ilustrasi jajan (pexels.com/Mike Jones)
Dari total pengeluaran sebesar Rp1,3 juta per kapita per bulan pada 2025, sebanyak Rp707.634 atau 52,9 persen digunakan untuk kebutuhan makanan.
Angka ini naik dari Rp675.859 pada tahun sebelumnya. Salah satu pos terbesar dalam kelompok ini adalah pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi, yang mencapai Rp299.998, naik dari Rp274.342 pada 2023.
BPS mencatat, konsumsi makanan siap saji, baik yang dibeli di warung makan maupun produk kemasan, menjadi tren konsumsi masyarakat Cirebon dalam dua tahun terakhir. Hal ini disebut sebagai salah satu faktor utama kenaikan pengeluaran rumah tangga.
Selain makanan jadi, pengeluaran untuk beras juga naik dari Rp73.346 menjadi Rp81.157. Kenaikan serupa terjadi pada daging dari Rp24.368 menjadi Rp29.316 dan buah-buahan dari Rp26.583 menjadi Rp28.405. Pengeluaran untuk sayur-mayur meningkat dari Rp39.579 menjadi Rp41.496.
Namun, beberapa jenis bahan pangan justru mengalami penurunan pengeluaran. Telur dan susu turun dari Rp35.665 menjadi Rp33.452, kacang-kacangan dari Rp16.112 menjadi Rp14.380, dan minyak kelapa dari Rp14.483 menjadi Rp14.143.
BPS juga mencatat penurunan pengeluaran untuk rokok, meskipun jumlahnya masih signifikan. Pada 2025, pengeluaran rokok per kapita mencapai Rp92.094, turun dari Rp97.442 pada 2024. Meski turun, rokok tetap menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam kelompok makanan setelah makanan jadi dan beras.