Langkah ketiga adalah penguatan transportasi massal. Pemkot Bandung bersama Kementerian Perhubungan dan dukungan World Bank tengah mendorong dua program besar, yakni pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat serta studi kelayakan LRT bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Menurut Farhan, BRT dirancang melayani koridor timur–barat, sementara LRT akan menghubungkan jalur utara–selatan. Skema ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung sistem transportasi massal Kota Bandung.
Namun demikian, ia menyatakan, revitalisasi angkutan kota (angkot) tetap menjadi bagian penting dari sistem baru tersebut. Angkot harus bertransformasi menjadi feeder bagi BRT dan LRT agar sistem transportasi terintegrasi dapat berjalan optimal.
Farhan juga menyoroti persoalan mendasar transportasi di Bandung yang belum mengalami perubahan trayek sejak 1984. Ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi dinilai sudah terlalu tinggi, sehingga dibutuhkan langkah revolusioner untuk mengembalikan minat warga menggunakan transportasi umum.
"Terus terang sekarang ini kualitas kendaraan umum dan transportasi umum di Kota Bandung sangat tidak layak," ungkapnya.
Farhan mengatakan, sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota menjadi kunci dalam mendorong percepatan realisasi berbagai program tersebut. Menurutnya, pembenahan transportasi bukan hanya untuk mengurai kemacetan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing pariwisata Kota Bandung ke depan.