Meski tren pengolahan terus naik, Aldi menilai belum semua wilayah di Bandung bergerak optimal. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal pemilahan, melainkan distribusi dari wilayah ke fasilitas pengolahan di Gedebage.
Menurutnya, kawasan yang berada di sekitar Gedebage relatif sudah lebih stabil dalam mengirim sampah organik. Namun untuk wilayah yang lebih jauh, pengiriman masih terkendala jarak, distribusi, dan kemungkinan pengolahan mandiri di wilayah masing-masing.
“Untuk wilayah sekitar Gedebage relatif sudah optimal. Tapi untuk wilayah yang lebih jauh, kemungkinan masih terkendala distribusi atau pengolahan di wilayah masing-masing,” jelasnya.
Saat ini sudah ada sekitar 15 kelurahan yang rutin terlibat dalam program Gaslah. Beberapa di antaranya berasal dari Kecamatan Kiaracondong, Mekar Mulya, Panyileukan, Gedebage, Cicendo, hingga Sukajadi.
Aldi menyebut, jika seluruh wilayah di Kota Bandung bisa mengoptimalkan pola yang sama, maka volume pengolahan sampah organik masih sangat mungkin meningkat. Bahkan, fasilitas di Gedebage disebut masih sanggup menampung tambahan hingga 20 ton per hari dari potensi lonjakan yang ada.
Artinya, jika distribusi makin rapi dan partisipasi wilayah makin merata, Bandung masih punya peluang besar menambah kapasitas pengolahan hingga 40 ton sampah organik per hari.
“Kalau semua wilayah sudah optimal, potensi peningkatan sangat besar. Ini bisa jadi solusi nyata mengurangi beban sampah kota,” tandas Aldi.
Di tengah persoalan sampah yang masih jadi pekerjaan rumah besar Kota Bandung, tren naiknya pengolahan organik di Gedebage memberi sinyal positif. Saat sampah mulai dipilah dari rumah dan diolah lebih dekat ke sumber, beban kota pelan-pelan bisa dikurangi.