Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Peta Jalan Masa Depan Indonesia di Balik Kemitraan Strategis RI–Korsel
Pesawat tempur KF-21 Boramae, hasil kerja sama Indonesia dan Korea Selatan. (dok. Korea Aerospace Industries)
  • Kerja sama strategis RI–Korsel mencakup pertahanan, teknologi, AI, dan pengembangan SDM sebagai langkah memperkuat daya saing nasional di tengah dinamika geopolitik global.
  • Proyek KF-21 Boramae menjadi simbol penting transfer teknologi dan pembelajaran industri pertahanan modern yang kini menitikberatkan pada AI serta keamanan siber.
  • Keberhasilan kemitraan RI–Korsel bergantung pada kualitas SDM yang mampu menjembatani kolaborasi lintas budaya, menguasai teknologi, dan menerjemahkan kerja sama menjadi kapasitas nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Di tengah persaingan geopolitik yang makin kompleks, kerja sama antarnegara tak lagi cukup dibaca sebagai hubungan diplomatik biasa. Hari ini, kemitraan strategis lebih dari sekadar urusan perjanjian bilateral. Ia menjadi jalur penting untuk membangun kekuatan nasional, mempercepat penguasaan teknologi, dan menentukan posisi sebuah negara di masa depan.

Dalam konteks itu, hubungan Indonesia dan Korea Selatan layak dibaca lebih serius. Kerja sama dua negara ini bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga menyangkut kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, industri masa depan, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM). Artinya, kemitraan RI–Korsel bukan sekadar hubungan luar negeri, melainkan bagian dari strategi besar Indonesia untuk memperkuat daya saing nasional.

Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University, Curie Maharani, menilai Korea Selatan punya nilai strategis penting bagi Indonesia. Menurut dia, di tengah perubahan lanskap keamanan Indo-Pasifik, kemitraan dengan Korsel bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk memperkuat industri pertahanan, mempercepat transfer teknologi, dan membangun fondasi SDM yang lebih siap menghadapi tantangan global.

Korea Selatan bukan sekadar mitra, tapi pintu masuk teknologi strategis

Bendera Indonesia dan Korsel di bodi KF-21 (indonesia.postsen.com)

Curie Maharani melihat Korea Selatan sebagai mitra yang relevan bagi Indonesia, terutama dalam upaya memperkuat posisi nasional di tengah kompetisi global. Menurut dia, meski Indonesia dan Korea Selatan sama-sama bukan pemain utama dalam inovasi teknologi pertahanan dunia, Seoul tetap punya nilai strategis yang besar bagi Jakarta.

“Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemadu utama, dan kolaborator norma,” ujar Curie.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa kerja sama RI–Korsel bukan sekadar soal membeli teknologi, tetapi juga soal membangun kapasitas. Korea Selatan bisa menjadi jalur realistis bagi Indonesia untuk mengakses teknologi berstandar tinggi, tanpa harus bergantung penuh pada negara-negara Barat.

Bagi Indonesia, ini penting. Sebab dalam persaingan global hari ini, negara tidak cukup hanya menjadi pasar. Negara harus bisa naik kelas menjadi bagian dari rantai pasok, produksi, dan inovasi. Di titik inilah kemitraan RI–Korsel menjadi strategis: membuka jalan agar Indonesia tak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga ikut membangun dan mengembangkannya.

Pertahanan modern tak lagi soal senjata, tapi juga AI dan data

Ilustrasi Big Data. (Unsplash.com/Markus Spiske)

Kerja sama Indonesia dan Korea Selatan juga penting dibaca dari perubahan wajah pertahanan modern. Hari ini, kekuatan negara tak lagi ditentukan semata oleh jumlah alutsista, tetapi juga oleh kemampuan mengelola data, membaca ancaman digital, dan memanfaatkan AI secara cepat dan presisi.

Curie menyoroti proyek pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae sebagai contoh konkret pentingnya kerja sama strategis RI–Korsel. Meski proyek ini mengalami penyesuaian dari ekspektasi awal, ia menilai KF-21 tetap penting sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian industri pertahanan nasional.

“Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal,” kata Curie.

Namun, nilai utama proyek seperti KF-21 bukan hanya hasil akhirnya. Yang lebih penting adalah proses belajar di baliknya: transfer teknologi, pengalaman industri, dan pembentukan kapasitas nasional. Dalam jangka panjang, itu jauh lebih penting dibanding sekadar hasil proyek semata.

Curie juga menegaskan bahwa AI dan keamanan siber kini menjadi variabel utama dalam menentukan kekuatan nasional. Pengalaman konflik modern, seperti perang di Ukraina dan Gaza, menunjukkan bahwa AI dan sistem siber memberi keunggulan besar dalam pengumpulan data, analisis cepat, dan efisiensi operasi. Itu sebabnya, masa depan pertahanan Indonesia tak bisa lagi dilepaskan dari teknologi digital.

SDM dan diplomasi publik jadi fondasi utama keberhasilan kerja sama

Information Warfare: Communicative and Strategic Writing – July 9th, 2025. (Dok.Istimewa)

Di balik teknologi, pertahanan, dan sistem canggih, ada satu faktor yang tetap paling menentukan: manusia. Curie menegaskan, kemitraan strategis tidak akan berjalan efektif tanpa SDM yang mampu menjembatani pengetahuan, budaya kerja, dan proses alih teknologi.

“Bukan hanya meniscayakan keahlian dan pengetahuan SDM untuk menjembatani kolaborasi dan alih teknologi, tetapi juga rasa saling percaya dan memahami budaya kerja masing-masing bangsa,” ujar Curie.

Artinya, keberhasilan kerja sama RI–Korsel tidak hanya bergantung pada kesepakatan antarpemerintah, tetapi juga pada kesiapan manusianya. Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta yang paham teknologi, menguasai bahasa global, adaptif terhadap budaya kerja internasional, dan mampu menerjemahkan kolaborasi menjadi kapasitas nasional.

Pandangan itu sejalan dengan CEO sekaligus Co-Founder Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Dwi Sasongko. Menurut dia, kemitraan Indonesia–Korea Selatan adalah contoh nyata bagaimana hubungan internasional bisa menghasilkan dampak konkret.

“Kerja sama Indonesia–Korsel menjadi contoh konkret bagaimana kemitraan internasional dapat mendorong penguatan industri pertahanan, pengembangan AI, keamanan siber, hingga peningkatan kapasitas SDM,” ujar Dwi.

Karena itu, masa depan Indonesia tak cukup dibangun lewat diplomasi formal semata. Ia harus dibangun lewat pengetahuan, kolaborasi, dan kesiapan manusia untuk mengelola perubahan. Dalam konteks itu, kemitraan RI–Korsel bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana Indonesia menyiapkan dirinya untuk masa depan.

Editorial Team