ilustrasi pameran seni (pexels.com/Weijia MA)
Salah satu mahasiswa DKV, Feri Hidayat (21), menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyebut pameran ini bermula dari diskusi santai yang kemudian berkembang menjadi gagasan advokasi.
Ia menjelaskan, mahasiswa tuli sebenarnya diterima dengan baik dalam kehidupan sosial kampus dan tidak dibeda-bedakan. Namun, ketiadaan JBI menjadi kendala utama dalam memahami materi perkuliahan.
“Teman tuli kami belum mendapatkan fasilitas dari kampus, dengan title kampus inklusif tapi belum menyediakan fasilitas yang ada, membutuhkan JBI karena mereka sangat kesulitan. Mungkin kami bisa membantu tapi kami juga terbatas dalam memahami bahasa isyarat,” ujarnya.
Upaya advokasi, kata Feri, sudah pernah dilakukan melalui kampus dan BEM, tetapi belum membuahkan hasil.
“Yang pasti kami pernah mengadvokasi ke pihak kampus, BEM, tapi belum ada tindak lanjut. Entah audiensi ke pihak kampus, kita lakukan dengan cara yang kreatif ini semoga bisa sampai ke pihak kampus,” katanya.
Lewat sapuan warna dan kolaborasi lintas keterbatasan, The Sound of Silence menjadi lebih dari sekadar pameran seni. Ia adalah pengingat bahwa inklusivitas bukan hanya label, melainkan komitmen yang harus benar-benar diwujudkan.