Polrestabes Bandung Satukan Laporan Intelijen dalam Sistem Digital

- Polrestabes Bandung menguji coba INTI KRESNA, sistem digital untuk menyatukan laporan intelijen yang sebelumnya tersebar agar lebih mudah diarsipkan, ditelusuri, dan dimanfaatkan.
- Kapolrestabes Bandung menilai sistem terintegrasi dapat membantu pimpinan membaca perkembangan kamtibmas dan mengambil keputusan; pengembangannya masih tahap awal serta akan disempurnakan.
- INTI KRESNA dirancang mempercepat arus informasi, keterlacakan, deteksi dini, dan peringatan dini, sekaligus menerima masukan satuan serta informasi dari stakeholder eksternal.
Bandung, IDN Times – Polrestabes Bandung mulai membenahi tata kelola pelaporan intelijen melalui sistem digital bernama INTI KRESNA. Sistem yang dikembangkan Sat Intelkam Polrestabes Bandung itu diharapkan dapat menghimpun laporan intelijen yang selama ini tersebar sehingga lebih mudah diarsipkan, ditelusuri, dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Uji coba sistem tersebut dilakukan pada Kamis (8/10/2026). Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Dedi Supriyadi menyebut kehadiran platform digital ini menjadi langkah awal untuk memperbaiki pengelolaan informasi intelijen di lingkungan Polrestabes Bandung.
Menurutnya, laporan intelijen yang sebelumnya belum terkelola secara terintegrasi perlu dihimpun dalam satu sistem agar lebih efektif dan efisien.
"Laporan lebih efektif dan efisien dimasukkan dalam satu sistem ini. Saya mengucapkan terima kasih atas pemikiran dan upaya Pak Hunter beserta tim," kata Dedi.
1. Diharapkan membantu pimpinan mengambil keputusan

Dok.Istimewa Dedi menilai pengelolaan laporan secara digital akan memudahkan pimpinan saat membutuhkan informasi sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Dengan sistem yang terintegrasi, laporan intelijen tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat diakses kembali ketika diperlukan untuk membaca perkembangan situasi kamtibmas.
"Harapannya laporan intelijen dapat diarsipkan dengan baik sehingga bisa membantu saya mengambil keputusan," ujarnya.
Ia menegaskan, INTI KRESNA masih berada dalam tahap awal pengembangan. Karena itu, sistem tersebut tidak dituntut langsung sempurna, melainkan akan terus disempurnakan berdasarkan kebutuhan dan pengalaman penggunaan di lapangan.
"Ke depannya tentu nanti disampaikan, sistem ini bukan harus sempurna saat ini, tapi ini awal mula. Namanya proyek perubahan, yang tadinya carut-marut menjadi ada gagasan dan ide dalam menuangkan aktualisasi," kata Dedi.
2. Kasat lain diminta ikut memberi masukan

Dok.Istimewa Dalam tahap uji coba, Kapolrestabes juga meminta para kepala satuan di lingkungan Polrestabes Bandung memberikan masukan terhadap sistem yang sedang dikembangkan tersebut.
Menurut Dedi, keterlibatan berbagai satuan diperlukan agar INTI KRESNA tidak hanya menjawab kebutuhan Sat Intelkam, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi organisasi.
"Dari kasat yang lain silakan memberikan input, memberikan masukan yang lebih berguna. Saya kira ini gagasan yang bisa diubah," katanya.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek perubahan semata, tetapi dapat berkembang menjadi sistem yang berkelanjutan dan terus digunakan dalam mendukung tugas kepolisian.
3. Dirancang mempercepat arus informasi intelijen

Dok.Istimewa INTI KRESNA merupakan inovasi yang digagas Kasat Intelkam Polrestabes Bandung AKBP Hunter Spionator sebagai bagian dari upaya digitalisasi tata kelola pelaporan intelijen.
Hunter menjelaskan, sistem tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana administrasi elektronik, tetapi juga dirancang untuk mempercepat arus informasi, meningkatkan keterlacakan produk intelijen, serta mendukung fungsi deteksi dini dan peringatan dini.
"INTI KRESNA mempercepat arus informasi, meningkatkan keterlacakan produk intelijen, serta mendukung deteksi dini dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan," ujar Hunter.
Selain digunakan untuk kebutuhan internal, sistem tersebut juga menyediakan saluran bagi stakeholder eksternal untuk menyampaikan informasi kepada Sat Intelkam Polrestabes Bandung. Informasi yang masuk nantinya dapat menjadi bahan analisis dan pemetaan situasi kamtibmas.
Menurut Hunter, tahap piloting menjadi fase penting sebelum sistem diterapkan lebih luas. Evaluasi akan dilakukan terhadap fungsi sistem, keamanan informasi, hingga kemudahan penggunaan oleh personel agar INTI KRESNA benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.




















