Ribuan Pelajar Belajar Bangun Bisnis dengan AI, Omzet Tembus Rp339 Juta

Zurich Entrepreneurship Program 2026–2027 membekali 6.125 siswa SMA dan SMK di sepuluh kota untuk membangun bisnis berbasis teknologi digital.
Peserta menjalankan konsep Student Company, dari riset kebutuhan pasar hingga pengelolaan keuangan, sambil menggali kearifan lokal sebagai inspirasi usaha.
AI digunakan untuk ide bisnis, riset pasar, dan promosi secara etis; program menargetkan 16.975 siswa hingga 2028 setelah melibatkan lebih dari 10 ribu siswa.
Bandung, IDN Times – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mulai menjadi bagian dari proses belajar kewirausahaan di sekolah. Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK di sepuluh kota akan dibekali kemampuan membangun bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) pada tahun ajaran 2026–2027.
Program yang dijalankan Zurich Indonesia, Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) tersebut tidak hanya mengajarkan dasar-dasar berwirausaha. Para siswa juga didorong memahami bagaimana teknologi, termasuk AI, dapat digunakan untuk mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar, hingga menyusun strategi promosi.
Penguatan materi tersebut dilakukan setelah program memasuki fase kedua dan mencatat hasil yang cukup signifikan pada tahun pertama implementasinya. Lebih dari 10 ribu siswa telah terlibat dan berhasil melahirkan 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.
Menurut Country Manager Zurich Indonesia, Edhi Tjahja Negara, perubahan dunia usaha yang berlangsung cepat membuat generasi muda perlu memiliki kemampuan beradaptasi sejak dini.
“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat, sehingga mereka tumbuh lebih percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Edhi dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Rabu(23/9/2026).
1. Pelajar diajak membangun bisnis dari nol

ilustrasi bisnis makanan secara online (pexels.com/Anna Nekrashevich) Pada implementasi tahun ajaran 2026–2027, siswa akan mengembangkan usaha melalui konsep Student Company. Melalui pendekatan ini, peserta mempelajari seluruh tahapan membangun bisnis, mulai dari mengenali kebutuhan pasar, mengembangkan produk, membangun merek, hingga mengelola operasional dan keuangan usaha.
Berbeda dari pembelajaran teoritis di kelas, model ini memungkinkan siswa merasakan langsung pengalaman menjalankan usaha sehingga memahami tantangan dunia bisnis secara nyata.
Tahun ini, program juga mengangkat tema kearifan lokal. Siswa didorong menggali budaya, sumber daya, dan potensi ekonomi di daerah masing-masing sebagai inspirasi usaha yang memiliki identitas sekaligus nilai tambah.
2. AI digunakan untuk riset pasar hingga promosi produk

Ilustrasi AI. (IDN Times/Anjani Asra) Salah satu penguatan utama dalam program tahun ini adalah integrasi teknologi AI ke dalam proses pembelajaran kewirausahaan. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk membantu siswa mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, menyusun materi promosi, hingga mengeksplorasi peluang usaha baru. Namun penggunaan AI tidak hanya berorientasi pada efisiensi.
Program ini juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab agar siswa mampu memanfaatkan AI tanpa mengabaikan integritas, kreativitas, dan kemampuan berpikir mandiri.
Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, mengatakan perkembangan teknologi telah membuka peluang baru yang dapat dimanfaatkan generasi muda apabila mereka memiliki akses terhadap pengetahuan dan pengalaman yang memadai.
“Transformasi teknologi dan perkembangan lanskap ekonomi membuka banyak peluang baru bagi generasi muda. Melalui ZEP, kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” kata Adriana.
3. Ditargetkan menjangkau hampir 17 ribu siswa hingga 2028

Ilustrasi pelajar SMA (unsplash.com/@isengrapher) Selain pembelajaran di sekolah, peserta program mendapatkan pendampingan dari guru, mentor PJI, serta karyawan dan agen Zurich Indonesia. Pendampingan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai dunia usaha, literasi keuangan, dan dinamika dunia kerja.
Di akhir program, bisnis pelajar terbaik berkesempatan mengikuti kompetisi tingkat regional dan nasional. Bahkan, peserta yang unggul dapat melanjutkan perjalanan mereka hingga kompetisi kewirausahaan pelajar tingkat internasional.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menilai pengalaman menjalankan usaha secara langsung menjadi sarana penting bagi siswa untuk mengembangkan pola pikir kewirausahaan sekaligus keterampilan masa depan.
“Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai. Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan,” ujarnya.
Melalui fase kedua program, Zurich Entrepreneurship Program menargetkan dapat menjangkau 16.975 siswa hingga 2028. Target tersebut diharapkan memperluas akses generasi muda terhadap pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman yang semakin relevan dengan kebutuhan ekonomi digital dan dunia kerja masa depan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















