TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Membahas Wirausaha, Apa yang Diharapkan Merek Lokal Pada Pemerintah?

Setiap kota di Indonesia punya merek lokal andalan

IDN Times/Galih Persiana

Bandung, IDN Times – Hubungan antara dunia wirausaha dan pemerintah adalah sebuah kelindan yang tak boleh terlalu kencang atau pun longgar. Terutama bagi merek lokal yang bergerak secara independen, tanpa inkubasi dana pemerintah yang disalurkan lewat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
 
Salah satu merek lokal yang berada di jalur tersebut ialah NIION, sebuah produk tas asal Kota Bandung dengan produksi rata-rata 36 ribu potong per tahun. Bagaimana sebenarnya harapan brand lokal indie pada pemerintah?

1. Merek lokal bukan startup

IDN Times/Galih Persiana

Adit Yara, pemilik NIION, menolak jika usahanya dibilang startup. Menurut dia definisi startup kini telah meluas, dan sulit mendapatkan definisi yang tepat. Ada yang bilang startup merupakan julukan bagi perusahaan rintisan, ada pula yang menyebut startup sebagai perusahaan rintisan berbasis teknologi.
 
“Tapi kalau saya ingin dibilangnya local brand,” tutur Adit, kepada IDN Times di The Parlor, Kota Bandung, Minggu (24/2).
 
NIION merupakan merek dagang asal Bandung yang tak dapat dipandang sebelah mata. Saat ini, performa mereka bisa dibilang luar biasa karena berhasil memproduksi rata-rata 30 ribu potong tas per bulan.
 
Namun, kapasitas produksi tersebut tak membuat NIION berhenti berinovasi. Pada Minggu (24/2), mereka baru saja mengorbitkan tema baru dalam produknya yang dinamai NIION See Through alias NIION Tembus Pandang.

2. Keunikan merek lokal di Indonesia

IDN Times/Galih Persiana

Menurut Adit, Indonesia punya sejumlah kota yang unik dalam merespons kemajuan zaman lewat dunia wirausaha. Setiap kota, kata dia, pasti memiliki brand unggulan masing-masing. Dan untuk Kota Bandung, NIION adalah salah satunya.
 
“Karena Bandung itu adalah surga (untuk berwirausaha). Di Bandung, cukup mudah orang membuat sesuatu karena berbagai macam material produksi yang mudah didapat,” tuturnya.
 
Khusus untuk produsen tas, Bandung adalah tempat yang tepat. Pasalnya, di Kota Kembang telah berdiri ratusan konveksi yang siap menampung pesanan produksi tas. Tak hanya itu, kawasan Cibaduyut, daerah sentra sepatu kulit, kerap menerima pesanan dengan jumlah besar dari luar negeri.
 
“Saya bilang local brand karena kalau Marvel punya superhero, di Bandung juga banyak superhero berupa merek lokal,” kata Adit.

3. NIION memilih jalur indie

IDN Times/Galih Persiana

Pemerintah, kata Adit, telah membuka peluang inkubasi atau penanaman modal bagi para wirausawahan dalam negeri. Hal itu tentu sedikit banyak membantu munculnya usaha-usaha baru, hingga lapangan kerja bagi masyarakat. Tapi NIION tak memilih jalur itu.
 
“Ibarat industri musik, kan ada indie (Independent). Nah, kami memang mengambil langkah indie karena percaya diri. Tapi mungkin someday kalau mau kerjasama dengan pemerintah, ya, why not?” ujar dia.
 
Keputusan Adit tak memilih inkubasi pemerintah yang disalurkan lewat Bekraf tak lain karena adanya regulasi tersendiri yang tak cocok dengan cara NIION berjualan.

4. Apa harapan merek Indie pada pemerintah?

IDN Times/Galih Persiana

Meski bergerak independent, para wirausahawan lokal tetap punya hak meminta perlindungan atau dukungan pemerintah untuk kemajuan usahanya. Begitu pula NIION, yang menyimpan harapan besar bagi pemerintah di masa mendatang.
 
Harapannya tak muluk-muluk, ialah dukungan pemerintah seandainya NIION ingin meningkatkan pangsa pasarnya. Misalnya, ketika merek lokal ingin mengikuti event wirausaha di luar negeri, pemerintah bisa berdiri mendorong dengan bantuan finansial.
 
“Kan kami pun modalnya tuh dari grassroot, atau saya bilang modal dengkul lah. Kegiatan itu juga akan mengharumkan nama Indonesia, nama Kota Bandung. Meski sebenarnya, kami enggak ikut event luar negeri pun enggak akan jadi masalah besar,” tutur Adit.

Berita Terkini Lainnya