajam) jenis celurit.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM menyatakan tengah menyiapkan langkah pembinaan mental yang krusial bagi para pelaku perkelahian. Pelajar yang terbukti bersalah wajib mengikuti program pendidikan khusus di barak militer.

"Mereka yang berkelahi harus mengikuti program pendidikan barak militer untuk membangun jiwa dan kesadarannya. Tapi jika itu tindak kriminal yang mengakibatkan luka-luka, maka proses hukum harus terus berjalan sesuai dengan undang-undang pidana yang mengatur tentang pidana anak di bawah umur," tuturnya.

Dedi meminta seluruh orangtua untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka di rumah guna mencegah potensi kenakalan remaja sejak dini.

"Mohon pada orang tua periksa tas anak-anaknya, periksa kamarnya, periksa lacinya. Saya yakin kalau orang tuanya rajin memeriksa dan bertanya, perilaku anaknya akan ketahuan dan teridentifikasi sejak di rumah," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article