Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_20251001_085051.jpg
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Intinya sih...

  • Pemkot Bandung fokus pembersihan drainase untuk mengatasi longsor

  • Antisipasi kenaikan debit Sungai Cikapundung dengan sistem sensor peringatan dini

  • Pemkot Bandung menjaga RTH di Mandalajati dan Cibiru serta menunggu modifikasi cuaca dari BNPB

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Pemerintah Kota Bandung meningkatkan kewaspadaan kebencanaan, khususnya potensi longsor yang kini banyak terjadi di sejumlah wilayah. Curah hujan yang terus turun membuat sejumlah kawasan rawan perlu mendapat perhatian ekstra, terutama wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai dan kawasan perbukitan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, upaya mitigasi sudah dilakukan secara bertahap, salah satunya melalui perbaikan dan pembersihan drainase di permukiman warga.

“Drainase berdasarkan sikamling yang sudah kita lakukan, alhamdulillah, sudah banyak drainase di pemukiman yang kita perbaiki satu persatu,” kata Farhan, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, tidak semua persoalan drainase bisa ditangani dengan cepat. Beberapa saluran air disebut sudah “terkunci”, terutama drainase yang terhubung langsung dengan sungai-sungai bermasalah.

“Ada beberapa drainase yang memang sudah terkunci, terutama yang nyambung langsung ke sungai-sungai yang bermasalah. Sungai-sungai itu seperti Cikapundung, Cidurian, dan lain-lain,” ujarnya.

Persoalan ini tidak sederhana karena sistem drainase di Kota Bandung saling terhubung sebagai satu jaringan besar yang bermuara ke sungai. Penanganan sungai sendiri harus melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Kalau untuk menangani sungainya langsung, kita nanti akan berurusannya dengan BBWS. Itu butuh waktu lama,” ucapnya.

1. Fokus pembersihan drainase

Sistem drainase yang buruk ( https://www.google.com )

Sambil menunggu penanganan sungai, Pemkot Bandung memilih langkah cepat dengan memfokuskan perbaikan dan pembersihan drainase di titik-titik permukiman dan jalan utama.

“Untuk mempercepat, kita akan melakukan penanganan drainase di titik-titik pemukiman saja dulu. Dan yang paling penting adalah pembersihan drainase,” kata Farhan.

Pembersihan dilakukan setiap hari, terutama di ruas jalan utama seperti Ciateul, Leuwipanjang, hingga Cipaganti.

“Cuaca hujan terus terjadi, tapi tampaknya belum ada hujan yang besar. Mumpung belum terjadi hujan besar, pembersihan drainase kita lakukan setiap hari,” jelasnya.

Ia menyebut jumlah titik yang ditangani sangat banyak dan dikerjakan secara bersamaan. Selain pembersihan, Pemkot juga melakukan perbaikan drainase yang rubuh serta penertiban bangunan yang menutup saluran air.

“Sekarang banyak drainase rubuh, terus juga penertiban karena banyak sekali drainase yang ditutup bangunan. Sudah kita bongkar, contohnya di Lodaya dan Jalan Tengku Angkasa,” katanya.

2. Antisipasi debit sungai naik

Gunung Manglayang (wikipedia.com/Adilancek)

Untuk mengantisipasi kenaikan debit Sungai Cikapundung, Farhan menyebut Pemkot Bandung telah memanfaatkan sistem sensor peringatan dini yang dikelola Diskominfo.

“Kalau di daerah hulu sudah mulai bunyi sensornya, maka daerah-daerah hilir yang biasanya terdampak itu sudah langsung akan diusikan,” jelasnya.

Informasi dari sensor akan diteruskan ke command center dan langsung disampaikan kepada petugas di lapangan. Beberapa wilayah yang dipantau antara lain kawasan Dago, Luhur Dago, hingga Tahura. Sementara itu, perhatian terbesar Pemkot Bandung saat ini tertuju pada kawasan Bandung Utara (KBU), khususnya di sekitar kaki Gunung Manglayang.

“KBU itu yang paling mengkhawatirkan. Saya tuh sebetulnya yang paling tegang sekarang Manglayang,” ungkap Farhan.

Ia menyebut jarak antara titik kritis longsor dengan permukiman warga sangat dekat, terutama di wilayah Mandalajati, Cibiru, dan Ujungberung.

“Karena jaraknya dekat sekali, itu yang kita sangat khawatir,” katanya.

3. Coba modifikasi cuaca

potret gunung Manglayang (commons.m.wikimedia.org/Suteji)

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung menjaga ruang terbuka hijau (RTH) yang telah dibuka dan dibeli di wilayah Mandalajati dan Cibiru agar tetap berfungsi sebagai penyangga lingkungan.

“Kita ingin memastikan semua buffer yang kita punya, RTH di Mandalajati dan Cibiru, betul-betul terjaga. Pohonnya tidak ada yang ditebang,” ujarnya.

Selain upaya di darat, Pemkot Bandung juga menunggu pelaksanaan modifikasi cuaca yang dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kita sedang menantikan jadwal modifikasi cuaca. Itu dikoordinasikan oleh BNPB, karena Jawa Barat banyak titik yang perlu dimodifikasi cuacanya,” kata Farhan.

Editorial Team