Warga pikul jenazah seberangi sungai di Kabupaten Sukabumi (IDN Times/Istimewa)
Kepala Desa Tanjung, Dasep Taofiqul Hiqmah, menerangkan, jembatan gantung yang menjadi akses vital bagi warganya itu dibangun pada tahun 2017 silam oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi.
Setelah enam tahun kemudian, jembatan tersebut rusak untuk yang pertama kali usai dihantam banjir bandang, tepat di bulan Desember 2024 lalu. Warga pun bergotong royong untuk membangun kembali jembatan gantung.
Namun, jembatan kembali rusak dan bahkan hilang tak tersisa satu jengkal pun. Jembatan itu putus total akibat banjir bandang pada Maret 2025.
"Cuma sayang ada bencana kedua susulan bulan Maret 2025 terjadi lagi sampai bukan putus lagi tapi habis terbawa arus air saking derasnya air, sehingga sampai saat ini belum bisa terbangun kembali," kata Dasep.
Jembatan tersebut merupakan akses satu-satunya bagi warga, terutama pendidikan dan perekonomian warga yang didominasi petani padi.
"Jembatan tersebut betul-betul satu-satunya akses buat ekonomi, jual beli, pendidikan, kesehatan, sehingga area pesawahan pun ada di desa sebelah. Kebetulan warga kami pesawahan pun areanya ada di Waluran, sehingga akses ekonomi, pendidikan, satu-satunya akses yaitu melintasi jembatan yang putus ini," kata Dasep.