Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perkotaan (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi perkotaan (pexels.com/Pixabay)

Intinya sih...

  • Biaya hidup melambung, gaji tak lagi mengejar

  • Tekanan kerja tinggi dan batas hidup yang kabur

  • Ruang aman dan inklusif makin terbatas

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Hidup di kota besar selama ini identik dengan peluang kerja, gaya hidup modern, dan akses hiburan tanpa batas. Banyak anak muda bermimpi merantau ke kota besar demi masa depan yang dianggap lebih menjanjikan. Namun, realitas beberapa tahun terakhir menunjukkan cerita yang tak selalu seindah ekspektasi.

Di berbagai belahan dunia, kota-kota besar justru mulai kehilangan daya tarik bagi generasi muda. Biaya hidup melonjak, tekanan kerja meningkat, dan ruang aman untuk tumbuh terasa makin sempit. Kota yang dulu jadi simbol mimpi, kini sering kali berubah jadi sumber stres.

Fenomena ini tak hanya terjadi di satu negara. Dari Asia, Eropa, hingga Amerika, banyak laporan menunjukkan anak muda mulai mempertimbangkan pindah ke kota kecil atau bahkan kembali ke kampung halaman. Mereka mencari hidup yang lebih seimbang dan masuk akal secara finansial.

Lalu, apa saja faktor yang membuat kota besar dunia terasa makin tidak ramah bagi anak muda? Berikut beberapa alasan yang paling sering dirasakan.

 

1. Biaya hidup melambung, gaji tak lagi mengejar

ilustrasi penduduk perkotaan (pexels.com/Gije Cho)

Salah satu keluhan terbesar anak muda di kota besar adalah biaya hidup yang terus naik, terutama untuk hunian, transportasi, dan kebutuhan harian. Harga sewa apartemen atau kos di pusat kota melonjak jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji.

Akibatnya, sebagian besar penghasilan habis hanya untuk bertahan hidup.

Kondisi ini membuat banyak anak muda sulit menabung, apalagi merencanakan masa depan seperti membeli rumah atau berkeluarga. Kota besar yang dulu menawarkan mobilitas sosial, kini justru terasa seperti jebakan finansial.

2. Tekanan kerja tinggi dan batas hidup yang kabur

ilustrasi wanita perkantoran (pixabay.com/DanaTentis)

Selain mahal, kota besar juga identik dengan ritme kerja yang cepat dan kompetitif. Jam kerja panjang, target tinggi, dan budaya “selalu online” membuat banyak anak muda kelelahan secara mental.

Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi makin sulit dipisahkan.

Tak sedikit generasi muda yang mulai mempertanyakan: apakah semua pengorbanan ini sepadan? Ketika karier terasa menguras energi tanpa memberi rasa aman, kota besar pun kehilangan pesonanya sebagai tempat bertumbuh.

3. Ruang aman dan inklusif makin terbatas

ilustrasi perkotaan (unsplash.com/Viktor Krč)

Masalah lain yang sering muncul adalah berkurangnya ruang aman dan inklusif bagi anak muda. Ruang publik makin mahal, tempat nongkrong ramah kantong berkurang, dan tekanan sosial semakin kuat.

Anak muda kerap merasa harus “mengejar standar” tertentu agar bisa bertahan di kota besar.

Di sisi lain, isu kesehatan mental, kesepian, dan isolasi sosial makin sering dialami, meski hidup di tengah jutaan orang. Kota besar terasa ramai, tapi tidak selalu hangat bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kota besar dunia sedang berada di titik krusial. Jika tak beradaptasi dengan kebutuhan generasi muda, kota bisa kehilangan kelompok usia produktif yang selama ini menjadi penggerak ekonomi dan budaya.

Menurutmu, apakah kota besar masih layak jadi tempat ideal untuk anak muda membangun masa depan, atau justru saatnya mencari alternatif hidup yang lebih manusiawi?

Editorial Team