Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2025-11-21 at 6.16.28 PM.jpeg
Penanganan tumpukan sampah di Kota Bandung, Dok. Humas Pemkot Bandung

Intinya sih...

  • 500 ton sampah ditangani tiap hari, 70% masih belum terkelola

  • Insinerator menjadi alat atasi sampah di Bandung dengan target operasi tahun 2026

  • Banyak wilayah di Bandung tak punya fasilitas pengolahan sampah yang memadai, butuh kerjasama pemerintah dan masyarakat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung bakal serius menangani persoalan sampah yang selama ini menghantui. Penumpukan sampah yang tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi masalah yang tak kunjung usai.

Tahun ini, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan bahwa 30 persen sampah dari Kota Bandung akan diolah secara mandiri.

"Pada awal 2025, hampir 100 persen sampah Kota Bandung diangkut ke TPA Sarimukti. Melalui berbagai upaya pengelolaan dan pemanfaatan, saat ini sekitar 20 persen atau sekitar 320 ton sampah per hari telah dikelola dan dimusnahkan melalui berbagai teknologi yang tersedia," kata Farhan, Senin (5/1/2026).

1. Ada 500 ton sampah ditangani tiap hari

Penumpukan sampah di TPS Kota Bandung, Minggu (16/11/2025). IDN Times/Debbie Sutrisno

Dengan pengelolaan pada angka tersebut, maka dari total timbulan sampah sekitar 1.500 ton per hari, hampir 500 ton dapat ditangani, meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah sekitar 70 persen atau hampir 1.000 ton per hari.

“Tidak ada satu solusi ajaib dalam penanganan sampah. Dibutuhkan langkah-langkah yang terstruktur dan berkelanjutan,” katanya.

Untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya, Pemkot Bandung akan meluncurkan program petugas pemilah dan pengolah sampah, satu orang di setiap RW.

Farhan meminta seluruh aparatur Pemkot Bandung mendukung penuh program tersebut.

2. Insinerator jadi alat atasi sampah di Bandun

Bupati Kudus, Samani Intakoris (kiri) saat menyalakan mesin insinerator pengolahan sampah residu di Desa Jati Kulo Kabupaten Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, menargetkan pembangunan empat titik insinerator baru bisa segera beroperasi pada 2026.

"Memang prosesnya tidak mudah, karena harus lolos sertifikasi dari kementerian. Kita juga sudah siapkan lewat APBD Perubahan,” kata Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Bandung, Juma

Farhan mengungkapkan langkah tersebut dilakukan untuk menangani persoalan sampah, terutama setelah adanya pembatasan kuota pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sejak Oktober lalu.

3. Banyak wilayah tak punya fasilitas pengolahan sampah memadai

Badan POM Serahkan Empat Unit Mobil Insinerator Kepada RS Darurat Corona (Dok. BPOM)

Farhan menerangkan masih ada sejumlah wilayah yang belum memiliki fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Akibatnya, terjadi antrean lebih lama di beberapa titik pembuangan sementara.

“Beberapa wilayah memang masih menumpuk, karena fasilitas pengolahan belum terbangun. Makanya kita perlu pengelolaan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan pengangkutan sampah  harus terus berjalan tanpa hambatan, karena jika berhenti sehari saja tumpukan bisa meningkat drastis.

Editorial Team