Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-02-02 at 11.14.51.jpeg
Dok IDN Times

Intinya sih...

  • Akses terputus, relawan tempuh medan ekstrem

  • Jalanan curam, licin, dan lumpur

  • Rumah rusak, aktivitas warga terhenti

  • Longsor dari hulu burangrang perparah banjir

  • Longsor dari Gunung Burangrang

  • Trauma mendalam bagi warga

  • Bantuan jadi awal pemulihan warga

  • Bantuan kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat

  • Dukungan lintas pihak relawan dan masyarakat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung Barat, IDN Times – Hujan yang turun deras di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu membawa dampak yang tak ringan. Banjir bandang disertai tanah longsor mengubah keseharian warga dalam hitungan jam. Rumah rusak, akses terputus, dan rasa takut masih membayangi, terutama setiap kali hujan kembali turun.

Puluhan kepala keluarga (KK) terdampak langsung dari bencana yang mengakibatkan 80 orang meninggal dunia. Meski trauma belum sepenuhnya hilang, warga perlahan mulai bangkit, dibantu kehadiran relawan dan dukungan kemanusiaan yang datang dari berbagai daerah ke wilayah tersebut.

1. Akses terputus, relawan tempuh medan ekstrem

Dok IDN Times

Menjangkau permukiman warga pascabanjir bandang bukan perkara mudah. Jalanan menuju lokasi terdampak curam, licin, dan dipenuhi lumpur. Kendaraan tak bisa melintas hingga titik permukiman, memaksa relawan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di tengah hujan dan kabut.

Setibanya di lokasi, dampak bencana terlihat jelas. Sejumlah rumah mengalami kerusakan, aktivitas warga terhenti, dan sebagian keluarga memilih tetap berjaga karena khawatir longsor susulan terjadi.

2. Longsor dari hulu burangrang perparah banjir

Menko PMK Pratikno mengunjungi lokasi longsor Cisarua. (Dok. Kemenko PMK)

Relawan di lapangan menjelaskan, longsor berasal dari bagian atas kawasan Gunung Burangrang, bukan dari perbukitan kecil di sekitar permukiman. Material tanah yang turun dengan volume besar membuat aliran air semakin deras dan memperparah banjir bandang di wilayah bawah.

Kondisi ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga. Jajang, salah satu warga terdampak, mengaku hingga kini masih dihantui rasa cemas.
“Kalau hujan turun lagi, warga langsung waswas. Tapi bantuan dan dukungan yang datang bikin kami merasa tidak sendirian,” ujarnya.

3. Bantuan jadi awal pemulihan warga

Dok IDN Times

Di tengah keterbatasan, bantuan kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat menjadi penopang awal bagi warga untuk bertahan. Lebih dari sekadar logistik, kehadiran relawan memberi dorongan psikologis agar warga kembali memiliki semangat menjalani hari.

Proses pemulihan di Cisarua diperkirakan berjalan bertahap. Dukungan lintas pihak relawan, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci agar aktivitas warga bisa kembali normal sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana serupa di masa depan.

Editorial Team