Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IGD-Rawat Inap RS Bandung Kiwari Penuh, Pasien Diharap Sabar Menunggu
ilustrasi IGD Rumah Sakit (pexels.com/Pixabay)
  • IGD RSUD Bandung Kiwari mengalami lonjakan pasien dengan demam tinggi, batuk, dan pilek, sehingga waktu tunggu pemeriksaan serta ketersediaan rawat inap meningkat.

  • Pemkot Bandung memastikan seluruh fasilitas kesehatan tidak menolak pasien, IGD siaga 24 jam, dan penanganan diprioritaskan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan serta kondisi pasien.

  • Pemantauan Dinkes menemukan influenza tipe A dan B di Puskesmas Padasuka, tanpa temuan COVID-19; hasil tersebut hanya bagian dari surveilans dan tidak mewakili seluruh kasus kota.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
IGD RS Bandung Kiwari penuh karena banyak orang demam tinggi, batuk, dan pilek. Dokter tetap menolong pasien yang paling butuh cepat. Pasien lain mungkin harus menunggu atau boleh pulang jika sudah membaik. Wali Kota Farhan bilang semua rumah sakit harus menerima pasien. Di Bandung ditemukan flu tipe A dan B.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah meningkatnya kunjungan, layanan kesehatan Bandung tetap menunjukkan kesiapsiagaan melalui penanganan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan, koordinasi untuk mengoptimalkan pelayanan, serta IGD yang siaga 24 jam. Pemantauan influenza dan meningkatnya kewaspadaan warga juga mencerminkan upaya bersama agar kebutuhan pasien dapat ditangani secara terukur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bandung Kiwari mengalami peningkatan jumlah pasien di tengah banyaknya warga yang mengalami keluhan demam tinggi, batuk, dan pilek. Mengutip unggahan akun Instagram RSUD Kiwari peningkatan tersebut berdampak pada waktu tunggu pelayanan, proses pemeriksaan, maupun waktu tunggu ketersediaan tempat tidur rawat inap.

Meski demikian, untuk pasien yang membutuhkan pelayanan kegawatdaruratan, petugas IGD tetap akan melakukan penanganan sesuai dengan kondisi dan tingkat kegawatdaruratan pasien berdasarkan prosedur yang berlaku.

"Kami terus berupaya melakukan koordinasi dan optimalisasi pelayanan agar seluruh pasien dapat memperoleh pelayanan dengan sebaik-baiknya," kutip IDN Times dari unggahan tersebut, Rabu (23/9/2026).

1. Tak remehkan kebutuhan pasien

Ilustrasi IGD. (IDN Times/Besse Fadhilah)

Sementara itu, Wali Kota Farhan mengatakan bahwa Pemkot Bandung tidak menganggap remeh kondisi IGD RSUD Bandung Kiwari yang mengalami peningkatan jumlah pasien.

Menurutnya, sejumlah pasien datang dengan keluhan demam tinggi disertai gejala seperti batuk dan pilek. Pemerintah pun memastikan seluruh fasilitas kesehatan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Prinsip bahwa tidak boleh menolak pasien itu harus berlaku di semua fasilitas kesehatan," kata Farhan.

Ia mengatakan penanganan pasien di IGD disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pasien yang masih membutuhkan pelayanan akan ditangani, sementara mereka yang kondisinya dinilai membaik dapat dipersilakan pulang.

"Kalau ada yang bisa diminta untuk menunggu dan bersedia menunggu dalam antrean, tetapi kalau diperkirakan sudah membaik maka dipersilakan pulang. Itu sangat tergantung kondisi," ujarnya.

Farhan memastikan IGD di seluruh Kota Bandung tetap siaga selama 24 jam. Pemerintah juga menyiapkan berbagai fasilitas dan tenaga kesehatan untuk menghadapi kondisi tersebut.

2. Kenaikan jumlah pasien terjadi di RS lain

ilustrasi rumah sakit (IDN Times/Irma Yudistirani)

Menurut Farhan, peningkatan kunjungan pasien tidak hanya terjadi di RSUD Bandung Kiwari. Sejumlah rumah sakit swasta di Kota Bandung juga mulai lebih ramai dibandingkan kondisi biasanya.

"Penuh banget sih enggak, ya. Tapi saya lihat beberapa rumah sakit swasta juga sekarang sudah lebih ramai dari biasanya," kata Farhan.

Farhan menilai meningkatnya kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan juga dipengaruhi oleh kewaspadaan warga. Jika sebelumnya gejala flu ringan cenderung ditangani di rumah, kini masyarakat lebih cepat mendatangi IGD karena khawatir terhadap kondisi yang sedang berkembang.

"Buat kami, ini menunjukkan bahwa kemampuan antisipasi dari masyarakat sudah sangat tinggi," ujarnya.

Di sisi lain, Farhan mengimbau warga yang bepergian menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, dan pesawat untuk menggunakan masker. Anak-anak yang mengalami gejala flu juga disarankan tidak masuk sekolah dan beristirahat di rumah.

3. Diduga ada peningkatan kasus influenza

gambar seorang anak yang mengalami gejala influenza A (freepik.com/user18526052)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Soni Adam mengatakan, kondisi influenza di Kota Bandung dipantau melalui Puskesmas Padasuka yang menjadi sentinel influenza-like illness. Setiap warga yang datang dengan keluhan influenza akan diperiksa, termasuk melalui pengambilan sampel untuk mengetahui jenis virus yang menginfeksi.

Sampel tersebut kemudian dikirim ke Jakarta untuk memastikan apakah virus yang ditemukan merupakan strain tertentu. Berdasarkan data yang diterima, ditemukan influenza tipe A dan B, sementara COVID-19 tidak ditemukan.

"Untuk Influenza tipe A, itu sudah endemis di Kota Bandung, artinya sudah bertahun-tahun ada," ujar Soni.

Namun, Soni menegaskan temuan Influenza A di Puskesmas Padasuka tidak berarti seluruh kasus influenza di Kota Bandung merupakan Influenza A. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari pemantauan influenza secara nasional. Kasus Influenza A, lanjut dia, juga ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Surabaya dan Makassar.

"Influenza A yang ditetapkan di Puskesmas Padasuka tidak menggambarkan bahwa seluruh kasus influenza di Kota Bandung adalah tipe A. Itu hanya untuk pemantauan saja secara nasional," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article