Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Waspada! Penyakit Liver Bisa Muncul Tanpa Gejala, Deteksi Dini Jadi Kunci
ilustrasi orang dengan penyakit hati (freepik.com/freepik)
  • Kasus penyakit liver kini lebih banyak disebabkan faktor metabolik seperti obesitas, kolesterol tinggi, dan diabetes, bukan lagi dominan karena infeksi virus.
  • Mayapada Hospital Bandung meluncurkan Liver, Metabolic & Wellness Center untuk fokus pada deteksi dini, pencegahan, serta penanganan komprehensif penyakit hati terkait gangguan metabolik.
  • Fatty liver atau MASLD kini dialami sekitar sepertiga populasi dewasa dunia dan perlu dikendalikan lewat perubahan gaya hidup serta pendekatan medis yang berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Tren penyakit hati atau liver saat ini mengalami pergeseran yang signifikan. Dulu mayoritas kasus disebabkan oleh infeksi virus, tapi sekarang justru didominasi faktor non-infeksi, terutama gangguan metabolik seperti obesitas, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Hal tersebut disampaikan Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, dr. Irwan Susanto Hermawan dalam diskusi di Bandung akhir pekan ini. Menurutnya kondisi ini menjadi tantangan serius karena sering tidak terdeteksi sejak dini.

“Penyakit hati metabolik, termasuk perlemakan hati (fatty liver), sering kali berkembang tanpa gejala. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika sudah memasuki tahap lanjut," ujarnya melalui siaran pers diterima IDN Times, Minggu (12/4/2206).

1. Pencegahan lebih baik

Diskusi penanganan dan pencegahan penyakit liver. IDN Times/Istimewa

Untuk menjaga agar seseorang bisa terhindar dari penyakit liver, Mayapada Healthcare meluncurkan Liver, Metabolic & Wellness Center (LMWC) di Mayapada Hospital Bandung (MHBD), salah satu unit rumah sakit di bawah naungan Mayapada Healthcare. LMWC adalah sebuah progam layanan yang berfokus pada deteksi dini, pencegahan, serta penanganan komprehensif penyakit liver yang berkaitan dengan gangguan metabolik.

"Layanan ini menjadi respons terhadap meningkatnya kasus liver secara global, yang kini semakin sering berkaitan dengan kondisi metabolik seperti obesitas, diabetes, dan dislipidemia," paparnya.

Irwan menjelaskan, penyakit hati metabolik termasuk perlemakan hati (fatty liver), sering kali berkembang tanpa gejala. Banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika sudah memasuki tahap lanjut. Melalui LMWC, Mayapada ingin mengubah pendekatan dari sekadar pengobatan menjadi deteksi dini dan pencegahan yang lebih terintegrasi. Layanan ini mengedepankan pendekatan multidisiplin dengan program wellness yang komprehensif, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

2. Farry liver harus dapat penangaan serius

ilustrasi penyakit hati (pixabay.com/mohamed Hassan)

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Bandung, Prof. Dr. dr. Reno Rudiman menegaskan bahwa obesitas merupakan kondisi medis kronis yang menjadi akar dari berbagai penyakit, termasuk fatty liver. Obesitas tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga memicu berbagai gangguan metabolik, termasuk fatty liver.

Tanpa penanganan yang tepat, fatty liver dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti sirosis hingga kanker hati. Oleh karena itu, penyakit ini perlu dikendalikan melalui deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta penyesuaian pola makan dan gaya hidup. Mengingat prevalensinya yang terus meningkat dan tingginya kasus yang belum terdiagnosis, pendekatan komprehensif sejak awal menjadi sangat penting.

"Dalam kasus tertentu, ketika intervensi gaya hidup dan terapi medis belum memberikan hasil optimal, bariatric surgery menjadi terapi yang terbukti efektif dalam mengendalikan obesitas sekaligus memperbaiki kondisi metabolik secara menyeluruh,” jelas Prof. Reno.

3. Satu dari tiga orang berisiko fatty liver

Diskusi penanganan dan pencegahan penyakit liver. IDN Times/Istimewa

Prof. Reno menambahkan bahwa fatty liver atau yang kini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) telah menjadi penyakit hati paling umum di dunia, dengan prevalensi mencapai sekitar 30 persen populasi dewasa. Artinya, hampir satu dari tiga orang dewasa berisiko mengalami fatty liver. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, serta sering kali tidak bergejala di tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi saat sudah lanjut.

Penanganan fatty liver tidak cukup hanya dengan obat, tetapi memerlukan perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pengelolaan berat badan. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif dengan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci untuk hasil yang optimal,” ujarnya.

Editorial Team