Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kotoran manusia (unsplash.com/@sincerelymedia)
ilustrasi kotoran manusia (unsplash.com/@sincerelymedia)

Intinya sih...

  • Keluhan wisatawan tentang bau pesing di pusat kota

  • Gedung kosong disalahgunakan sebagai toilet darurat

  • Penertiban homeless dan pembersihan di taman dan kawasan wisata

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Kota Bandung kembali dihadapkan pada persoalan mendasar tata kelola kota. Di saat masalah sampah belum sepenuhnya tuntas, Wali Kota Bandung M. Farhan mengungkap temuan lain yang tak kalah serius yakni banyaknya kotoran manusia ditemukan di sejumlah taman dan ruang publik, terutama di kawasan wisata yang dipadati pengunjung.

Masalah ini mencuat usai lonjakan wisatawan selama libur panjang Natal dan tahun baru (Nataru). Bandung ramai, ekonomi bergerak, namun kesiapan kota dalam urusan sanitasi kembali diuji.

1. Dari keluhan wisatawan bau pesing

Suasana malam tahun baru di Jalan Asia Afrika (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Persoalan ini awalnya terungkap dari keluhan warga dan pengunjung yang mencium bau pesing (hangseur) di pusat kota. Saat fokus pemerintah kota tertuju pada pengamanan wisata, laporan tersebut justru membuka masalah lain yang tersembunyi.

“Waktu patroli, ternyata di banyak pojok itu ada kotoran manusia,” ungkap Farhan.

Pengecekan langsung menunjukkan bahwa kotoran manusia tidak ditemukan di satu titik saja, melainkan tersebar di berbagai sudut kota. Beberapa lokasi yang disorot berada di kawasan Wastukencana, Braga, Taman Panda, hingga Jalan Asia Afrika di mana area yang selama ini dikenal sebagai wajah Bandung di mata wisatawan.

Temuan ini menjadi tamparan keras bagi citra kota wisata. Taman kota dan ruang publik yang seharusnya menjadi ruang aman, bersih, dan ramah, justru berubah menjadi titik persoalan sanitasi.

2. Gedung kosong jadi toilet darurat

Jalan Asia Afrika, Bandung (instagram.com/naufalimtz)

Farhan menegaskan, persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai sekadar masalah kebersihan atau perilaku individu. Di lapangan, banyak gedung kosong di kawasan wisata yang disalahgunakan sebagai toilet darurat.

Kondisi ini mengindikasikan dua masalah besar yang saling berkaitan: keterbatasan fasilitas toilet umum dan persoalan sosial perkotaan, termasuk keberadaan homeless dan manusia kardus.

Di tengah status Bandung sebagai kota tujuan wisata, persoalan sanitasi dasar justru belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan pengunjung. Padahal, wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati suasana kota, tetapi juga berharap kenyamanan dan kebersihan ruang publik.

“Ini bukan cuma soal bersih-bersih, tapi soal bagaimana kota ini dikelola,” ujar Farhan, menegaskan bahwa temuan tersebut nyata dan perlu ditangani serius.

3. Penertiban homeless dan pembersihan dikebut

ilustrasi seorang homeless (pexels.com/@harrisonhaines)

Sebagai langkah cepat, Pemerintah Kota Bandung akan melakukan operasi penertiban homeless dan manusia kardus, sekaligus pembersihan menyeluruh di taman dan kawasan wisata. Operasi ini dijadwalkan berlangsung selama dua pekan ke depan.

Farhan menekankan, penanganan dilakukan untuk memastikan ruang publik kembali layak digunakan masyarakat dan wisatawan. Namun ia juga mengisyaratkan bahwa solusi jangka pendek tidak cukup jika akar persoalan tidak dibenahi.

Di tengah krisis sampah yang belum sepenuhnya terselesaikan, munculnya masalah kotoran manusia di taman kota memperlihatkan tantangan ganda tata kelola urban Bandung: ledakan wisata tidak diimbangi kesiapan infrastruktur dasar dan penanganan masalah sosial.

Jika tidak ditangani secara komprehensif—mulai dari penyediaan toilet umum, pengelolaan ruang kosong, hingga pendekatan sosial—Bandung berisiko terus terjebak pada siklus masalah yang sama: kota ramai, tapi ruang publiknya kewalahan.

4. Percantik 17 ruas jalan wisata di Kota Bandung

Jalan Braga

Farhan menyebut, Pemkot Bandung akan melakukan beautification atau mempercantik serta perawatan rutin di 17 ruas jalan yang menjadi wajah pariwisata kota. Ruas-ruas tersebut antara lain Jalan Ir. H. Juanda (Dago), LLRE Martadinata (Riau), Merdeka, Lembong, Tamblong, Asia Afrika, Simpang Lima, Naripan, Jalan Sunda, Jalan Sumatera, Jalan Jawa, hingga Wastukencana.

“Ini perbaikan normal saja, tapi dilakukan khusus karena ruas-ruas ini sudah jadi destinasi wisata,” kata Farhan.

Langkah ini diambil seiring meningkatnya arus wisatawan yang memadati pusat kota, terutama saat akhir pekan dan libur panjang.

Meski menghadapi persoalan kebersihan, Farhan menyebut ada sisi positif dari tingginya kunjungan wisata. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung tercatat melampaui target selama periode libur.

Alhamdulillah, PAD kita di atas target. Ini jadi modal untuk penambahan kuota infrastruktur,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga tengah melakukan penghitungan ulang koefisien ruang terbuka hijau (RTH) sesuai indeks biru-hijau Indonesia yang ditetapkan Kementerian ATR/BPN. Farhan berharap hasilnya menunjukkan kenaikan, seiring penambahan RTH di kawasan Bandung timur seperti Cibiru.

Salah satu contoh pengembangan RTH adalah kawasan Nagrog, termasuk penataan akses pemakaman yang direncanakan menjadi satu arah untuk mengurai kemacetan.

Dengan perbaikan jalan, penertiban sosial, dan percepatan RTH, Pemkot Bandung berupaya menyeimbangkan status kota wisata dengan tantangan tata kelola urban yang kian kompleks.

Editorial Team