Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Selain itu, dari segi administrasi publik, Kristian merasa, masih ada rasa ketidak percayaan dari para pemimpin terpilih terhadap birokrasi yang sudah ada didalam pemerintahan.
"Kalau kami menyebutnya dengan istilah selected political leader, ini tidak menaruh kepercayaan terhadap birokrasi yang sudah ada. Kalau di tingkat provinsi Jawa Barat buktinya sudah jelas, ketika Kang Dedi menarik sejumlah unsur birokrasi dari pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk ditempatkan di pemerintah Provinsi Jawa Barat," katanya.
Oleh sebab itu, dalam satu tahun masa kerja ini, perlu bagi masyarakat untuk melihat sebuah kebijakan tidak dari personalnya saja, karena sebuah kebijakan tidak hanya dihasilkan oleh kepala daerah saja.
"Nah, ini yang (harus) hati-hati dalam politik mungkin kita melihatnya pencitraan personal. Tetapi dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan kita melihatnya dalam kerangka kinerja institusi lembaga pemerintah daerah," ucapnya.
Maka, ia pun berpendapat, penilaian keberhasilan terhadap kepala daerah selama satu tahun ini tidak dapat dilihat secara parsial, melainkan perlu dilihat secara komprehensif atau secara menyeluruh.
"Termasuk bagaimana cross cutting tentang stabilitas tata kelola lintas perangkat daerah, koordinasi yang ada di dalamnya. Apakah Kang Dedi sudah berhasil membangun sistem koordinasi dan tata kelola yang terintegrasi antara perangkat daerah yang memungkinkan bagaimana pelaksanaan atau implementasi kebijakan itu bisa berjalan hingga ke akar?" tanyanya.
Lebih lanjut, Kristian menyampaikan, waktu satu tahun masih belum cukup untuk menilai dampak struktural jangka panjang, baik itu di sektor pembangunan, ekonomi dan lain sebagainya.
"Tapi kita sudah bisa membaca aktivitas manajerialnya yang menurut saya sih dari arah kebijakan, banyak yang sifatnya hanya temporer saja gitu. Misalnya kebijakan di bidang pendidikan kita kan pernah kemarin dikagetkan dengan apa pendidikan di barak (militer) tapi kemudian bagaimana keberlanjutannya?" katanya.
"Lalu dari sisi kualitas manajerial kita juga pernah mendengar konflik yang terjadi antara Wakil Gubernur dengan Sekretaris Daerah (Sekda), bagaimana tata manajerialnya? Jadi jangan terfokus hanya pada kepemimpinan Kang Dedi-nya semata, terutama dari citra politiknya tapi dari aspek-aspek yang sifatnya memang terukur dan bisa terlihat di dalam konteks tata kelola penyelenggaraan pemerintahan," kata dia.