Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Setelah Bogor, Fenomena Awan Pelangi Muncul di Indramayu
Dok. Istimewa

Majalengka, IDN Times – Fenomena awan pelangi kembali bikin heboh warga Jawa Barat. Setelah sempat ramai terlihat di Jonggol, Kabupaten Bogor, pemandangan serupa kini muncul di langit Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Selasa (5/5/2026) pagi.

Kemunculan pelangi tak biasa itu langsung menarik perhatian warga. Bentuknya yang tampak menggantung di langit dan hanya terlihat sebagian membuat banyak orang mengabadikannya lalu membagikannya ke media sosial. Tak sedikit warga yang menyebut fenomena itu mirip dengan awan pelangi yang sebelumnya viral di Bogor.

Prakirawan BMKG Kertajati, Dyan Angrainy, menjelaskan fenomena tersebut merupakan pelangi yang terbentuk dari interaksi cahaya matahari dengan butir-butir air di udara. Kondisi itu umum terjadi saat masih ada sisa hujan di atmosfer, sementara sinar matahari tetap menembus awan.

1. Terbentuk dari cahaya matahari dan butir air

Inin Nastain IDN Times/ Petugas BMKG Kertajati saat mengecek alat

Dyan menjelaskan, pelangi muncul akibat interaksi cahaya matahari dengan butiran air yang masih tersisa di udara. Butiran air itu bisa berasal dari sisa hujan atau hujan yang masih terjadi di sekitar wilayah tersebut.

“Terbentuknya pelangi disebabkan oleh adanya interaksi antara cahaya matahari dengan butir-butir air di udara dari sisa hujan ataupun karena terjadinya hujan di sekitarnya,” kata Dyan.

Proses tersebut membuat cahaya matahari dibiaskan oleh butir air dan memunculkan spektrum warna yang terlihat seperti pelangi di langit.

2. Bentuknya tak utuh karena tertutup awan tinggi

ilustrasi pelangi (pexels.com/Binyamin Mellish)

Pelangi yang terlihat di langit Indramayu tidak membentuk lengkungan utuh seperti biasanya. Menurut Dyan, hal itu terjadi karena sebagian pelangi tertutup awan tinggi jenis Towering Cumulus.

Akibatnya, warga hanya melihat sebagian bentuk pelangi yang tampak menggantung di atas awan. Inilah yang membuat tampilannya terlihat berbeda dan memancing rasa penasaran warga.

“Nah kenapa yang terlihat hanya sebagian, ini disebabkan pelanginya tertutup oleh awan yang cukup tinggi, yakni Towering Cumulus,” ujarnya.

3. Lebih sering muncul saat masa peralihan musim

ilustrasi badai (pexels.com/Soly Moses)

BMKG menyebut fenomena pelangi seperti ini lebih berpeluang muncul saat masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Pada periode ini, hujan lokal masih kerap terjadi, tetapi sinar matahari juga tetap cukup kuat.

Kombinasi keduanya menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya pelangi. Karena itu, fenomena serupa diperkirakan masih bisa muncul di sejumlah wilayah lain dalam beberapa waktu ke depan.

“Fenomena pelangi memang lebih sering terjadi pada periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Karena pada periode tersebut masih terdapat butir air akibat hujan dan masih terdapat cahaya matahari,” jelas Dyan.

Meski begitu, BMKG menegaskan kemunculan awan pelangi bukan tanda langsung akan terjadi badai. Fenomena ini hanya menunjukkan adanya pertumbuhan awan konvektif yang bisa memicu hujan lokal di sekitar wilayah tersebut.

Editorial Team