Ilustrasi daur ulang (pexels.com/cottonbro)
Sementara itu, Muhammad Taufiq Al Fikri mengembangkan RecycledFiberAI, sebuah prototipe computer vision untuk mendeteksi kontaminan dalam material kertas daur ulang. Sistem ini dirancang untuk mengenali material yang tidak seharusnya masuk dalam aliran kertas daur ulang, seperti plastik dan logam.
Dengan kemampuan deteksi secara real-time, teknologi tersebut diharapkan dapat membantu proses pemilahan material sehingga pengelolaan limbah menjadi lebih efektif. Taufiq menggunakan akselerasi GPU NVIDIA dalam pengembangan sistem AI untuk mengenali berbagai jenis material dalam tumpukan sampah daur ulang.
Ketiga proyek tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu membangun teknologi untuk menyelesaikan masalah di sekitarnya.
Deputy Head of Dissemination and Communication Pusat AI ITB, Edward Ferdian, mengatakan, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi dan mengembangkan teknologi AI secara langsung.
"Edukasi AI perlu mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu berperan sebagai builder dan inovator dalam pengembangan solusi AI," ujar Edward.
Sedangkan, Adrian Lesmono, Country Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia mengatakan, pihaknya berperan sebagai katalisator yang menjembatani dunia industri dan pendidikan untuk mempercepat inovasi AI.
Melalui dukungan teknologi dan akses terhadap komputasi AI, kata dia, NVIDIA mendorong mahasiswa untuk bereksperimen, mengembangkan keterampilan, dan bertransformasi dari pengguna menjadi pencipta solusi AI.
"AI bukan jalan pintas yang menggantikan pemahaman keilmuan, melainkan teknologi yang memperkuat kemampuan manusia untuk menjawab tantangan nyata. Kami ingin mendorong lebih banyak mahasiswa menjadi AI builder yang mampu menghasilkan inovasi relevan bagi masyarakat dan industri," kata dia.