Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ribuan Warga Cirebon Pilih Kerja ke Luar Negeri Tahun Ini
Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani lakukan kunjungan kerja ke Poltekkes Banda Aceh. (Dok. Kementerian P2MI)
  • Sebanyak 2.448 warga Kabupaten Cirebon bekerja ke luar negeri pada Januari–Maret 2026, menempatkan daerah ini di posisi keempat nasional sebagai penyumbang pekerja migran terbanyak.
  • Mayoritas pekerja migran asal Cirebon berprofesi di sektor perawatan dan perkebunan, dengan pemerintah daerah mendorong peningkatan keterampilan serta kemampuan bahasa asing sebelum keberangkatan.
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon memperketat pengawasan penyaluran PMI agar seluruh keberangkatan dilakukan secara prosedural dan aman melalui koordinasi dengan BP2MI serta aparat terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Kabupaten Cirebon kembali masuk jajaran daerah penyumbang pekerja migran Indonesia (PMI) terbesar di Tanah Air.

Data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI)/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan, sebanyak 2.448 warga Kabupaten Cirebon bekerja ke luar negeri sepanjang Januari hingga Maret 2026.

Jumlah tersebut menempatkan Kabupaten Cirebon di posisi keempat nasional sebagai daerah asal PMI terbanyak selama triwulan pertama 2026. Cirebon hanya berada di bawah Indramayu dengan 4.096 PMI, Lombok Timur 3.221 PMI, dan Cilacap 2.694 PMI.

Dalam laporan layanan penempatan PMI periode Maret 2026, jumlah keberangkatan pekerja migran asal Kabupaten Cirebon tercatat relatif stabil setiap bulan. Pada Januari terdapat 866 orang, Februari 701 orang, dan Maret kembali meningkat menjadi 881 orang.

Secara nasional, total penempatan PMI selama Januari–Maret 2026 mencapai 65.813 orang.

Bupati Cirebon Imron Rosyadi menilai tingginya jumlah PMI asal Kabupaten Cirebon menunjukkan masih besarnya minat masyarakat bekerja di luar negeri demi memperbaiki taraf hidup keluarga.

“Fenomena ini menjadi perhatian pemerintah daerah. Di satu sisi, bekerja ke luar negeri membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Tapi di sisi lain, kami juga harus memastikan seluruh warga berangkat secara prosedural dan mendapatkan perlindungan,” kata Imron, Selasa (19/5/2026).

1. Dorongan ekonomi masih dominan

ilustrasi pekerja (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Imron mengatakan, faktor ekonomi masih menjadi alasan utama warga memilih bekerja di luar negeri. Kesempatan kerja dengan pendapatan lebih tinggi dibandingkan sektor informal di daerah dinilai menjadi daya tarik utama.

Menurut dia, kondisi tersebut juga menjadi sinyal bahwa penciptaan lapangan kerja lokal masih perlu diperkuat. Pemerintah Kabupaten Cirebon, kata Imron, tengah berupaya memperluas peluang kerja melalui pengembangan sektor industri, pertanian, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Kami tidak bisa menutup fakta banyak warga memilih menjadi PMI karena pertimbangan ekonomi. Maka pemerintah daerah harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas kesempatan kerja di daerah," ujarnya.

Ia menambahkan, keberangkatan PMI juga memberi kontribusi ekonomi melalui remitansi atau kiriman uang dari luar negeri yang turut menggerakkan perekonomian keluarga di desa-desa.

2. Didominasi sektor perawatan dan perkebunan

ilustrasi pekerja (pexels.com/Yury Kim)

Data KP2MI/BP2MI juga menunjukkan sektor pekerjaan yang paling banyak diisi PMI selama Maret 2026 masih didominasi bidang domestik dan perawatan.

Posisi tertinggi ditempati caregiver dengan total 15.056 pekerja sepanjang Januari–Maret 2026. Disusul plantation worker atau pekerja perkebunan sebanyak 7.225 orang dan house maid sebanyak 5.936 orang.

Selain itu, terdapat pula penempatan PMI sebagai operator produksi sebanyak 3.832 orang, industry worker 3.430 orang, serta domestic worker sebanyak 3.181 orang.

Imron meminta calon PMI asal Kabupaten Cirebon meningkatkan keterampilan sebelum berangkat bekerja ke luar negeri. Menurut dia, kemampuan bahasa asing dan kompetensi kerja menjadi faktor penting agar PMI memperoleh pekerjaan layak serta perlindungan yang lebih baik.

"Peningkatan keterampilan penting supaya warga kita tidak hanya masuk sektor informal, tetapi juga bisa mengakses pekerjaan yang lebih baik dan memiliki perlindungan memadai," katanya.

3. Pengawasan penyaluran diperketat

Ilustrasi pekerja Jepang (Unsplash.com/ Tom Tor)

Pemerintah Kabupaten Cirebon juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur jalur pemberangkatan nonprosedural yang berisiko menimbulkan persoalan hukum maupun eksploitasi tenaga kerja.

Imron menegaskan, pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi dengan BP2MI, pemerintah desa, dan aparat penegak hukum untuk mencegah praktik penyaluran ilegal.

"Kami ingin seluruh PMI asal Kabupaten Cirebon berangkat secara resmi, memiliki dokumen lengkap, kontrak kerja jelas, dan mendapatkan perlindungan negara," ujarnya.

Ia berharap tingginya angka PMI asal Kabupaten Cirebon tidak hanya dipandang sebagai angka statistik, melainkan menjadi momentum memperbaiki kualitas tenaga kerja daerah sekaligus memperluas peluang ekonomi di dalam negeri.

Editorial Team