Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ribuan Rumah Tangga di Kuningan Bubar Gara-Gara Pinjol dan Judol
ilustrasi perceraian (pexels.com/RDNE Stock Project)

  • Ada 1.625 kasus perceraian di Kuningan sepanjang Januari–September 2025, mayoritas dipicu tekanan ekonomi akibat pinjol dan judi online yang memperburuk kondisi finansial keluarga muda.
  • Pernikahan dini tanpa kesiapan mental dan finansial turut memperlemah ketahanan keluarga, terutama di wilayah pedesaan dengan tingkat pendidikan rendah dan literasi keuangan minim.
  • Pemerintah Kabupaten Kuningan menggencarkan edukasi keuangan melalui program pra-nikah dan konseling keluarga serta mendorong perbankan lokal menyediakan pembiayaan aman sebagai alternatif pinjol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kuningan, IDN Times - Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar mengungkap, ada 1.625 kasus perceraian di wilayahnya, pada periode Januari hingga September 2025. Pinjaman online (pinjol) alias pinjol menjadi salah satu penyebab.

Dian menyebutkan, secara rata-rata, perceraian yang terjadi di Kabupaten Kuningan setiap bulannya terjadi 181 kasus. Mayoritas kasus ini pun melibatkan pasangan muda yang menghadapi tekanan ekonomi, beban utang, dan ketidakstabilan pendapatan.

1. Tekanan ekonomi faktor dominan, pinjol dan judol menjadi sorotan

ilustrasi perceraian (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Dian menyebut, salah satu pemicu utama perceraian tersebut karena lemahnya literasi keuangan masyarakat sehingga menyeret sejumlah keluarga ke dalam konflik ekonomi. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah pasangan yang mudah terjebak pada layanan pinjaman cepat, termasuk pinjol, tanpa memahami risiko bunga tinggi dan konsekuensi penagihan.

“Literasi keuangan sangat penting agar masyarakat tidak mudah terjebak pinjol yang menawarkan proses cepat, tetapi memiliki risiko besar,” ujarnya belum lama ini.

Selain pinjol, praktik judi online (judol) semakin memperparah kondisi finansial rumah tangga. Kemudahan akses melalui gawai membuat pengeluaran konsumtif tidak terkendali. Tekanan ekonomi semakin menumpuk dan memicu pertengkaran yang kemudian berujung pada perceraian.

"Wilayah Kuningan bagian timur disebut menjadi kawasan dengan tingkat perceraian tertinggi," kata Dian.

Selain faktor ekonomi, rendahnya pemahaman mengenai pengelolaan keuangan keluarga dan ketergantungan pada pembiayaan instan membuat banyak keluarga tidak mampu keluar dari lingkaran masalah finansial.

2. Pernikahan dini memperburuk ketahanan keluarga

ilustrasi perceraian (freepik.com/freepik)

Selain tekanan ekonomi, pernikahan usia dini turut memperburuk ketahanan keluarga. Banyak pasangan menikah pada usia sangat muda tanpa kesiapan mental, spiritual, maupun finansial. Ketika menghadapi tekanan hidup, konflik kerap tak terhindarkan.

“Masih ada pasangan yang menikah di usia sangat muda tanpa kesiapan yang matang. Ketika muncul persoalan ekonomi, konflik menjadi sulit dihindari,” kata Dian.

Tidak hanya itu, kata dian, pernikahan dini juga kerap terjadi di wilayah pedesaan dengan tingkat pendidikan rendah.

Minimnya pemahaman mengenai pengelolaan pendapatan, strategi menabung, serta pengendalian pengeluaran menjadi beban tambahan bagi keluarga muda.

"Fenomena ini harus diatasi dengan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi finansial, konseling keluarga, hingga sosialisasi mengenai risiko pernikahan di usia kurang matang. Tujuannya agar keluarga muda lebih siap menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks," kata Dian.

3. Pemerintah daerah dorong edukasi keuangan dan akses pembiayaan aman

ilustrasi perceraian (pexels.com/cottonbro studio)

Untuk menekan angka perceraian, Pemkab Kuningan kini mendorong penguatan edukasi keuangan melalui program pra-nikah dan konseling keluarga.

Program ini melibatkan aparat desa yang bertugas menjangkau masyarakat hingga lapisan terbawah agar pemahaman mengenai pengelolaan keuangan lebih merata.

Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasangan yang akan menikah, tetapi juga keluarga muda yang sering kali terjebak dalam pengeluaran konsumtif dan penggunaan layanan keuangan digital secara tidak bijak.

Dian meminta perbankan daerah, termasuk Bank Kuningan, menghadirkan layanan pembiayaan yang lebih cepat dan terjangkau sehingga masyarakat memiliki alternatif, selain meminjam ke pinjol. “Ini menjadi tantangan bagi perbankan untuk menghadirkan layanan yang mudah diakses masyarakat, sehingga mereka tidak beralih ke pinjol,” ujar Dian.

Editorial Team