Ilustrasi job fair (IDN Times/Galih Persiana)
Dari sisi karakteristik pencari kerja, Disnakertrans mencatat lonjakan pendaftaran terjadi pada Mei dan Juni 2025. Pada periode tersebut, lebih dari 3.200 orang mendaftarkan diri sebagai pencari kerja, seiring berakhirnya tahun ajaran sekolah menengah. Kondisi ini menunjukkan bahwa lulusan baru, khususnya dari SMA dan SMK, masih mendominasi struktur pencari kerja di Kuningan.
Yanto mengatakan, penyaluran tenaga kerja melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) berbasis SMK dan lembaga pelatihan kerja juga memainkan peran penting. Sepanjang 2025, sebanyak 1.341 lulusan berhasil masuk ke dunia kerja melalui jalur ini, mayoritas merupakan pencari kerja pemula.
Sementara itu, dari sisi ketersediaan lapangan kerja, jumlah lowongan yang tercatat sepanjang 2025 mencapai 21.770 posisi. Angka tersebut jauh melampaui jumlah pencari kerja terdaftar, menandakan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Kuningan tidak terletak pada minimnya peluang kerja.
Yanto menilai tantangan utama ketenagakerjaan di Kuningan justru terletak pada kesesuaian kompetensi, keterampilan teknis, dan kemampuan bahasa. Kesenjangan ini kerap menjadi hambatan, terutama bagi pencari kerja yang ingin masuk ke sektor industri tertentu atau bekerja ke luar negeri.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, Disnakertrans Kuningan terus memperkuat program pelatihan berbasis kebutuhan industri melalui balai latihan kerja (BLK), pengembangan program padat karya, serta dukungan terhadap koperasi desa. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif, baik di dalam negeri maupun di tingkat global," ujarnya.