Hal senda disampaikan Muradi untuk menyikapi tumbangnya jagoan dari Partai Gerindra di Pilwakot Bandung. Menurutnya, figur Dhani Wiriadinata yang disodorkan oleh Gerindra untuk mendampingi Haru Suandharu tidak memberikan efek kejut atau lainnya.
Langkah ini menurutnya bisa menjadi catatan yang harus dievaluasi oleh Partai Gerindra. Duet keduanya justru banyak dinilai oleh publik kurang pas.
"Publik dalam kondisi normal ini akan lebih memilih yang mereka kenal. Otomatis harus jadi bahan evaluasi, karena posisi dari calon internal ini. Sementara pemilih memilih bukan karena partai politik," katanya.
Dengan memunculkan kader yang tepat dan banyak dikenal oleh masyarakat Kota Bandung, seharusnya bisa turut mengatrol suara.
"Contoh kader terbaik Gerindra di Bandung siapa? Bukan Dhani, kenapa gak kader seperti Tony Wijaya. Jadi bukan Dhani yang masih muda, ya walaupun bekas asisten Pak Prabowo. Sementara saya lihat PKS tidak bekerja efektif di Kota Bandung," kata dia.
Lebih jauh, Muradi mengingatkan, evaluasi secara menyeluruh di internal partai PKS dan Gerindra ini perlu dilakukan setelah real count yang ditetapkan oleh KPU Kota Bandung nantinya. Terutama PKS yang harus melakukan konsolidasi untuk Pilwakot Bandung periode selanjutnya.
Terlebih, PKS sendiri kini sudah gabung dalam Koalisi Indonesia Maju, hal ini menurutnya harus lebih diperhatikan, karena bisa jadi masyarakat menilai PKS bukan lagi partai militan.
"Publik tidak lagi mengenal PKS sebagai partai militan. Efek negatif kuat, karena karakter dari PKS itu sama kuat kayak PDI Perjuangan. Melawannya kuat," kata dia.