Comscore Tracker

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan Kekacauan

Ada yang melibatkan 'kelinci percobaan'

Sebelum benar-benar disebarkan secara luas, obat atau vaksin tentu harus mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nah, untuk mendapatkan izin tersebut, obat atau vaksin harus melewati berbagai tahap uji klinis untuk mengetes keefektifan obat atau vaksin sebelum dipakai di dunia nyata.

Memakan waktu yang tidak sebentar, tidak semua uji klinis berakhir sempurna. Malah, banyak uji klinis terkenal yang berakhir tragis hingga menjadi aib umum. Inilah 10 kejadian uji klinis gagal yang malah membawa malapetaka bagi relawannya!

1. Uji klinis Seroquel di University of Minnesota

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanDan Markingson dengan ibunya Mary Weiss. mprnews.org

Pada 2003, Dan Markingson, didiagnosis menderita skizofrenia dan dirujuk ke University of Minnesota Medical Center. Selain dirawat, Dan juga menjadi "kelinci percobaan" untuk menguji tiga jenis obat skizofrenia: Seroquel, Risperdal, dan Zyprexa. Diberi 800 miligram Seroquel per hari, kondisi dan malah memburuk.

Mengetahui hal tersebut, ibunda Dan, Mary Weiss, mengirimkan surat (fisik dan elektronik) dan memohon agar Dan dikeluarkan dari uji klinis tersebut hingga lima bulan. Namun, pemerintah setempat melarang dan mengancam bahwa Dan akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa!

Kenapa tidak bisa? Weiss kaget saat mengetahui bahwa partisipasi Dan berarti sumbangan AS$15.000 (sekitar Rp211 juta) ke University of Minnesota! Akhirnya, kondisi Dan terus menurun dan ia mengakhiri hidupnya dengan menusuk dirinya sendiri. Sebelum meninggal, Dan meninggalkan catatan berbunyi,

"Saya menjalani semua ini dengan tersenyum!"

Dengan kesedihan yang tak terkira, Weiss menggugat University of Minnesota yang bahkan lepas tangan atas malapraktik tersebut. Dan adalah satu dari lima pasien percobaan untuk mencoba bunuh diri dan naasnya, satu dari dua yang berhasil.

2. Tragedi Biotrial

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanBiotrial. fiercebiotech,com

Pada 2016, perusahaan farmasi Prancis, Biotrial, merekrut 128 relawan untuk menguji obat kanker dan Parkinson, BIA 10-2474. Dengan dosis kecil, awalnya, mereka tidak melaporkan efek samping. Masalah baru muncul saat dosis ditingkatkan.

Enam peserta sakit dan segera dilarikan ke unit gawat darurat (UGD). Salah satu relawan pria berusia 20 tahun dinyatakan mati otak, satu minggu setelah dilarikan ke rumah sakit dan dua minggu setelah uji klinis. Di sisi lain, lima pasien lain dalam kondisi stabil, tetapi dokter memperkirakan risiko kerusakan otak dan kecacatan mental yang besar.

Baru pertama kali diujikan ke manusia, nyatanya kandidat obat tersebut memang bermasalah! Diujikan ke anjing dan monyet, obat ini membunuh beberapa dan menyebabkan kerusakan otak.

3. Uji klinis Thalidomide

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanSeorang anak yang terdampak Thalidomide. helix.northwestern.edu

Pertama kali diperkenalkan di Jerman pada 1956 oleh Chemie Grünenthal, Thalidomide (dijual sebagai Contergan) bertujuan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan. Namun, obat ini malah terkenal karena efek sampingnya untuk ibu hamil.

Lebih dari 10.000 bayi di 46 negara yang lahir pada akhir 1950an dan awal 1960an mengalami cacat fisik! Hingga saat ini, insiden Thalidomide dianggap sebagai "bencana medis terparah dalam sejarah".

Bagian anehnya adalah uji klinis Thalidomide sebenarnya berjalan dengan baik hingga ke fase pematenan dan persetujuan. Akan tetapi, para peneliti lalai melihat efek sampingnya pada keturunan, meskipun sudah dicoba pada hewan. Pada 1961, dokter asal Australia, William McBride, baru menemukan hubungan Thalidomide dengan kecacatan pada bayi.

Pada 1968, Chemie Grünenthal diharuskan memberi kompensasi pada keluarga yang dirugikan, sebesar 320 juta Deutsche Mark (sekitar Rp2.8 miliar). Saat CEO Chemie Grünenthal, Harald F. Stock, meminta maaf pada 2012, sekitar 5.000-6.000 korban Thalidomide masih hidup, dan mereka tetap mengutuk Chemie Grünenthal.

4. Uji klinis terapi gen

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanJesse Gelsinger. sciencehistory.org

Remaja berusia 18 tahun, Jesse Gelsinger, mengikuti uji klinis terapi gen University of Pennsylvania pada pasien mutasi genetik kronis di hati/liver. Gelsinger sendiri menderita ornithine transcarbamylase deficiency (OTC), kondisi di mana livernya tidak dapat memetabolisme amonia.

Jadi, para peneliti menyuntikkan virus flu. Akan tetapi, tubuh Gelsiger tidak dapat menerimanya dan ia meninggal empat hari kemudian karena gagal organ dan mati otak. Setelah Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) menyelidiki hal ini, mereka menemukan bahwa penyelenggara tes klinis amat tidak bertanggung jawab.

Sebenarnya, uji klinis seharusnya sudah dihentikan karena gagal dan Gelsinger tergolong masuk ke kelompok pasien terakhir. Tetapi, malah tetap dilanjutkan. Lalu, kadar amonia Gelsinger terlalu tinggi, sehingga seharusnya tidak cocok untuk uji klinis. Dicadangkan sebagai alternatif, Gelsinger tidak lolos dari maut.

5. "Obat kanker ajaib" Anil Potti

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanAnil Potti. bizjournals.com

Sepanjang tahun 2000-an, ilmuwan dan peneliti obat kanker dari Duke University, Anil Potti adalah bintang medis yang sedang naik daun. Dia menjanjikan perawatan kanker dengan tingkat kesembuhan 80 persen, dan para profesional medis percaya bahwa penemuannya dapat menyelamatkan 10.000 nyawa setahun.

Tetapi, pada 2015, semuanya berubah. Potti dinyatakan bersalah atas pemalsuan data dalam beberapa manuskrip, sebelas makalah, dan penyalahgunaan hibah, sehingga seluruh studinya hangus. Kasus Potti dianggap sebagai salah satu "penipuan medis terbesar".

Salah satu korban yang dirugikan adalah Joyce Shoffner, pasien pertama uji coba Potti pada 2008. Menderita kanker payudara, Joyce tergiur dengan pengobatan Potti yang memiliki kemungkinan sukses 80 persen. Bahkan, Joyce pun rela menjalani proses biopsi yang menyakitkan demi sembuh.

Kemudian, Joyce menjalani kemoterapi Adriamycin-Cytoxan (AC). Semuanya sia-sia saat skandal Potti terkuak. Saat ini, Joyce memang tidak menderita kanker payudara. Namun, kemoterapi AC tersebut menyebabkan penggumpalan darah dan diabetes. Belum lagi, Joyce juga mengidap PTSD akibat uji klinis Potti.

Baca Juga: 10 Cerita Sejarah Seperti Kebetulan Ini Susah Dipercaya, padahal Nyata

6. Obat mata stem cell

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanFlickr.com

Pada Januari 2017, tiga wanita lanjut usia berusia antara 72-88 tahun dengan degenerasi makula, gangguan penglihatan yang umum di usia tua, mengikuti uji klinis untuk pengobatan mata. Alih-alih sembuh, mereka malah buta permanen.

Pengobatan yang dijalani adalah terapi sel induk atau stem cell. Para ahli oftalmologi pun tidak menyarankan karena terapi tersebut tidak aman. Lebih parahnya lagi, mereka membayar AS$5.000 (sekitar Rp70 juta)!

Betul saja, dalam rentang beberapa hari, ketiga wanita malang tersebut melaporkan pendarahan dan ablasi retina. Hasil akhirnya, satu wanita benar-benar buta, dan dua wanita lainnya kehilangan sebagian besar penglihatannya dengan harapan tak akan sembuh!

7. Uji CAR-T untuk leukemia

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanJuno Therapeutics. bizjournals.com

Pada 2016, tiga pasien leukemia dewasa meninggal dalam uji coba obat sel baru produksi Juno Therapeutics di AS. Terapi chimeric antigen receptor (CAR-T) yang dijuluki JCAR015, pengobatan Juno bertujuan untuk membasmi sel-sel kanker yang ganas sampai hilang.

Teknologi CAR-T malah sempat naik daun dan digadang-gadang sebagai obat kanker. Namun, uji CAR-T di Juno Therapeutics pada 2016 membuktikan sebaliknya. CAR-T menimbulkan pembengkakan otak atau edema serebral yang membunuh ketiga pasien leukemia tersebut.

Juno menyatakan bahwa edema serebral cukup sering pada perawatan CAR-T, begitu pula dengan reaksi imun dan peningkatan toksisitas neurologis. Insiden ini menyebabkan saham Juno Therapeutics terjun bebas hingga 27 persen. FDA pun sempat menghentikan penelitian CAR-T Juno.

8. Tragedi Lidocaine New York

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanLidocaine. epmonthly.com

Pada 1996, mahasiswa tingkat dua di University of Rochester, Hoi Yan “Nicole” Wan, sedang butuh duit jajan. Jadi, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri ke uji klinis University of Rochester Medical Center tanpa persetujuan orangtuanya dengan iming-iming AS$250 (sekitar Rp3,5 jutaan).

Para peneliti melakukan bronkoskopi untuk melihat efek polusi pada pernapasan Nicole. Namun, tanpa sepengetahuan Nicole, mereka mengambil sampel sel lebih dari yang disetujui. Untuk itu, para peneliti juga meningkatkan dosis obat bius Lidocaine hingga melewati batas aman FDA!

Setelahnya, Nicole merasa amat lesu dan menderita sensasi sakit di sekujur tubuhnya. Dua hari kemudian, Nicole meninggal dunia dan laporan otopsi menunjukkan Lidocaine sebagai biang keroknya. Tak terima, orangtua Nicole menuntut bayar hingga AS$167 juta (sekitar Rp2,35 triliun)!

9. Uji obat asma Johns Hopkins

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan Kekacauannypost.com

Ellen Roche, teknisi sehat di Johns Hopkins Hospital, menjadi relawan uji coba obat asma. Tujuannya untuk menemukan mekanisme pencegahan asma pada pribadi sehat. Oleh karena itu, para peneliti memicu reaksi asma ringan, lalu mengobatinya dengan hexamethonium. Para relawan dibayar AS$540 (sekitar Rp7,6 juta).

Awalnya, Ellen hanya mengalami batuk saja karena menghirup hexamethonium. Akan tetapi, ia kemudian memakai ventilator karena jaringan paru-parunya rusak dan ia mengalami gagal ginjal. Pada Juni 2001, Ellen meninggal dunia dikarenakan keracunan hexamethonium.

Bagian mengerikannya adalah para peserta penelitian baru tahu setelah uji klinis berakhir bahwa hexamethonium bukanlah obat yang disetujui FDA! Karena Johns Hopkins Hospital menutupi fakta ini, mereka pun harus bertanggung jawab penuh atas kematian Ellen Roche.

10. Elephant Man

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan KekacauanTGN1412. thesun.co.uk

Masih diingat hingga masa kini, uji coba Elephant Man berlangsung di London pada 2006. Tujuannya adalah menguji obat kanker Theralizumab/TGN1412. Uji klinis ini melibatkan delapan pria dengan jaminan efek samping terburuk meliputi sakit kepala dan mual. What could go wrong? Lagipula dibayar 2.000 pound sterling (hampir Rp40 juta) juga!

Tak lama setelah diberi TGN1412, para relawan menggeliat kesakitan dan muntah-muntah. Bahkan, salah satu relawan kehilangan jari tangan dan kaki, sementara yang lain harus diamputasi! Nama "Elephant Man" muncul karena kepala salah satu peserta membengkak, seperti gajah! Apa penyebabnya?

Beberapa menganggap bahwa waktu pemberian dosis TGN1412 salah. Selain itu, pengujian hewan TGN1412 tidak akurat karena alih-alih menggunakan bonobo (DNA 98 persen mirip manusia), mereka menggunakan kera macaque (DNA 94 persen mirip manusia).

Tidak Layak Edar! 10 Uji Klinis yang Berakhir dengan Kekacauanpexels.com/Pixabay

Keberhasilan uji klinis bukanlah hal yang jarang, apalagi kegagalan. Namun, yang disoroti adalah penyebab kegagalannya. Beberapa dengan lalai mengujikan obat atau vaksin meskipun tahu efikasinya rendah, dan dengan efek samping yang jelas berbahaya, penelitian tersebut malah jalan terus!

Inilah 10 kasus uji klinis gagal yang berakhir secara mengerikan. Meskipun ada para penyintasnya, mereka dihantui dengan penyakit akibat dari uji klinis biadab tersebut dan luka psikis yang akan terus mengikuti mereka sampai akhir hayat.

Baca Juga: Bagaimana Selesainya 5 Pandemik Zaman Dulu? Ini Faktanya

Topic:

  • Galih Persiana

Berita Terkini Lainnya